Di Bawah Payung yang Sama (1)

fe7be9d78715382b08a240cc51b9af72

Sometimes out my window
I notice that you’ve been crying over him
And i wonder why you just don’t
Kick him to the curb
Instead of giving in

Beberapa petikan kalimat lagu Shayne Warde menggema di telinga Zara. Mengusir sedikit rasa cemas yang melesak di dalam dadanya. Beberapa kali ia melihat jam di tangan yang melingkari pergelangan tangannya. Ia berharap Tuhan memberinya sedikit keringanan di pagi ini. Wajib hadir di kelas dalam waktu kurang dari lima belas menit atau dosen tidak membiarkannya masuk.

Ia memberengut, duduk termangu seraya bertopang dagu pada lutut. Menunggu hujan reda di bawah jembatan fly over di seberang kampus dengan bosan. Sepasang matanya memandang resah pada setiap butiran hujan yang berjatuhan membasahi jalan. Dan sebagai catatan, Zara sangat tidak menyukai suasana lembab dan udara dingin yang mulai menembus sweater-nya.

Zara kembali melirik jam di tangannya. Ekspresi wajahnya semakin memberengut ketika mendapati sepatu putihnya kotor saat mengejar bus di halte dekat rumah. Ia mengeluarkan secuil tissue dari dalam tas lalu membersihkan sepatunya yang kotor terkena bercak tanah.

“Cakep! Belum cukup gue terjebak di bawah jembatan mengerikan ini dan sekarang sepatu gue kotor.” Zara menggerutu.

“Ngapain?”

Gerakan tubuh Zara tertahan. Ia tertegun. Menatap sepasang sepatu hitam kecokelatan yang kini berdiri di depannya. Ia lalu mengarahkan matanya perlahan, memperhatikan seseorang berkaki jenjang di depannya dari ujung kaki sampai ujung kepala.

Gadis berkulit putih itu refleks mengerutkan dahi ketika melihat pemuda berkaki jenjang itu berdiri menatapnya dengan payung bermotif garis di sebelah tangan. Pemuda berkulit sawo matang dan berhidung macung itu tersenyum samar, nyaris tak terlihat di wajahnya. Zara mengenali wajah itu. Pemuda itu bernama Dafa Yahuza. Seniornya di kampus.

“Butuh payung?” Zara mendengar pemuda itu bertanya dengan ekspresi wajah datar.

“A…” Mulut Zara terbuka lebar, namun tak ada sepatah kata pun yang keluar. Ia tampak berat menggerakkan bibirnya. Alisnya terangkat tinggi. Tangannya pun perlahan melepas earphone yang menggantung di telinga.

Aneh, pikirnya. Pemuda yang berdiri di depannya dan sedang menatapnya memang Dafa, tapi… untuk apa dia menyapa Zara? Bukankah mereka tidak pernah bertegur sapa sebelumnya. Lalu apa istimewanya hari ini dengan hari-hari sebelumnya? Lagi pula mereka berdua bisa dikatakan sebagai orang asing yang tidak pernah berkenalan secara langsung.

“Kenapa? Kayak liat hantu aja.”

Zara memaksakan bibirnya melengkung membentuk senyum. Sungguh ia benar-benar canggung. Sosok Dafa yang tinggi tegap, berkulit kecokelatan dan berkacamata memang memesona. Tidak sedikit para gadis yang meliriknya ketika ia sedang berjalan sendiri atau bersama teman-teman seangkatannya.

Zara menolak jika ia disebut sebagai salah satu gadis yang mengagumi Dafa, meskipun ia sendiri tidak bisa memungkiri jika hatinya memang berdebar setiap kali bertemu Dafa. Secara fisik dan karakter, Dafa memang mencerminkan sosok lelaki sejati. Ia tampan, tegap dan ya, tidak banyak bicara.

Zara menerima ajakan itu. Ia kini berjalan sejajar dengan Dafa. Keduanya berada di bawah payung yang sama. Sesekali pandangannya beralih menatap wajah Dafa yang tampak tenang memandang ke depan. Dan ia baru menyadari bahwa pemuda di sampingnya itu sangat tinggi. Tinggi badan Zara berhenti di angka 155 cm. Dan tinggi badannya tidak melebihi bahu Dafa yang tegap.

Kemudian, keduanya sudah tiba di lobi kampus. Dafa segera menutup payungnya dan memberikannya pada security yang berjaga di sana.

“Pak, nitip ya. Nanti sore saya ambil.” pesan Dafa pada pak Manto, seorang security yang sangat ramah dan bersahabat dengan para mahasiswa di sana.

Pak Manto pun menganggukkan kepala. Ia tersenyum kepada Dafa. Dafa pun tersenyum sekadarnya dan berlalu. Untuk pertama kalinya Zara melihat laki-laki itu tersenyum. Ya, aneh memang. Cemooh Zara dalam hati.

“Kak, terima kasih.” Ucap Zara sebelum laki-laki itu benar-benar pergi meninggalkan lobi.

Dafa hanya mengangkat sebelah tangan tanpa menoleh ke belakang. Seolah pemuda itu malas menanggapi.

Melihat respon itu, “Cih,” Zara mendesis dengan nada mencela.

Advertisements

Published by

Zakia Khairunnisa

Kia, just an ordinary girl by the imperfections. A girl who loves sweet and romantic things as in the fragrance of the land that exposed to rain, the magnificent form of eternal love Shah Jahan for his wife, the Taj Mahal monument in Agra, white roses and delicious Ferrero Rocher chocolates. A girl who has an outstanding love of Indian colourful music. Admiring Shreya Ghoshal, the marvelous playback singer who has voice of heaven.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s