Sejumput Rindu yang Terabaikan (4)

windAdi berjalan ke luar rumah dengan tulang kaki yang serasa remuk. Rena pun berjalan pelan mengikuti di belakang. Kepalanya terus tertunduk. Kedua tangannya saling meremas. Sesekali ia melihat pria di depannya yang berjalan rengsa. Punggung pria itu tidak lagi tegap seperti biasanya. Ada segelintir rasa penyesalan yang menyeruak dalam hati Rena, namun ia tidak punya pilihan.

“Maaf,” gumam Rena dengan sekelumit perasaan bersalah. Entah sudah berapa kali ia mengucapkannya.

Adi menghela nafas berat kemudian menghembuskannya perlahan. Langkahnya terhenti. Ia mengusap wajah dengan kedua tangan untuk menyadarkan diri. “Jika sudah terjadi, untuk apa minta maaf?” ujarnya dengan suara yang diusahakan terdengar tenang. Ia enggan menatap wanita di sampingnya itu. “Aku hanya tidak habis pikir, bagaimana bisa kau mengaku pada istriku kalau anak itu adalah anakku?”

Rena terdiam sejenak. Dengan gugup dan terbata-bata, ia menjelaskan bahwa lelaki yang bertanggungjawab atas kehamilannya sangat sulit untuk ditemui. Ia sudah berbulan-bulan menghabiskan waktu hanya untuk mencari lelaki itu, namun tidak juga ketemu. Tidak ada cara lain di benaknya selain meminta Adi untuk menikahinya. Ia sangat mengenal Adi. Mereka berdua terlibat urusan pekerjaan di perusahaan yang sama. Rena tahu, Adi adalah sosok pria penyayang dan baik kepada semua orang. Itulah yang membuatnya yakin menjatuhkan pilihannya pada ayah kandung Zara ini. Ia malu akan perbuatannya. Ia juga menjelaskan bahwa orangtuanya bisa membunuhnya jika lelaki itu tidak mau bertanggungjawab.

Tentunya sulit bagi Adi untuk memenuhi keinginan Rena karena ia sudah berkeluarga dan sangat menyayangi istri dan anak-anaknya, namun Rena tidak menyerah begitu saja. Ia bahkan mengancam akan membunuh bayi yang dikandungnya, jika tidak ada lelaki yang mau menikahinya.

Adi tampak geram dengan sikap Rena yang menurutnya tidak manusiawi. Ia menampar Rena karena baginya perempuan itu benar-benar sudah kelewatan. Ancaman tersebut bukannya membuat Adi merasa iba padanya malah membuatnya semakin jijik. Adi tidak punya pilihan. Tubuhnya roboh karena lemas dan pasrah. Ia terpaksa mengorbankan anak dan istri yang dicintainya hanya demi menuruti keinginan wanita itu.

Adi terpaksa menikahi Rena yang sedang mengandung lima bulan. Tidak tersirat sedikitpun guratan kebahagiaan di wajahnya.
“Tidak bisakah kau berpura-pura bahagia menikah denganku?” bisik Rena saat mereka sedang duduk di pelaminan.

Adi berkali-kali gagal saat mengucapkan ijab qabul. Peluhnya menetes deras. Banyak tamu yang merasa janggal dengan mempelai pria itu. Tak sedikitpun wajah Adi mencerminkan seperti mempelai pria yang berdebar-debar ketika mempersunting pujaan hati melainkan seperti mayat hidup yang dibuang ke laut. Pucat. Hatinya hampa tanpa cinta.

Perasaan Aya pun hancur. Bagai terkikis perlahan sampai tak bersisa. Sepanjang perjalanan menuju kampus, otak Zara terus berpikir kenapa Papa tidak pernah sekalipun menemuinya. Jangankan bertemu, menanyakan kabar via telepon saja tidak. Hal itu membuat kebencian Zara kepada Papa kian meruncing tajam.

Zara tidak sempat bertanya kepada Papa. Ia juga tidak sempat menahan kepergian Papa malam itu. Ia terlalu takut karena sebelumnya orangtuanya tidak pernah bertengkar hebat seperti malam itu. Kejadian itu menyisakan kekecewaan mendalam di dasar hatinya. Ada ruang di hati kecilnya yang merindukan Papa, namun ia juga sangat kecewa dengan sikap laki-laki yang telah membesarkannya itu. Terkadang pikiran jahat pun menghampiri, Papa tidak lebih dari seorang pengkhianat! ujarnya dalam hati penuh kebencian.

Saat kebahagiaan masih bermukim di keluarga Zara, Adi adalah manajer di suatu perusahaan pertambangan batubara dengan pertumbuhan paling cepat di Asia. Sementara Aya bekerja sebagai sekretaris direktur di salah satu bank pemerintah. Dengan jabatan yang dimiliki kedua orangtua Zara, membuat ia dan adiknya tersokong dengan baik.

Sejak Adi masih tinggal satu atap dengan Aya, Aya adalah wanita karir yang sangat tidak ingin menggantungkan hidupnya pada laki-laki. Bukan untuk menunjukan suatu kebanggaan, hanya saja ia berpikir bahwa perempuan harus mandiri dan ada baiknya tidak selalu mengandalkan suami.

Gadis aquarium, sebutan Papa untuk Malaika Zara. Sebutan itu sengaja ditujukan untuk Zara karena gadis itu selalu tampil apa adanya. Tidak bisa tersenyum jika hati menangis dan tidak bisa menangis jika hati tersenyum. Papa juga lah yang selalu cerewet menanyakan kapan Zara pulang jika ia belum tiba di rumah.

Kini, semua hari-hari bahagia itu tinggal kenangan. Papa tidak terdengar lagi kabarnya. Meskipun di lubuk hati Zara memangku kekecewaan, namun masih ada sejumput kerinduan untuk Papa yang sengaja ia abaikan.

Advertisements

Published by

Zakia Khairunnisa

Kia, just an ordinary girl by the imperfections. A girl who loves sweet and romantic things as in the fragrance of the land that exposed to rain, the magnificent form of eternal love Shah Jahan for his wife, the Taj Mahal monument in Agra, white roses and delicious Ferrero Rocher chocolates. A girl who has an outstanding love of Indian colourful music. Admiring Shreya Ghoshal, the marvelous playback singer who has voice of heaven.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s