Menunggu dengan Bosan (2)

a1137e5c12541c3b8af9bac89b629bc3Zara menunggu di kantin dengan bosan. Mengaduk-aduk teh manis di dalam gelas dengan pandangan kosong. Ia sudah cukup lama menunggu di sana. Makanannya pun sudah dingin.

Ponselnya bergetar dua kali. Ada pesan masuk. Zara mengerutkan dahi begitu melihat isi pesan dari Raya. Raya adalah satu-satunya teman dekat Zara di kampus. Keduanya mengambil jurusan Manajemen Keuangan di salah satu universitas swasta ternama di Indonesia.

Sebagai anak sulung di keluarganya, Zara tidak terlalu terbuka dengan siapapun. Gadis itu lebih suka menyendiri dan tidak pandai bergaul. Sebaliknya dengan Raya, gadis itu mudah beradaptasi dengan lingkungan sekitar. Ia ceria dan bersemangat dalam segala hal.

Dimana? Masih di kantin? Sebentar lagi gue keluar. Dosennya tadi datang telat, jadi ngambil jatah jam makan siang gue deh. 

Zara menghembuskan napas panjang usai membaca pesan singkat dari Raya, lalu kembali meletakkan ponselnya di atas meja tanpa berniat membalasnya. Zara kembali menatap kosong Dim Sum di depannya. Selera makannya pun menguap begitu saja. Ia duduk sembari bertopang dagu, jari-jarinya menari-nari pelan di atas meja. Kembali gadis itu merenung.

“Brakkk!” tiba-tiba suara nampan terdengar nyaring menyentak meja. Membuat gelembung-gelembung lamunan Zara meletus seketika. Zara terkesiap kaget. Matanya terbelalak menatap pria dengan rambut hitam pendek berduri-duri seperti landak sudah duduk tenang di depannya.

Dafa Yahuza. Zara menghembuskan napas lega dan berkata, “Ya ampun, kak. Ngagetin aja.”

Dafa mendecakkan lidah sembari menggeleng-gelengkan kepala keheranan. Laki-laki itu membumbui kuah bakso dengan lada dan berkata tak acuh tanpa melirik Zara sedikitpun, “Otakmu itu mikir apa? Salahmu sendiri melamun.”

Zara terdiam. Ia malas berkomentar. Detik-detik pun berlalu dengan hening.  Tak ada percakapan mengudara di antara keduanya. Hanya terdengar suara-suara bising keramaian orang di sekitar yang berbicara tumpang tindih. Suasana canggung itu membuat posisi duduk Zara tanpa sadar menyerong. Sesekali bola mata gadis itu bergerak ke samping, mengamati laki-laki di depannya melalui ekor matanya. Dafa memasang ekspresi tak terbaca. Untuk beberapa detik, tanpa sadar Zara menikmati pemandangan itu. Hidung Dafa yang mancung, alisnya yang tebal dan tegas, kulit wajahnya yang bersih dan kecokelatan, jakunnya yang bergerak naik turun serta rambut hitamnya yang berduri-duri seperti landak membuat jantung Zara tiba-tiba  berdebar.

Bener-bener engga adil, kenapa laki-laki bisa terlihat indah? lamun Zara.

“Kamu kesini untuk makan atau merhatiin gue?” tegur Dafa tanpa mengangkat wajah. Membuat Zara sontak mengejap kaget dan rasa panas perlahan merambati wajahnya. Tepergok mengamati laki-laki itu membuatnya jadi malu sendiri. Gadis itu kemudian memejamkan mata rapat-rapat sembari menggeleng dengan harapan pikiran-pikiran mengerikan itu segera sirna dari kepalanya.

Duduk berdekatan dengan Dafa bukanlah hal yang menyenangkan. Membuat tubuh Zara menjadi kaku sekaku lidi, namun entah mengapa laki-laki itu selalu saja muncul di hadapannya secara tiba-tiba.

Zara menjadi salah tingkah. Kepalanya celingukan ke kanan dan ke kiri seperti sedang mencari teman yang akan menolongnya dari kesulitan.

“Kenapa?” tanya Dafa risi. Meski ia tidak bertatapan langsung dengan mata gadis itu, ia masih bisa merasakan gerak gerik tubuh Zara. Dan itu menganggu.

Zara tidak langsung menjawab. Ia mengerutkan kening, menyipitkan mata dengan curiga kemudian menanggapi dengan ketus, “Kenapa kakak malah duduk di sini? Bukannya masih tersedia bangku yang kosong? Lagipula, aku udah tag bangku itu untuk temanku.”

Pertanyaan bernada ketus itu rupanya membuat Dafa agak terkejut. Gerakan tangannya terhenti beberapa saat ketika ia sudah siap menyeruput kuah bakso ke dalam mulut. Namun laki-laki itu memilih diam, tidak menanggapi. Sengaja tidak mengindahkan seolah tidak mendengar.

Dan keheningan pun kembali tercipta. Zara tetap dalam posisi canggungnya sementara Dafa masih dengan tekun menyantap bakso berkuah pedas itu.

Sejurus kemudian, mangkuk bakso telah kosong tak bersisa. Dafa bangkit dari duduk dan segera berlalu tanpa kata. Meninggalkan Zara yang masih bertanya-tanya. Sikap Dafa yang aneh, membuat Zara bingung sekaligus sebal.

Zara menyuap Dim Sum ke dalam mulut kuat-kuat sebagai luapan kekesalannya. Bunyi pantulan sendok yang mengenai giginya pun terdengar nyaring. “Auuu!” rintihnya kesakitan. Tangannya pun sontak melepas sendok dan segera memegang mulutnya yang terasa ngilu.

“Zara!” Zara mendengar suara nyaring itu. Ia menoleh tak bersemangat, menatap Raya yang tengah berlari-lari kecil menuju ke arahnya. “Itu barusan kak Dafa ya?” tanya Raya dengan mata melebar takjub.

Zara mengangguk-anggukkan kepala tanpa suara, masih dengan gigi yang ngilu terkena sendok. Sikap Raya yang bersemangat seperti baru saja bertemu artis pujaannya sama sekali tidak digubris oleh Zara. Meskipun bukan fanatik, Raya adalah pengagum Dafa.

“Ngapain dia di sini?” tanya Raya lagi. Matanya kembali menyorot punggung Dafa yang terlihat semakin jauh dari pandangan.

“Memangnya sekarang loe lagi dimana?” balas Zara ketus. “Ini kan kantin.”

Ckckck, Raya mendecakkan lidah keheranan. “Gue cuma tanya kali, kenapa ketus gitu jawabnya?” balasnya sembari duduk di depan Zara.

Zara mulai menyuap sepotong Dim Sum ke dalam mulut, perlahan, setelah beberapa menit makananannya sempat diabaikan.

“Maksud gue, ngapain dia duduk di depan loe, sayang?” ujar Raya mengoreksi pertanyaannya.

“Ya makanlah.” seru Zara dengan nada tak acuh. “Jangan bilang loe cemburu ya?” ledeknya dengan mata menyipit menyelidik.

“Cih,” Raya memaksakan tawa sumbang. “Bukan hal yang umum melihat kak Dafa makan bersama orang lain selain dengan teman-teman seangkatannya. Dia kaku dan cuek. Kalau bicarapun seperlunya aja. Gue bahkan engga pernah lihat dia senyum, apalagi tertawa.”

“Ya, dan kalaupun dia tersenyum, senyumnya terlihat… aneh.” timpal Zara sembari mengingat kembali kejadian tadi pagi. “Mungkin karena dia engga pernah melatih otot-otot wajahnya untuk tersenyum.”

“Dan mungkin aja kalau dia tersenyum, dia bisa kena stroke ringan atau semacamnya.” canda Raya sembari memiringkan bibir menirukan orang stroke.

Dan keduanya pun terkekeh geli.

Advertisements

Published by

Zakia Khairunnisa

Kia, just an ordinary girl by the imperfections. A girl who loves sweet and romantic things as in the fragrance of the land that exposed to rain, the magnificent form of eternal love Shah Jahan for his wife, the Taj Mahal monument in Agra, white roses and delicious Ferrero Rocher chocolates. A girl who has an outstanding love of Indian colourful music. Admiring Shreya Ghoshal, the marvelous playback singer who has voice of heaven.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s