Ketika Kepercayaan Hanya Sepenggal Kata (3)

14b525092c5b13e1e67a7376da28d74bMalaika Zara melangkah menuju kamar sembari mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk. Ia duduk di depan meja rias. Menyisir rambutnya yang basah sembari menghadap cermin. Sejenak gerakan tangannya terhenti. Ia termenung menatap bias dirinya di cermin. Wajah itu. Wajah itu mengingatkannya pada Papa. Rupanya buah bibir orang-orang tentang dirinya bukanlah omong kosong belaka. Ia sangat mirip dengan Papa. Membuatnya mengutuk wajah itu. Wajah yang sangat mirip dengan laki-laki yang meninggalkannya, Mama dan Ezi, adik laki-lakinya. Desakan butiran air mata mulai terasa perih menusuk. Mengembang di pelupuk matanya.

Zara memalingkan wajah dari cermin. Ia mengejapkan mata, menggeleng dan menghapus air matanya yang tidak terasa sudah jatuh bergulir membasahi pipi. Ia menarik napas dalam-dalam kemudian menghembuskannya dengan pelan untuk menenangkan diri. Dan berharap bisa mengubur dalam-dalam kenangan menyedihkan tentang Papa, karena itu membuatnya frustasi.

Zara…

Suara berat Papa menggema di telinganya. Seperti mimpi buruk yang tanpa jemu menyapa. Cepat-cepat ia menutup telinganya dan meyakinkan bahwa suara itu tidak benar-benar nyata.

Dua tahun yang lalu, seorang perempuan bernama Rena datang membawa berita yang akan menghancurkan hati para wanita di belahan dunia mana pun.

Aya -ibu kandung Zara- dan Rena, keduanya memiliki hubungan dekat seperti layaknya saudari perempuan. Meskipun usia keduanya terpaut cukup jauh, yaitu enam tahun, namun Aya sudah menganggap Rena seperti adik kandungnya sendiri. Rena bekerja di perusahaan yang sama dengan Adi, ayah kandung Zara. Aya lah yang membantu Rena untuk dapat bekerja di perusahaan tempat Adi bekerja. Seperti layaknya saudari perempuan, Aya  juga mempercayakan segalanya kepada Rena. Begitu pun sebaliknya.

Lima bulan terakhir, Rena selalu mencari alasan untuk tidak bertemu. Ponselnya sering kali mati ketika Aya menghubunginya. Rena hanya sesekali menjawab telepon dan membalas pesan singkat dari Aya. Aya pun sudah berusaha mencari tahu masalah apa yang sedang menimpa sahabatnya hingga ia selalu punya alasan untuk tidak bertemu. Hal pertama yang mengejutkannya adalah ketika Rena mengundurkan diri secara tiba-tiba dari tempatnya bekerja. Tidak biasanya Rena mengambil keputusan tanpa meminta pendapat Aya terlebih dahulu. Sejak itu, Aya sangat yakin Rena sedang dalam masalah.

Hingga hari itu tiba, pertanyaan-pertanyaan yang selama ini mengganjal dalam benak Aya terjawab sudah. Ketika kepercayaan hanya sepenggal kata.

“Aya,” panggil Rena putus asa dan berderai air mata. Perempuan itu langsung memeluk Aya ketika pintu berderit terbuka. Aya berdiri di ambang pintu menatap wajah Rena yang pucat. Seperti ketakutan setengah mati.

“Rena? Ke-kenapa Ren?” tanya Aya khawatir. Ia terkejut mendapati Rena yang datang tiba-tiba ke rumah setelah lima bulan tak menampakkan diri. Hari sudah gelap. Hujan pun turun deras.

Belum selesai kerutan di dahi Aya mengendur, ia sudah kembali dikejutkan dengan sesuatu yang menyentuh perutnya ketika mereka berpelukan. Segera Aya melepaskan pelukannya perlahan, memberi jarak di antara mereka dengan kedua tangan menahan bahu Rena. Ia memperhatikan perut Rena yang membuncit. Sementara Rena belum menikah.

“Ke… kenapa dengan perutmu, Ren?” tanya Aya terbata-bata. Matanya terbelalak tidak percaya ketika melihat perubahan di tubuh Rena. Ia masih belum mempercayai indera penglihatannya. Ia sangat berharap tidak terjadi hal buruk yang menimpa Rena.

Apa Rena terkena kanker atau penyakit ganas semacamnya?

Rena menangis sejadi-jadinya. Membuat wajah Aya semakin larut dalam tanda tanya. Dengan lembut, Aya membenarkan rambut Rena yang tampak awut-awutan. Jemarinya mengusap lembut wajah Rena yang basah oleh air mata. Rena pun berupaya meredakan tangisnya. Dan dengan suara tercekat ia berkata,

“A… aku hamil,”

Deg! Aya tercengang. Ia berharap telinganya salah mendengar. Pantas saja beberapa bulan ini, Rena sulit dihubungi. Tubuh Aya seketika bergetar hebat. Rasa panik mulai menyerang dirinya. “Siapa? Siapa yang menghamilimu?” desaknya sembari mengguncangkan bahu Rena. Kali ini suara Aya terdengar lantang sekaligus panik. Tangannya pun mulai mencengkram erat bahu Rena. Meminta Rena untuk berhenti menangis dan menceritakan kejadian sebenarnya.

Rena terus meneteskan air mata yang tak terhitung jumlahnya. Ia berharap Aya akan simpati padanya. Kepalanya pun kian tertunduk. Dengan suara tercekik, bibir yang bergetar, perempuan itu menjawab,

“A… Adi,”

Bak mendengar petir yang menyambar rumahnya, Aya kehilangan kata-kata. Ia tercengang dan nyaris jatuh dalam keterkejutannya. Matanya mulai memanas. Udara pun seakan menyusut. Seperti ada sesuatu yang dingin dan tajam menerjang ulu hatinya. Rena lalu menangis sejadi-jadinya. Suara tangisnya terdengar pilu di telinga Aya. Begitu menyiksa dan menyakitkan.

Mungkin jika kau terkena kanker atau penyakit ganas lainnya, itu akan lebih baik daripada harus mendengar kau hamil karena suamiku!

“Plaaakkk!!” tamparan keras mendarat di pipi Rena. Wajahnya pun memerah panas. Zara melihat kejadian mencengangkan itu dari lantai atas. Sementara adiknya sudah terlelap di kamar. Ia terhenyak. Seketika tangannya yang sedang berpegangan pada pembatas lantai, gemetar.

“Jangan fitnah, Ren!!” seru Aya dengan suara bergetar menahan kesedihan dan kemarahan yang teramat sangat. Rasa panik bercampur aduk dengan murka, benci dan amarah.

“Aku tidak fitnah!” seru Rena seraya memegang pipinya yang masih merah. “Kalau kau tidak percaya, tanyakan saja Adi! Dia yang melakukannya!”

“Diam kau!” pekik Aya frustasi. Ia tidak lagi ingin mendengar ucapan Rena yang semakin membuat hatinya tercabik-cabik.

Perempuan berbadan dua itu pun rela berlutut di depan Aya. Ia bingung dan tidak tahu lagi harus berbuat apa. Ia mulai depresi. Dengan kedua tangan memegang lutut Aya, ia memohon. “Tolong bujuk suamimu, agar dia mau menikah denganku…”

“Hah?!,” Aya terheran-heran, lalu menatap Rena bengis. Ia menelan ludahnya dengan susah payah. “Tega sekali kau…” air matanya kini meleleh. Wajahnya memerah penuh amarah. “Apa kau sudah tidak punya malu?! Jangan fitnah orang sembarangan!” ia meraung marah. Emosinya kembali meledak dan melayangkan pukulan keras ke kepala Rena hingga membuat Zara tersentak kaget. Ibu yang dikenalnya pandai menahan emosi, kini bertindak seperti wanita yang tidak dikenal.

“Aya!!!” teriakan Adi memekakkan telinga semua yang berada di sana. Matanya melotot seolah ingin meloncat keluar.

“Plaaakkk!!!” Adi sontak menampar Aya hingga bibirnya berdarah. “Dia sedang hamil, apa kau sudah gila?!” bentaknya seolah membela Rena.

Kata-kata Adi barusan seakan menjadi vonis cerai untuk Aya. Butiran panas bergulir di pipi Aya tanpa suara. Ia kecewa, sangat kecewa hingga tangannya gemetar. Air mata Zara mulai deras berjatuhan. Gadis itu segera masuk ke kamar. Mengunci pintu rapat-rapat dan meneteskan air mata dalam keheningan.

Aya menatap Adi sedih. Ia melihat darah keluar dari pangkal bibirnya karena tamparan suaminya cukup keras. Wajahnya menjadi pucat. Kakinya mendadak keram dan tubuhnya terjatuh lemas ke lantai. “Pergi…” ujarnya pelan dengan suara bergetar tanpa memandang Adi, suaminya. Air matanya pun merebak.

Sementara Adi masih belum berkedip setelah menampar istrinya. Jantungnya seakan berhenti berdetak. Rena pun ikut terdiam. Suasana sempat hening beberapa saat. “Aya, maaf…” ujar Adi menyesali perbuatannya. Ia mendekati Aya dan mengulurkan tangan untuk membantu Aya berdiri, namun Aya dengan jijik menepisnya.

“Pergi! Kalian menjijikkan!” tepis Aya seraya mengusap air matanya dengan kasar. Ia mendelik, menatap suaminya yang tertunduk, tidak berani balas menatapnya.

Adi mematung. Ia tidak mampu berkata-kata. Kakinya pun mundur selangkah. Tidak terbesit sedikitpun dalam benaknya akan berakhir begini. Adi langsung menarik tangan Rena. Menyeretnya untuk pergi sebelum semuanya menjadi semakin parah.

“Aya, maaf…” ujar Rena menyesal sambil berjalan sempoyongan di belakang Adi. Sekalipun Adi tidak menoleh kembali untuk melihat keterpurukan Aya. Ia terus menarik tangan Rena. Pergi meninggalkan Aya tanpa penjelasan.

“Terkutuk kalian!!!” Aya menjambak rambutnya frustasi sebelum Adi dan Rena benar-benar keluar dari rumah. Ia lalu bangkit dari keterpurukannya kemudian membanting pintu. Hatinya begitu pedih tak terperi bagai dihujani ribuan jarum. Ia masih terisak ketika menyandar lemah di pintu. Wanita itu butuh beberapa saat untuk menghentikan tangisannya sebelum akhirnya menyeret kedua kakinya yang lemas masuk ke dalam kamar.

Dan semenjak peristiwa itu, pasangan suami istri itu tidak pernah bertemu lagi. Tidak ada kabar apapun, seolah Rena dan Adi sudah mati.

Advertisements

Published by

Zakia Khairunnisa

Kia, just an ordinary girl by the imperfections. A girl who loves sweet and romantic things as in the fragrance of the land that exposed to rain, the magnificent form of eternal love Shah Jahan for his wife, the Taj Mahal monument in Agra, white roses and delicious Ferrero Rocher chocolates. A girl who has an outstanding love of Indian colourful music. Admiring Shreya Ghoshal, the marvelous playback singer who has voice of heaven.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s