Before You Judge

7a61d47075224ee8f543dfc32c2de984--nobody-is-perfect-quotes-judgement-quotesHanya karena seseorang lahir dan besar di kota, bukan berarti dia anak manja.

Hanya karena seseorang ketika masih berstatus single tidak bisa masak, bukan berarti setelah menikah dia tidak memasak untuk suami.

Hanya karena seseorang ketika masih berstatus single jarang pegang kain pel, mencuci piring dll bukan berarti setelah menikah dia tidak bersedia melakukan pekerjaan rumah tangga.

itu kan hanya stereotype orang-orang berpikiran sempit!

Dan sebelum menghakimi seseorang lebih baik berkaca, sudah lebih baikkah Anda? Sudah siapkah Anda dikritik oleh orang lain?

 

Advertisements

Out of The Blue (3)

AMIRA duduk termangu di depan meja riasnya. Memandangi wajahnya dalam-dalam di depan cermin. Dia sudah mandi dan rapi. Wajahnya tampak didandani sederhana, hanya memakai lip gloss dan bedak tipis. Mahkotanya dibiarkan terurai panjang menutupi bahunya. Kalung emerald yang masih dengan setia menggantung di lehernya, dipandanginya dalam-dalam.

Jika aku besar nanti dan berpisah darimu, akan lebih mudah buatku mengenalimu dari kalung ini.

Kata-kata Isa berkelebat dalam benak Amira. Ia mencoba mengatur napas dan menghentikan air mata yang perlahan menggenang dan memaksa keluar dari sudut-sudut matanya. Ia menatap kalung itu muram lalu memutuskan menanggalkannya.

Sepanjang perjalanan, Amira tak dapat mengelak dari pikirannya yang menerka-nerka seperti apa pria yang dijodohkan Anna untuknya. Foto profil pria itu sama sekali tidak membantu, sebuah foto yang diambil di pelataran City Hall. Berdiri memunggungi kamera menghadap sungai Thames. Anna berkata bahwa pria itu mengenakan Polo shirt hitam dan celana denim biru.

06283320d4b0c167081698071f8c2749Sambil menunggu kedatangan pria itu, Amira duduk di bangku taman Hyde sembari membaca buku. Keheningan yang hanya ditemani oleh kicauan burung, suara gemericik air, pepohonan yang berderet di sepanjang jalan setapak serta hembusan angin yang mengibaskan rambut panjangnya, memberikan kesan damai dalam hatinya.

Menit demi menit berlalu. Amira semakin larut dalam bacaannya. Tak terasa sudah hampir setengah jam ia duduk menunggu, namun laki-laki itu belum juga menampakan batang hidungnya. Amira melirik jam di tangannya dan agak kecewa. Seharusnya laki-laki itu tiba lebih awal darinya, tidak membuatnya menunggu seperti ini. Rasa kecewa itu perlahan membukit menjadi amarah.

Amira mulai gusar. Kembali melirik kesal jam di tangannya. Cukup. Dia tidak ingin menunggu lagi. Gadis itu segera bangkit dari duduknya sambil mengutuk dirinya sendiri ketika melangkah pergi meninggalkan bangku taman. Dia memasukkan buku yang barusan dibacanya ke dalam tas tanpa memperhatikan jalan lalu menabrak Aditya yang berjalan mundur terburu-buru ke arahnya. Dikarenakan tabrakan itu cukup keras, gadis itu kehilangan keseimbangan dan hampir saja terjatuh. Beruntungnya dia tidak jadi jatuh, namun sialnya hak sandal yang dikenakannya patah.

Amira langsung melotot dan memekap wajah. “Aa! My Jimmy Choo!”

“S-sorry, sorry. I’m really sorry.” ujar Aditya sembari menundukkan kepala satu dua kali, tanpa benar-benar memandang wajah seseorang di hadapannya. Setelah meminta maaf, dengan percaya diri, Aditya melenggang pergi tanpa dosa.

Amira membeku. Ia dapat merasakan jantungnya berdenyut menunjukan tanda-tanda kehidupan. Sesuatu bagai sengatan listrik mengalir dalam tubuhnya. Gadis itu memutar tubuh pelan. Mengamati sosok pemuda yang membelakanginya. Bumi seolah sunyi, diam tak berputar pada porosnya. Angin berhenti berdesir sehingga ia dapat mendengar dan merasakan degup jantungnya sendiri. Gadis itu seperti terhipnotis dan tanpa sadar kakinya melangkah mendekati pemuda itu.

Aditya terdiam mematung. Matanya mengerjap-ngerjap, membaca makna. Berdesir hangat jantung hatinya. Sementara bagian dirinya yang lain merasakan firasat yang rumit. Ia berbalik dan mendapati gadis itu sudah berdiri tepat di hadapannya.

Mata keduanya pun bertemu. Dalam sekejap, suasana hati Amira yang panas dan ingin menceramahi Aditya mendadak beku. Mata gadis itu bergerak-gerak kecil, meneliti wajah laki-laki di hadapannya lekat-lekat. Emosi hangat menjalari dadanya. Seperti menemukan kembali sesuatu yang pernah hilang dari kehidupannya. Suatu perasaan yang hidup diiringi udara segar mengisi rongga paru-parunya. Angin yang berhembus pun terasa harum. Langit biru tampak lebih cerah dari biasanya. Burung-burung berkicau seolah memberi salam atas pertemuan mereka.

Aditya terpaku. Seorang gadis cantik dengan rambut hitam merelap bagai mutiara membuatnya tertegun. Kulitnya putih berseri bagai marmer Taj Mahal. Parasnya sungguh cantik bagai bidadari. Dipandanginya wajah gadis itu lekat. Melihat refleksi dirinya pada bola mata gadis itu walau samar berkaca-kaca. Detak jantungnya pelan berirama. Sepasang mata indah seolah menyihirnya dan tak kuasa mengalihkan pandangan dari gadis itu, meski ia berusaha keras.

Pemuda ini. Pemuda yang sama yang pernah Amira temui di penyeberangan jalan beberapa hari yang lalu. Pemuda yang sempat membuat darahnya membeku. Pemuda yang membuat dunianya seakan berputar lambat atau bahkan berhenti. Amira tersadar bahwa pertemuannya dengan pemuda yang sempat ia panggil Isa ini benar-benar nyata. Berdiri di hadapannya.

“Who… are you?” Amira mendapati dirinya bersuara.

Sorot mata gadis itu membuat Aditya bertanya-tanya. Entah bagaimana, gadis itu menjelma menjadi sosok yang tampak tidak asing baginya. Kenapa ia merasa pernah menatap mata itu sebelumnya?

“Hello,” Amira menggerak-gerakkan tangannya pelan di depan wajah Aditya.

Aditya mengerjap kaget seolah ruhnya baru kembali masuk ke dalam tubuh. Dia tergagap dan kesulitan menjawab. Suaranya mendadak tertelan di tenggorokan bersama dengan hatinya yang luruh dalam kekaguman. Kepala gadis itu tertunduk. Aditya mendengar gadis itu menghela napas berat sembari mengusap sisi kepalanya lalu bergumam sedih,

“Aku pasti sudah gila,”

Dahi Aditya berkerut. Ia memiringkan kepalanya lalu bertanya, “Kau bilang apa?”

Amira cukup terkejut mendengar pertanyaan itu. Ia mengangkat wajah lalu mengarahkan pandangannya kembali kepada laki-laki itu.

“Kau─kau mengerti bahasaku?” tanyanya agak tergagap.

Aditya tertawa pendek kemudian berkata, “Kau bertanya seolah-olah aku ini alien. Tentu saja aku mengerti. Lagipula bukannya seharusnya aku yang terkejut karena kau sama sekali tidak mirip orang Indonesia.”

Amira terbelalak menatap wajah penuh senyum itu. Sekelebat bayangan wajah Isa memenuhi pelupuk matanya. Menghadirkan sejumlah pertanyaan yang melintas dalam benaknya, tetapi ia mencegah lisannya untuk bertanya dengan mengabaikan perasaannya. “Kalau begitu aku tidak perlu repot-repot menegurmu dengan bahasa Inggris. Now, please say sorry,”

Aditya mengerjap tidak mengerti, “Untuk apa?”

“Untuk apa?” ujar Amira datar setengah heran. Dia memaksakan tawa sumbang lalu melepas sandal high heels-nya yang patah. “Lihat, kau baru saja mematahkan sandal Jimmy Choo-ku dan sekarang kau malah bertanya ‘untuk apa?’” Sekilas terlihat gurat heran di wajah Amira, membuat Aditya sekali lagi tertegun.

“Oh maaf, aku tidak sengaja.” ucap Aditya menyadari. “Lalu─kau mau aku bagaimana? Mau aku belikan yang baru?”

Amira memundurkan wajahnya sedikit, mengernyitkan dahi. Dia tidak mengerti dengan dirinya sendiri. Bukankah seharusnya ada amarah yang menggebu-gebu karena sandal kesayangannya patah, tetapi kenapa sekarang dia malah melunak? Apa karena senyuman itu?

“T-tidak perlu.” jawabnya tergagap. Ia menelan ludah dengan susah payah dan sebaiknya pergi menjauhi laki-laki itu. Ada perasaan takut yang tiba-tiba menyerangnya begitu melihat wajah Aditya. Pipinya menghangat dan jantungnya berdebar. Sungguh, ini petaka baginya. Amira segera berbalik dan mulai melangkah pergi meninggalkan Aditya.

Melalui punggung gadis itu, Aditya dapat melihat gadis itu tengah berjalan timpang meninggalkannya dengan hak sandal yang patah. Rasa cemas yang tak diundang merayapi dirinya. Jika ia tidak menghentikan gadis itu sekarang juga, kemungkinan ia tidak akan melihatnya lagi. Sambil merenung, ia memperhatikan gadis itu mengenakan gaun hijau di atas lutut. Salah satu dress code kencan buta untuk bertemu dengannya di Hyde Park. Kakinya melangkah tanpa disuruh, tubuhnya seolah terdorong untuk mengikuti.

“Amira?” panggilnya ragu namun cukup membuat langkah gadis itu tertahan.

Panggilan itu sontak menghentikan langkah Amira. Pelan ia memutar tubuh, menatap laki-laki di depannya dengan bingung. “Ba-bagaimana kau bisa tahu namaku?” tanyanya ditengah kebingungannya saat itu.

Aditya lalu berjalan menghampiri dan memperhatikan liontin kupu-kupu kecil yang melingkari leher Amira saat itu. “Green dress and butterfly necklace. It is you.” ujarnya seraya menyelipkan kedua tangan ke dalam saku, mengangkat bahu tersenyum tipis. Raut wajah Amira semakin tidak mengerti, sampai Aditya menyudahi kebingungan yang bergelayut di dalam benak gadis itu seraya mengulurkan sebelah tangan dan berkata,

“Aku Aditya Hariz. Please to meet you.”

Mata Amira melebar kaget. Dia mengamati Aditya dari atas kepala sampai ke ujung kaki. Bulu matanya yang lentik bergerak-gerak. Sosok laki-laki berambut hitam tebal dengan potongan poni jatuh tidak beraturan, berkulit coklat kemerahan, berlesung pipi, mengenakan kaus Polo hitam berkerah dengan celana jeans belel dan sepatu Nike putih. Dari pandangan itu, Amira hanya ingin memastikan bahwa laki-laki di depannya benar-benar laki-laki yang ditunggunya sejak tadi.

Aditya tersenyum. “I’m Aditya Hariz. Sorry for coming late.” katanya sopan sambil menggerakkan tangan yang masih terulur, mengundang gadis itu menjabat tangannya.

Aditya mendapati Amira mengerjap, seolah baru tersadar dari lamunan. Perlahan-lahan Amira menghembuskan napas yang ditahannya sejak tadi. Dia menunduk dan menatap tangan yang terulur itu. Dengan sedikit canggung, dia menyambut uluran tangan Aditya kemudian berkata,

“A-aku… Amira Shiba,”

Out of The Blue (2)

Di luar sedang hujan ketika Amira menikmati acara televisi di ruang duduk apartemennya. Mulutnya sibuk mengunyah buah Pear yang dipotong-potong kecil dengan saus karamel. Sementara Anna sibuk dengan iMac-nya, berselancar di dunia maya.

Amira terheran-heran mendapati Anna sudah satu jam lebih tidak beranjak dari meja komputer. “Kau sedang apa?”

2387c58e0fdb909e74669610d4c45117

“Mencari calon ayah untuk anak-anakmu.” sahut Anna datar tanpa mengalihkan pandangan dari komputer.

Amira mendengus geli menanggapi kata-kata Anna barusan, lalu menggeleng tidak peduli. Gadis itu kembali mengalihkan perhatiannya ke televisi.

“Wah!” tiba-tiba Anna berseru girang. Matanya melebar antusias. “Ada yang ingin bertemu denganmu!” katanya penuh semangat menatap layar komputer hingga raut wajahnya yang penuh keceriaan tampak jelas.

Satu tahun lima bulan sudah, Anna membuat akun di situs londonmate.com atas nama Amira, berikut dengan foto profilnya, hanya saja wanita berkacamata itulah yang selama ini mengelola akun milik Amira.

Alis Amira menggantung keheranan. Matanya melirik Anna sekilas, lalu kembali menonton televisi. Kali ini pria seperti apa lagi yang mau dia jodohkan untukku? batinnya. Perjodohoan online itu membawa pikirannya bergerak mundur kepada tahun yang melelahkan.

Ethan. Laki-laki yang pertama kali berkencan dengan Amira ini bahkan sampai tidak bisa berkedip, mulutnya pun terbuka ketika memandang Amira. Setiap kali diajak bicara, laki-laki bodoh itu hanya menjawab ‘ya’ untuk semua pertanyaan. Sama sekali tidak menarik. Skip.

Lucas. Laki-laki gagah. Parasnya pun cukup tampan untuk orang Eropa. Postur tubuhnya tinggi besar, berkulit putih dengan rona merah di pipi. Selain gagah dan percaya diri, dia juga seorang pengacara muda yang karismatik, namun sayangnya, dia merasa jenuh menjalani hubungan dengan Amira, hingga akhirnya hubungan membosankan itu hanya bertahan selama tiga bulan. Next.

James Allen. Mulanya, tidak ada yang salah dengannya. Dia tampak normal seperti kebanyakan pria normal lainnya. Pembawaan yang charming juga sikapnya yang menyenangkan menjadi nilai tambah untuknya. Dia juga pandai menghibur hati Amira dengan kata-katanya. Laki-laki ini dapat dikatakan nyaris sempurna, dia sangat mencintai Amira. Tetapi cinta James berubah menjadi obsesi setelah sepuluh bulan lamanya mereka berkencan. James terobsesi untuk memiliki Amira ‘seutuhnya’. Dan itu membuat Amira berang. Amira menghindari James sejak laki-laki itu menyudutkannya dengan kasar ke dinding hingga kepalanya terbentur keras dan nyaris pingsan. Dengan liar laki-laki itu menjamah tubuhnya dan menciumnya dengan paksa.

Anna, wanita berkacamata itu membaca deretan kalimat berbahasa Inggris yang tertera di layar. “Dia mencari wanita yang jujur dan independen. Dia tidak menyukai wanita yang terlalu lengket dan manja. Dia lebih suka wanita yang bisa memahami, bisa menerima dia apa adanya dan bersedia untuk melakukan sedikit penyesuaian diri. Wanita yang bisa berbagi suka dan duka. Menarik bukan?” liriknya pada Amira. “Jadi bagaimana menurutmu?”

“Aku tidak tahu.” Amira mengangkat bahu. Sama sekali tidak menunjukan ketertarikan. Dan beberapa saat kemudian Anna mengucapkan kalimat andalannya,

“Hmmm, aku punya firasat baik tentangnya.”

 

Out of The Blue

8e3ff20dba018df34fbfefaa4e49cc3c

Arlan Hariz duduk di depan komputernya. Masih dengan kemeja, lengkap dengan dasi yang terikat di lehernya. Alisnya berkerut samar, menatap layar komputer dengan mata menyipit. Tangan kanannya menggerak-gerakkan kursor. Cahaya dari komputer menyinari wajahnya. Laki-laki berbahu tegap itu perlahan melonggarkan dasi yang terasa mencekik lehernya. Dia menyempatkan diri membuka situs londonmate.com di waktu luang. Sebuah situs perjodohan yang sudah akrab di telinga masyarakat London. Sebuah situs yang memang ditujukan untuk mereka yang membutuhkan pasangan. Arlan dianjurkan oleh salah seorang temannya yang cukup dekat dengannya di kantor. Namanya Peter. Pria kulit putih asal Amerika yang sudah cukup lama bekerja di Inggris.

Sedari awal Arlan sudah menegaskan keinginannya untuk mencari pasangan berparas Asia. Dia sama sekali tidak tertarik dengan orang Eropa. Dia berharap istrinya kelak adalah orang Asia. Seperti ibunya.

You don’t have to worry. They have a bunch of Asian girls.” terang Peter selagi makan siang bersama di kantor. Pada mulanya Arlan tidak tertarik untuk mencari jodoh di sebuah situs perjodohan. Kedengarannya konyol. Ia merasa seperti laki-laki putus asa yang tidak punya daya tarik. Laki-laki yang jangankan wanita mencintai, melirik saja tidak. Namun rasanya tidak ada salahnya mencoba, bukan? Kesibukannya di kantor melebihi jam kerja orang pada umumnya. Atasannya seorang teroris, begitulah Arlan menjulukinya. Emosinya mudah meledak-ledak jika keinginannya tidak segera dituruti. Gaya hidupnya amat bergengsi. Tinggal di sebuah apartemen mewah. Berpakaian serba branded dan perfeksionis. High heels-nya terasa ngilu di telinga bila dia memasuki ruangan. Selalu menuntut banyak hal untuk melakukan ini dan itu meskipun itu bukan urusan kantor.

Dan malam ini, Arlan sedikit lega. Ponselnya belum berdering sejak tadi sore. Biasanya ponselnya selalu penuh dengan pesan singkat berupa perintah yang lebih mirip ancaman ataupun panggilan-panggilan masuk. Arlan memilih tetap bertahan dengan kondisi seperti itu karena impiannya menjadi seorang editor. Tidak jarang dia mengutuk atasannya yang lebih mirip naga betina itu karena kesal. Namun kembali lagi, impiannya ingin menjadi seorang editor. Dan dia sangat berharap atasannya akan mempertimbangkannya.

Malam itu Arlan membuka beberapa pesan yang masuk ke inbox-nya. Beberapa gadis mengajaknya berkenalan, bahkan ada juga yang langsung mengajaknya berkencan. Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang Inggris. Arlan memiliki paras menawan dan karismatik. Tinggi badannya melebihi standar tinggi badan orang Asia pada umumnya. Dia tidak tertarik dengan beberapa gadis itu lantas mengabaikan pesan-pesan yang masuk tanpa membukanya lebih dulu. Kursornya terus digerakkan ke bawah. Melihat pesan-pesan lain yang masuk. Dari sekian banyak pesan yang masuk, ada sebaris kalimat yang menarik perhatiannya. Pesan berbahasa ibunya. Bahasa Indonesia. Belum sempat membacanya, ponselnya berdering.

Mimpi buruk. Itu pasti si naga betina yang meneleponnya malam-malam begini. “Sial!” umpatnya begitu melihat layar ponselnya. Dugannya benar.

Naga Betina.

“Yes?” jawabnya usai menempelkan ponsel ke telinga.

“Kau dimana?” balas wanita di ponsel itu dengan suara terburu-buru.

Arlan meletakkan sikunya di atas meja seraya memijit-mijit kepalanya yang seketika berdenyut-denyut. Mau apa lagi dia sekarang??

“Di rumah. Ada apa?” jawabnya malas.

“Ada makan malam dengan Nigel, Richard dan Olivia. Jangan komplain! Saya tahu kau sudah menggeser jadwal makan malam itu minggu depan. Tapi sepertinya orang-orang ini tidak butuh istirahat. Sebaiknya kau datang. Dampingi saya. Saya tidak suka pergi sendiri dan berhadapan dengan mereka. Kau tahu kan mereka banyak berbasa-basi yang tidak perlu. Kalau ada kau, kau bisa meladeni mereka.” terang wanita bernama Louise itu tanpa basa-basi. Sebenarnya Arlan tidak perlu datang, namun Louise paling tidak suka berbasa-basi terlalu lama dengan siapapun itu. Semuanya serba terus terang. Dia selalu mengandalkan Arlan untuk mendampinginya berhadapan dengan bos-bos besar yang berpengaruh kuat bagi kelangsungan karirnya di kantor. Memerintah orang seenaknya demi kelangsungan karirnya, bukankah itu sangat egois?

“Saya tunggu di lobi kantor setengah jam lagi. Ingat! Kau tidak dibayar untuk datang terlambat.” perintah Louise tanpa mendengar komentar Arlan terlebih dahulu. Hubungan telepon pun diputus Louise sepihak. Arlan bahkan baru akan membuka mulut untuk berkomentar.

Arlan menutup matanya rapat-rapat. Memijit-mijit batang hidungnya dengan frustasi. Tanduk merah seolah ingin keluar dari kepalanya. Dia sudah tidak tahan ingin melepaskan jubah kesabarannya. Panggilan itu berhasil merusak suasana hatinya. Seluruh tubuhnya terasa gatal-gatal jika mendengar suara atasannya yang bernama Louise. Alergi.

“Semoga dalam perjalanan, you hit by a god damn truck sampai tubuhmu tidak bisa dikenali!” kutuknya selagi ponsel itu masih menempel di telinga.

“Siapa yang kau kutuk?” tanya Aditya heran sembari mengeringkan rambutnya dengan handuk. Dia baru saja keluar dari kamar mandi. Rambutnya basah habis keramas. Dia menghampiri kakaknya yang tampak frutrasi di depan komputer.

Arlan diam saja. Dia malas menjawab. Suasana hatinya langsung buruk seketika. Wajahnya memberengut dan segera bangkit dari duduknya. Dia kembali mengikat dasi yang longgar di lehernya. Memasukkan kembali kemejanya yang sudah keluar-luar dari celana, lalu menurunkan lipatan kemejanya dari lengan.

“Aku pergi dulu. Masih ada urusan.” jawabnya ketus. Arlan menyambar jasnya yang disampirkan dikursi depan meja komputer. Sambil menggerutu tidak jelas, dia berjalan menuju pintu apartemennya. “Jangan lupa matikan lampunya sebelum tidur!” pesannya dengan wajah masam lalu menutup pintu.

Aditya terpekur melihat raut wajah kakaknya yang tampak tertekan itu. Dia belum sempat bertanya ada apa, Arlan sudah beranjak pergi meninggalkannya. “Kenapa dia?” gumamnya pelan, mengeringkan kembali rambutnya yang masih basah dengan handuk. Ketika ingin berbalik menuju kamar, wajahnya disilaukan oleh layar komputer Arlan yang masih menyala. Laki-laki berlesung pipi itu segera membungkukkan badan lalu meraih kursor di sampingnya. Sepasang matanya menatap layar komputer di depannya. Sebaiknya aku Skype dengan Mama Papa saja, pikirnya.

Tunggu. Apa ini?

Aditya mendekatkan wajah ke layar komputer. Kedua alisnya bertaut. Londonmate.com? Ini pasti situs perjodohan yang pernah Arlan katakan. Senyumnya melebar dan dia pun terkekeh. Masih menganggap hal itu konyol. Kakaknya yang dikenalnya dewasa dan serius, bisa mendaftarkan diri di situs perjodohan. Sulit dipercaya. Sebelum dia menggerakkan kursor itu lebih ke bawah lagi, matanya menangkap sebuah nama.

Amira Shiba.

 

Him

AMIRA duduk termenung. Pikirannya kacau dan perasaannya sedih. Matanya menerawang jauh, menatap kosong pada sebuah jendela berkaca besar dengan pelipis kepala bagian kanan diplester dan lengan kiri menggantung kaku di dada. Gadis itu menyadari dengan sangat bahwa setiap bagian dirinya masih merindukan Isa hingga hari ini. Dia sangat merindukannya sampai tubuhnya terasa sakit.

Anna memandangi Amira dan menghembuskan napas dengan berat. “Kenapa kau selalu merenung seorang diri seperti itu?” ucapnya membuyarkan lamunan Amira. Gadis berkacamata itu sibuk mengemas baju-baju Amira setelah menginap empat hari di rumah sakit. “Kenapa kau tidak cederai saja kedua lenganmu??” sambungnya sinis. “Oh God! What happened to you, really?” dan kini terdengar frustasi. “Kenapa kau tidak melanjutkan hidupmu seperti orang normal lainnya?”

e162cacbfa05b46ed54dd4704adbf7adAmira melirik Anna dari balik bahunya tanpa benar-benar melihat. Teman satu apartemennya itu sibuk melipat pakaian kemudian memasukkannya ke dalam tas Puma hijau berukuran besar. Sudah empat hari Amira terbaring di rumah sakit semenjak kecelakaan lalu lintas itu. Kini keadaannya sudah membaik dan sudah diperbolehkan pulang atas izin dokter. Dapat Amira rasakan nada bicara Anna yang penuh emosi sekaligus khawatir, namun dia tidak punya tenaga untuk beradu argumen dengan Anna. Amira duduk di sana, sekali lagi menatap kosong pemandangan di luar rumah sakit tanpa berkomentar.

“Ya Tuhan!” Anna mengerang gemas. Gemas dengan sikap Amira yang bergeming bagai mayat hidup. Tubuhnya memang ada di sana, namun pikirannya entah berada dimana. Anna menghela napas panjang, meredakan emosi sebelum akhirnya ia mengambil tempat di samping Amira. “Baiklah, ceritakan padaku ada apa?”

Amira menoleh pelan ke arah Anna. Sudah beberapa hari ini, gadis itu tidak banyak bicara. Dia menjadi lebih diam dari sebelumnya. Ada guratan lelah di wajah Anna, mencoba memahami kegusaran yang dirasakan temannya ketika dia memandangnya.

Seulas senyum muram tersungging di bibir Amira dan ia berkata, “10 April. 10 April adalah hari ulang tahunnya. Jika Isa masih hidup, dia akan berulangtahun yang ke-34. Sebelum aku kecelakaan, aku sempat membayangkan bagaimana rupanya jika dia sudah dewasa. Dan kulihat dia di sana, begitu nyata.” Amira tertawa getir dan tanpa sadar menjatuhkan butiran air mata hangat dari pelupuk matanya. “Apa kau pernah merasa sakit sampai hatimu terasa berlubang? Sangat perih sampai kau bahkan sulit untuk bernapas… sangat hampa sampai kau merasa kakimu tidak lagi menyentuh tanah. Dadaku sangat sakit setiap kali mengingatnya. Aku ingin dia kembali. Tapi seberapa keras pun aku berharap, dia tidak akan kembali. Aku ingin melanjutkan hidupku sama sepertimu. Aku ingin bernapas tanpa harus merasa sakit.” ucapnya dengan nada memohon.

Anna terpekur dalam diam mendengarnya, melihat butiran air mata yang menetes perlahan dari sudut mata itu. Bibir Amira kering, terkelupas. Wajahnya sembab dan matanya cekung. Sungguh, gadis itu butuh bantuan.

“Ami, kau tahu apa yang terlintas dalam benakku saat pertama kali melihatmu? Aku tidak pernah melihat gadis menyedihkan sepertimu sebelumnya. Saat itu aku berpikir, apa yang sudah dunia perbuat padamu? Lalu aku melihatmu berdiri di atap kampus, menatap ke bawah tanpa merasa takut sedikitpun. Kau mengabaikan teriakanku saat aku memanggilmu. Dan dengan mata terbuka, kau mau menjatuhkan diri ke bawah. Kalau aku tidak segera menarik tanganmu, kau─” Anna menghentikan kata-katanya. Dia tidak sanggup melanjutkan. “Apa yang sudah kau lakukan itu tidak benar. Tidak benar.” katanya seraya menggeleng kecewa.

Anna melingkarkan kedua lengannya, mendekap Amira dari samping juga menyandarkan kepalanya. Tangannya mengusap-usap lengan Amira lembut, menguatkan. “Apa kau pikir Isa di sana akan bahagia melihatmu seperti ini?” tanyanya pada Amira. “Tidak,” Anna menggeleng. “Dia tidak akan bahagia. Yang perlu kau lakukan adalah menghapus kesedihannya di sana dengan menghapus air matamu di sini.” Dia tersenyum tegar menghibur hati temannya. “Kau sungguh tidak adil,”

Amira mengangkat wajahnya pelan ketika mendengar nada kecewa keluar dari mulut Anna. “Tidak adil?”

Anna melepaskan dekapannya lalu menghela napas panjang. “Ya, kau tidak adil. Kau selalu mengingat orang yang sudah tidak ada tetapi melupakan orang yang masih ada.” jawabnya dengan kerut muka sedikit kecewa. “Lalu bagaimana denganku? Apa kau tidak bahagia bersamaku?”

Amira tersenyum sendu. “Kau yang terbaik, Anna. Kau tahu itu.”

Anna melirik wajah Amira sekilas lalu berdiri di depan Amira beberapa saat. Dia membungkukkan badan sedikit, memandangi wajah temannya dalam-dalam kemudian berkata, “Tersenyumlah. Jangan memasang wajah sedih lagi di depanku. Aku benar-benar tidak tahan melihatnya.” ucapnya. “Kalau kau mau, kau bisa membuat pria manapun jatuh cinta padamu. Aku serius.”

Amira tersenyum hambar seraya mengusap sisa-sisa air matanya dengan punggung tangan. Dia menggeleng mendengar ucapan itu lalu meraih tas Puma di dekatnya. “Kau mulai lagi.” katanya datar lalu bangkit dari duduk kemudian berjalan pelan, meninggalkan ruang perawatan.

Anna mendengus tak percaya. “Memangnya kenapa? Apa salah jika aku selalu berusaha mencarikan pria yang tepat untukmu?” tanyanya sembari mengikuti langkah Amira di belakang. “Dengar, usia kita sudah kepala tiga. Wanita seusia kita seharusnya sudah punya dua anak.” lanjutnya mengingatkan. Gadis berkacamata itu sadar bahwa kebersamaannya dengan Amira tidak akan lama lagi. Suatu hari jika waktunya tiba, dia akan pergi. Menikah dengan pria pilihan ibunya. Harapannya hanya satu, sebelum dia pergi, Amira sudah memiliki pendamping. Meninggalkan Amira sendiri dan kesepian, sungguh, itu bukan hal bijak baginya.

“Kau terdengar seperti ibuku.” ucap Amira pada Anna. Gadis itu tetap berjalan tanpa memperlambat langkahnya meskipun Anna sedang mengajaknya bicara.

“Ya, ya, ya, masalahmu selalu saja sama.” gerutu Anna membuat langkah Amira terhenti.

Amira lantas berbalik menatap Anna kesal kemudian berkata, “Lalu bagaimana denganmu? Kau sendiri sampai saat ini belum menikah?”

Anna mengernyit, heran. Membalas pertanyaan Amira dengan nada sama tingginya, “Hey, jika aku menikah, lalu bagaimana denganmu? Apa kau bisa mengurus dirimu sendiri?!” katanya sembari berkacak pinggang. “Lihat dirimu di cermin. Banyak bekas luka dimana-mana! Kau selalu saja melamun dan memikirkan orang yang sudah tidak ada. Kegilaan ini harus dihentikan, Ami! Apa kau lupa dengan siapa ibumu menitipkanmu?” pertanyaan yang baru saja dilontarkan Anna membuat Amira tercengang. Amira membuka mulut hendak membantah, tetapi kemudian mengurungkan niat.

Hening.

Meskipun Anna sedikit cerewet dan selalu mengkhawatirkan Amira, namun dialah yang terbaik. Dia melakukan semua yang terbaik, bahkan melebihi kedudukannya sebagai seorang sahabat. Amira menatap Anna yang enggan balas menatapnya. Gadis itu kelihatan kesal, atau mungkin kecewa lebih tepatnya. Perlahan Amira berjalan mendekatinya lalu berucap dengan menyesal, “Maaf, aku- merepotkanmu.”

Anna menatap Amira pada akhirnya, meski ia masih agak kesal, tetapi pada akhirnya ia tersenyum.

“Kau tidak merepotkan, Ami. Kau hanya berhenti mencintai dirimu sendiri. Itu saja.”

When The Pain Cuts You Deep (3)

Mata Anna melebar kaget seolah ingin meloncat keluar. Jantungnya serasa ingin meledak sampai terasa sesak napas. She got crashed into a car. Kata-kata itu terus berdengung di telinganya. Dia menjatuhkan air mata ketika mendengar suara wanita di ponselnya yang terdengar meyakinkan.

Dengan langkah sedikit cepat, Anna menyusuri koridor panjang rumah sakit. Menyusuri kamar-kamar yang berjajar di kanan kiri koridor. Kepalanya berputar. Dia tidak pernah suka tempat itu. Dingin dan pucat. Baginya rumah sakit selalu membawa kesan negatif. Dia menabrak bahu orang yang berjalan berlawanan arah dengannya. Melempar pandangan ke sana kemari mencari ruangan tempat Amira dirawat. Resepsionis di lobi sudah memberitahukan dimana letak ruangannya, namun karena dia terlalu panik, ini menjadi tidak mudah. Kejadian tiga tahun yang lalu berulang. Keringat dingin mengucur deras. Anna tidak kuat lagi menerima kejutan-kejutan seperti ini. Darahnya seperti terpompa begitu cepat tanpa membiarkannya bernapas. Dimana? Dimana ruangannya? Sebelah tangannya menjambak rambutnya frustasi. Menggigit bibir cemas, kepalanya berputar ke sana kemari seperti orang linglung. Dan langkahnya pun terhenti. Menatap ruangan yang penuh dengan pencahayaan terang, ia menemukan sahabatnya sedang terbaring di dalamnya.

41da2309c39efec1ff5bbe12a17f3b19

Anna mengintip dari kaca kecil di pintu. Kakinya melangkah masuk ke dalam meski terasa berat. Jantungnya berdenyut pilu. Dia berharap agar Amira benar-benar tidak apa-apa seperti yang dikatakan wanita di telepon tadi. Seorang perawat berseragam biru yang sedang berdiri di dekat Amira berbaring, menoleh ke arahnya. Anna berdiri di samping Amira berbaring. Matanya menatap sosok yang terbaring tak berdaya di ranjang. Perawat menjelaskan bahwa keadaan Amira baik-baik saja. Semua organ tubuhnya masih berfungsi dengan baik. Hanya terdapat luka-luka memar di beberapa bagian tubuhnya. Perawat juga menjelaskan Amira beruntung mengenakan helem dalam kondisi baik sehingga kepalanya tidak terluka parah.

Usai memberikan penjelasan cukup detail, perawat akhirnya keluar dari ruangan dingin yang menusuk itu. Anna menghembuskan napas dengan lega. Kepanikan yang sempat menyerang pikirannya perlahan mereda. Gadis berkacamata itu berdiam diri di tepi ranjang seraya mengamati sosok Amira yang terbaring dengan mata terpejam. Kepala Amira terbalut perban dengan lengan kirinya dibebat rapat karena mengalami cedera. Kelihatannya Amira baik-baik saja. Napasnya teratur dan tidak ada luka yang mengerikan diwajahnya. Dadanya turun naik dengan teratur seiring dengan napasnya. Kelihatannya tenang dan damai.

“Sekali lagi kau seperti ini, aku bisa terkena serangan jantung.” lirih Anna pada Amira yang sedang tertidur. “Apa yang kau pikirkan?” Anna mengusap wajahnya yang tampak kacau. “Apa yang harus aku katakan pada orangtuamu nanti? Ya Tuhan…”

When The Pain Cuts You Deep (2)

Hari sudah sore ketika Amira keluar dari Purple House. Dia sudah berganti busana kasual, mengenakan tank top putih polos dengan penambahan blazer oranye di bawah siku dan skinny jeans biru cerah yang dipadukan dengan flat shoes yang nyaman.

955b39fa21ae691d2bc42b6857ccc8a4Dia berjalan menghampiri Roma, retro scooter yang selalu diparkir di samping butik. Di dekat butiknya memang tidak terdapat basement untuk parkiran mobil ataupun motor. Di sana hanya terdapat fasilitas parkir yang sudah diatur sedemikian rapi di tiap-tiap depan gedung khusus kendaraan beroda empat. Lagipula tidak biasa dia mengendarai mobil kemana-mana. Dia lebih suka retro scooter kesayangannya yang berwarna Mocca itu.

Tak perlu menunggu lama, Roma sudah melaju meninggalkan kawasan New Cavendish St. Jalanan tidak terlalu ramai. Lenggang. Semburat mega kemerahan mulai menghiasi langit. Lampu-lampu di sekitar jalan pun sudah dinyalakan. Amira menikmati suasana di sekitar jalan yang semakin menampakkan keremajaannya. Sungguh membuat iri. Manusia bertambah tua, sementara kota ini semakin muda saja. Angin musim semi membelai lembut permukaan kulit wajahnya. Dia mengemudikan Roma dengan kecepatan wajar karena perjalanan menuju Ladbroke Grove hanya memakan waktu kurang dari dua puluh menit. Setelah melewati Marylebone Road, retro scooter manis itu terus melintas di atas jembatan layang Marylebone menuju Harrow Road.

Di perempatan Harrow Road, Amira menghentikan retro scooter-nya begitu lampu merah menyala. Beberapa orang berdiri tak beraturan, menunggu giliran untuk menyebrang, mulai melintas satu per satu menyeberangi zebra cross di depannya tanpa tergesa-gesa. Sepasang matanya sesekali mengamati lampu merah yang sesaat kemudian akan berubah menjadi hijau. Namun dalam penantiannya itu, tampak seorang pemuda bertopi biru tua melintas di depannya. Seorang pemuda berkulit sawo matang dengan earphone di telinga. Kepalanya terangguk-angguk menikmati beat lagu yang mengentak. Pemuda itu berperawakan tinggi, berhidung mancung, dan beberapa tahun kelihatan lebih muda dari usianya. Secara fisik, pemuda itu sama sekali tidak terlihat seperti orang Eropa. Perawakannya tinggi kurus dengan wajah berseri.

Kening Amira berkerut dalam, tanpa berkedip, mengamati sosok laki-laki yang terasa tidak asing itu. Kepalanya bergerak pelan mengikuti arah jalan pemuda itu. Debar jantungnya pelan berirama, diselimuti rasa hangat dan nyaman setelah sekian lama dingin membeku. Pemuda itu menoleh. Waktu seolah berjalan demikian lambat. Dunia pun seakan berhenti berputar. Saat itulah Amira melihat wajah pemuda itu dengan jelas dan darahnya mendadak membeku.

Untuk beberapa detik yang mendebarkan, Amira dan pemuda itu bersitatap. Hanya bertatapan. Sinar mata dalam dan lembut itu masih membekas dalam ingatannya. Pandangan keduanya tak lepas satu sama lain. Pemuda itu menundukkan kepalanya sekilas dan tersenyum. Amira dapat merasakan senyum itu memang ditujukan padanya.

I…Isa?

Amira terdiam mematung. Matanya terbelalak menatap pemuda itu. Kedua tangannya yang berpegangan pada kemudi Roma mulai dingin dan gemetar. Air mata tampak membayang di pelupuk. Dia tidak bisa merasakan suasana di sekitarnya. Darah yang mengalir di tubuhnya pun serasa berhenti. Tidak dapat mendengar suara klakson kendaraan di belakangnya yang memintanya untuk bergerak jalan. Beberapa kendaraan di belakangnya mendahuluinya karena terlalu lama menunggu. Pandangannya membuyar sesaat dan kepalanya serasa berputar-putar. Wajahnya berubah pucat sementara tangannya tanpa sadar melajukan Roma, menerobos perempatan dimana lampu merah sudah kembali menyala.

Dengan tangan yang masih gemetar, Amira melajukan Roma. Semakin lama pandangannya semakin kabur, dadanya semakin berat dan napasnya pun sesak. Roma terus melaju menerobos perempatan tanpa menghiraukan kendaraan yang berlalu lalang di sisi kanan kirinya. Sebuah double decker[1] melaju dari sisi kanannya. Amira terkesiap dan sekujur tubuhnya langsung menegang begitu mendengar bunyi klakson nyaring dari sisi kanannya. Dia menoleh dan refleks membanting stir sedapatnya. Beruntung, dia berhasil selamat dari tabrakan bus merah itu, namun malang, dia tidak berhasil menghindari tabrakan dari sisi kirinya.

Buk!

Sebuah mobil BMW berwarna Silver tiba-tiba melintas dan cukup keras menghantam Roma sampai terseret di atas aspal. Sementara tubuh Amira terpelanting ke kaca mobil bagian depan yang menabraknya lalu terhempas kembali menghujam aspal. Seketika Amira kehilangan kesadaran. Tubuhnya terkulai lemas di jalan. Dia berusaha bangkit, namun syaraf-syaraf di tubuhnya menolak. Sontak peristiwa itu menjadi sorotan orang-orang sekitar yang melihat langsung kejadiannya. Mereka tercengang. Tampak beberapa orang berhamburan keluar dari mobil mereka, terutama si pemilik mobil BMW Silver yang menjambak rambutnya frustasi usai menabrak Amira. Pria itu langsung dimintai keterangan oleh polisi setempat. Selagi pria itu menjelaskan kejadian yang sebenarnya, pria berseragam polisi yang lain langsung memagari lokasi dan melarang keras beberapa orang yang berdesakan ingin menyaksikan kejadian itu dari dekat.

“Please move back! Move back! You cannot go through!” seru salah seorang petugas polisi. Suara sirine ambulans pun tak lama terdengar. Beberapa pria yang sempat mengecek denyut nadi Amira, mundur teratur begitu pria berseragam medis datang. Seorang pria berseragam medis membuka perlahan helem yang dikenakan Amira. Darah segar tampak mengucur dari kepala gadis itu. Lalu laki-laki berseragam medis itu pun menempelkan kedua jarinya pada leher Amira untuk memastikan keadaannya. Tak ada denyut nadi. Salah seorang petugas medis lainnya mengeluarkan alat pacu jantung dari dalam mobil ambulans dan segera memasangkannya di dada Amira.

“Okay. Clear. Shock!” dengan sekali sentak, tubuh Amira terlompat bereaksi, namun masih belum cukup mengembalikan kesadarannya. Usai menambah daya kejut, pria berseragam medis itu kembali menempelkan alat pacu jantung ke dada Amira.

“Go again. Clear. Shock!”

“Again. Clear. Shock!” seru petugas medis yang tidak mudah menyerah, terus mencoba sampai mendapatkan kembali kesadaran Amira. Mereka terus mencoba sampai yang ketiga kali. Amira saat itu tidak mampu menggerak-gerakkan syaraf-syaraf di tubuhnya. Dia hanya bisa mendengar hiruk pikuk orang-orang di sekitarnya samar-samar.

“Tuuut…” suara denyut nadi Amira terdeteksi. Tubuh Amira melengking ke atas berupaya menarik napas dengan berat seolah sesuatu yang menyumbat paru-parunya berhasil dicabut. Sekujur tubuhnya mengerang kesakitan akibat terpelanting dari kaca mobil lalu menghujam aspal. Kepalanya berputar. Suasana yang sempat menegangkan beberapa saat itu pun akhirnya mencair.

“Okay! We got her!”

Amira berusaha bangkit menegakkan dirinya yang masih terkulai lemah, namun gerakan tiba-tiba itu membuat kepalanya jadi pusing. Pandangannya masih kabur. Dia tidak dapat melihat apapun dengan jelas melainkan putih. Semuanya tampak putih. Semakin dia memaksakan diri untuk melihat, semakin kabur pandangannya. Matanya mencari pemuda yang baru ditemuinya tadi, namun sayang, pemuda itu sudah tidak ada di sana. Dia menghilang begitu saja seperti terhempas angin.

Amira segera diangkat dan dibawa masuk ke dalam mobil ambulans. Dia segera dilarikan ke rumah sakit terdekat. Suara sirine ambulans pun meraung-raung di telinga.

[1]Bus tingkat khas London