Pemuda Berdarah Campuran (1)

Pukul dua pagi waktu Seoul, Korea Selatan, Ryo Lee memarkirkan mobil sedan hitamnya di pelataran parkir depan rumah. Ia membuka pintu mobil pelan dan turun dengan senyap. Ia berjalan mengendap-endap dalam kegelapan menuju kamarnya. Setelah melepas sepatu dan meletakkannya di tempat, dengan tenang dan hati-hati tangannya merogoh saku celana untuk mengaktifkan getar ponselnya. Ia berjalan membungkuk. Sangat pelan agar tidak menimbulkan suara.

“Kenapa berjalan mengendap-endap seperti maling?” suara ibu terdengar di ujung sana.

Ryo tersentak mendengar suara ibunya. Ia mengernyit, memejamkan matanya rapat-rapat kemudian memutar tubuh dengan pelan. Matanya langsung menangkap sosok wanita berpiyama putih sedang melipat kedua lengannya. Ibunya menyalakan lampu untuk menerangi ruangan kemudian menghampirinya. Ia menatap Ryo dengan alis terangkat heran.

“Eo-Eomma[ Ibu ],” sapa Ryo tersenyum kikuk.

“Kau dari mana saja?” dengan nada kesal ibu bertanya.

Ryo memaksakan senyum lebar, merapatkan gigi-giginya yang putih. Ia menggaruk-garuk kepala, memutar otak mengarang alasan. “Aku tadi mampir ke rumah Jae Hwan, hyeong[ Kakak laki-laki : sebutan untuk laki-laki]. Ada tugas kampus yang harus diselesaikan hari ini juga.”

Hyeong, Maaf, ucap Ryo dalam hati. Ia pandai mengarang alasan dengan menyebut nama Jae Hwan. Karena hanya itulah satu-satunya cara untuk mencegah ibunya menceramahinya panjang lebar. Untuk mengatakan alasan sebenarnya, rasanya tidak mungkin. Ibunya akan sangat marah jika tahu ia dan teman-temannya baru saja merayakan ulang tahun salah seorang teman di sebuah klub malam.

“Benar begitu?” tanya ibu. Hidungnya pun mengendus-endus bau badan Ryo. Menilik jika ada yang mencurigakan. Wanita berparas ayu dan berkulit sawo matang itu sangat khawatir jika anak sulungnya, Ryo, akan terjerumus minum-minuman keras, mengikuti kebiasaan orang-orang Korea pada umumnya

“Tidak, aku tidak minum alkohol!” ujar Ryo membesarkan matanya sembari mengibaskan tangan.

“Kau kan bisa telepon dan mengatakan akan pulang terlambat. Sudah berkali-kali Eomma menghubungimu, tapi tidak pernah diangkat.” kata ibu dengan nada kecewa.

“Iya, iya. Maaf! Ponselku di dalam tas, jadi tidak terdengar.” jelas Ryo beralasan.

“Ya sudah, kali ini dimaafkan. Tapi lain kali kalau terulang lagi,” ibu mengacungkan jari telunjuknya ke arah Ryo dan berkata dengan nada serius, “Eomma akan bicara dengan Appa[ Ayah ]-mu!”

Glek! Ryo menelan ludah. Sial! Kalau sampai Appa tahu, habislah aku! ucapnya dalam hati.

Setelah diinterogasi cukup lama bak di kantor polisi, Ryo diperbolehkan masuk ke dalam kamar. Pemuda itu pun langsung berjalan menuju kamarnya di lantai atas. “O, eomma!” panggilnya tiba-tiba. Ia menghentikan langkah di antara anak tangga. Kepalanya pun berputar ke arah ibunya.

“Kapan Appa akan pulang?”

“Appa baru akan kembali besok malam.” sahut ibunya. “Kenapa?”

“Tidak, aku hanya bertanya.”

Sejak kecil, Ryo memang sering berpindah-pindah tempat tinggal. Mulai dari Jakarta-Chicago-Singapura hingga ke Seoul. Di Seoul, ia tinggal bersama kedua orangtuanya. Ia juga sangat lancar berbahasa Indonesia, mungkin karena didikan ibunya yang asli orang Indonesia.

Selagi masih gadis, ibunya bekerja sebagai interpretator di Seoul selama beberapa tahun. Bertemulah ia dengan Lee Tae Gyun, ayah Ryo. Saat ini Tae Gyun adalah presiden direktur Lee Sun Grup, sebuah perusahaan untuk produk makanan dan es krim di Korea Selatan. Jaringan operasinya pun sudah berkembang dengan pesat dan memilki beberapa kantor cabang di kota-kota besar, bahkan di luar negeri. Termasuk di Jakarta, yang kini sedang direncanakan untuk membuka kantor cabang yang baru.

Sebagai catatan, sudah lama sekali Ryo tidak kembali ke Jakarta. Ibunya pun tidak pernah kembali ke kampung halamannya di sana. Nenek dan kakek Ryo dari pihak ibu tidak menyetujui pernikahan kedua orangtuanya karena ibunya memutuskan untuk berpindah keyakinan mengikuti ayahnya. Dan perseteruan itu masih berlanjut hingga kini.

Ibu benar-benar sendiri dan membina keluarga kecil di Seoul bersama suami dan anak-anaknya. Dan untuk mengobati kerinduannya dengan kampung halamannya, wanita bernama lengkap Anggun Paramita ini, membiasakan diri melatih Ryo berbahasa Indonesia dengan baik. Tidak jarang mereka berkomunikasi dengan bahasa Indonesia ketika di rumah.

Pernikahan kedua orangtua Ryo, pada awalnya sempat ditentang oleh keluarga besar Lee. Orangtua Tae Gyun sempat menolak bermenantukan warga negara asing. Mereka ingin penerus Tae Gyun kelak adalah orang Korea. Namun Tae Gyun berhasil menunjukkan keseriusan hubungan cintanya dengan Anggun, ibu kandung Ryo.

***

“Eomma,” panggil Ryo yang saat itu berusia dua puluh tahun sambil menuruni tangga dengan gaya meluncur di pegangannya.

“Ryo!” sahut ibunya dari dapur. Ia mencuci kedua tangannya yang penuh dengan irisan wortel kemudian mengelapnya di celemek lalu berjalan ke ruang tengah menghampiri Ryo.

“Aku pergi dulu!” pamit Ryo tergesa-gesa.

“Hei, sarapan dulu baru berangkat!”

Ryo menghentikan langkah dengan malas kemudian berbalik. “Tidak bisa, aku sudah telat!” jawabnya sambil berlalu.

Ckckckck, ibunya mendecakkan lidah sembari menggeleng-gelengkan kepala. “Ya sudah, hati-hati di jalan. Oh ya, langsung pulang ya!”

“Ya!” sahut Ryo yang kemudian menutup pintu depan.

15c69a433669b1f63b9cf1012f03d643Pada bulan Maret dua tahun yang lalu, Ryo diterima di salah satu universitas swasta ternama dan terbaik di Korea. Kampus yang dianggap sebagai kampus yang paling indah di Korea dengan bangunan-bangunan kastil bergaya Eropa, taman-taman bunga Sakura dan pohon-pohon yang sangat indah menghiasi jalan. Setelah sempat mengalami pergulatan batin, akhirnya ia memutuskan untuk mengambil jurusan International Business and Trade di universitas tersebut.

Ayahnya yang juga alumni universitas tersebut tentunya sangat senang begitu mengetahui putra sulungnya lulus ujian masuk dan diterima di universitas yang sama. Saking senang dan bangganya, pria berusia 48 tahun itu memberikan hadiah sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam metalik buatan Eropa yang kini selalu dikemudikan Ryo kemana-mana.

Sejurus kemudian, Ryo sudah tiba di kampus. Ia memasuki gedung Politik Sains dan Ekonomi yang berhadapan langsung dengan gedung Hukum. Wajahnya selalu cerah berseri-seri. Di sana, ia berteman dekat dengan Jeong Jae Hwan, hyeong. Mereka sudah seperti kakak beradik meski memiliki perbedaan karakter yang cukup mencolok. Jae Hwan lah yang pertama kali dikenalnya sewaktu masuk ke perguruan tinggi itu.

Ryo sering kali menjadi sorotan mata para gadis di kampus karena ketampanannya. Wajahnya lebih mirip orang Jepang ketimbang orang Korea. Beberapa kali ia ditawari untuk ikut casting sebuah drama, namun ia menolak dan mengatakan tidak ingin terjun ke dunia hiburan. Alasannya sangat sederhana, ia tidak ingin wajahnya dikenali publik bahwa ia adalah putra Lee Tae Gyun. Di kampus saja ia lebih dikenal dengan nama kecilnya. Ryo Lee. Ia menolak menggunakan nama asli pemberian orangtuanya, Lee Ji Woo. Karena merasa belum siap berjibaku dengan hiruk pikuk sorotan wartawan dan kilatan cahaya kamera seperti ayahnya. Ia mewarisi wajah ibunya yang manis. Senyumnya yang ramah dan memikat. Alisnya yang tebal, matanya yang besar dan bulat tidak seperti kebanyakan mata orang Korea pada umumnya. Banyak para gadis yang terkesima melihat mata besarnya.

Sementara Jae Hwan bermata sipit dan berkulit putih. Ia memiliki tinggi badan lelaki ideal. Tinggi badannya bahkan mencapai 184 cm. Tubuhnya tinggi tegap dan sosoknya terlihat karismatik. Lelaki yang satu ini cenderung sulit bersikap ramah terhadap lawan jenis. Ada gosip yang beredar bahwa ia patah hati karena gadis yang dicintainya mencampakkannya dan memilih pergi dengan lelaki lain. Dan ketika ditanya kebenaran gosip itu oleh Ryo, gosip itu memang benar. Sialnya gadis yang dicintai Jae Hwan ini cantik sekali, jadi wajar saja jika ia sulit melupakannya.

Beberapa kali Ryo bahkan sempat memperkenalkan Jae Hwan dengan gadis-gadis kenalannya di kampus, namun sayangnya Jae Hwan bersikap dingin dengan para gadis itu hingga membuat mereka kecewa dan enggan melanjutkan hubungan dengan Jae Hwan.

Dalam perjalanan pulang, langkah Jae Hwan dan Ryo mendadak terhenti di depan seorang gadis. Gadis itu mirip dengan miss Song, begitulah Ryo menyebut nama gadis yang selama ini masih dicintai Jae Hwan. Bukan saja mirip, gadis ini sedikit berbeda dengan para gadis lainnya. Ia berkarakter. Tidak seperti para gadis yang dikenalkan Ryo kepada Jae Hwan. Dan sepertinya Jae Hwan memiliki chemistry dengan Han Da Jin, nuna[ Kakak perempuan : sebutan untuk laki-laki], meskipun ia selalu saja menyangkal dan mengatakan bahwa hubungan mereka hanyalah teman baik. Karena, hanya Han Da Jin lah satu-satunya gadis yang bisa akrab dan berteman baik dengan Jae Hwan.

“Da Jin-a,” panggil Jae Hwan. Ia berjalan menghampiri sosok gadis berambut pendek itu sementara Ryo ditinggalnya begitu saja.

Ryo mendecakkan lidah. Kepalanya pun menggeleng keheranan memandangi pasangan itu dari kejauhan. “Sudah jelas-jelas hyeong suka pada nuna. Masih saja menyangkal.” gerutunya.

Beberapa saat kemudian, ia dikejutkan oleh kedatangan Nan Jeong. Seorang gadis bermata sipit yang sangat memuja Ryo. Tanpa sungkan, ia langsung memeluk Ryo dari belakang. Ekspresi bahagia terpancar jelas di raut wajahnya. Ia jelas menyukai Ryo. Mungkin lebih tepatnya, menyukai kekayaan Ryo!

“Oppa![ Kakak laki-laki : sebutan untuk perempuan]” sapa Nan Jeong dengan suara manjanya. Gadis manja ini sering kali menempel pada Ryo seperti magnet. Ia merasa bahwa Ryo adalah pria sempurna. Kaya, tampan dan ramah. Apa lagi yang ia butuhkan? Faktor-faktor itulah yang membuat rasa sukanya terhadap Ryo semakin dalam. Ia tahu dengan sangat jelas, bahwa Ryo hanya menganggapnya sebagai adik perempuannya, namun ia tidak lelah mendekatinya.

Ia juga sering meminta Ryo untuk mengantarnya kemana-mana, seperti mall, salon, cafe, bioskop dan tempat-tempat hiburan lainnya. Bahkan terkadang sampai memaksa dan marah jika keinginannya tidak dituruti.
“Omo! Kkamjakiya![ Aduh! (ucapan saat kaget atau terkejut)]” pekik Ryo kaget melihat Nan Jeong tiba-tiba bergelayutan di belakangnya.

“Oppa, ayo kita pergi!”

“Yaa! Mau pergi kemana?”

“Sudah ikut saja, nanti aku beritahu.” sahut Nan Jeong seraya menarik paksa lengan Ryo ke tempat pelataran parkiran mobil di kampus. Mau kemana lagi dia? pikir Ryo dalam hati.

Jae Hwan yang berdiri tak jauh dari Ryo, mengamati situasi itu. Ia menggeleng-gelengkan kepala seraya bergumam, “Sampai kapan bocah itu bisa tegas menghadapi gadis manja itu?”

“Ada apa?” tanya Da Jin yang tanpa sengaja mendengar Jae Hwan bergumam.

Jae Hwan melirik sekilas ke arah Da Jin. “Tidak, tidak ada apa-apa…” jawabnya.

Sesampainya di pelataran parkir, Ryo mengeluarkan kunci mobilnya dari saku celana. Ia mengarahkan kunci itu kepada mobil sedannya.

Bip!Bip!

Suara pintu mobil sudah bisa dibuka. Ryo masih terpekur begitu melihat Nan Jeong sudah lebih dulu membuka pintu mobilnya.

“Oppa!” panggil Nan Jeong. “Ayo!”

Hyeong, selamatkan aku kali ini. Ku mohon! ucap Ryo dalam hati. Kepalanya tertunduk pasrah mengikuti kemauan Nan Jeong. Ia melangkahkan kakinya yang terasa berat masuk ke dalam mobil.

Di belakang kemudi, Ryo tampak enggan menyalakan mesin mobilnya. Tangannya berpegangan pada stir. Ia menarik napas dalam-dalam, kemudian mengembuskannya pelan.

Sepanjang jalan di dalam mobil, Nan Jeong tidak melepaskan pandangannya sedikitpun dari Ryo. Ia duduk menyerong hanya untuk menatap laki-laki di sampingnya itu. Gadis bermata sipit itu terpana. Semuanya terlihat sempurna. Mata, hidung, bibir, kening dan bentuk dagunya. Semuanya terlihat sempurna tanpa cela. Ia begitu terhipnotis oleh pesona pemuda berdarah campuran itu.

Ryo mengalihkan pandangan sejenak dari kemudi. “Kenapa kau melihatku seperti itu?” tanyanya tidak nyaman.

Nan Jeong menggeleng seraya tersenyum. “Tidak, aku hanya merasa bahagia bisa selalu berada di dekatmu, Oppa.” jawabnya.

Ya, kau bahagia dan aku menderita! umpat Ryo dalam hati. “Jangan melihatku seperti itu, kau membuatku tidak nyaman!” gerutunya.

Tiba-tiba ponsel Ryo bergetar. Ada panggilan masuk. Setelah melihat ke layar ponselnya, wajahnya menjadi berseri-seri. Ia segera memasang earphone ke telinga dan menjawab panggilan itu.

“Yeoboseyo!”[ Halo!]

“Sedang apa kau bersama gadis manja itu? Apa kau tidak lelah meladeninya?”suara Jae Hwan terdengar dari ujung sana.

“Aa Hyeong!” ujar Ryo seraya melirik ke arah Nan Jeong. “Ya, aku mengerti. Aku segera ke sana sekarang.”

Ryo menutup telepon.

“Yaa Nan Jeong! Kau pasti akan membenciku.” ujar Jae Hwan sesaat setelah panggilan itu diputus. Ia tersenyum puas sambil memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celana.

“Ada apa?” tanya Nan Jeong.

“Emmm… maaf, Nan Jeong. Aku harus pergi bersama hyeong. Aku lupa kalau sudah telanjur janji hari ini akan pergi dengannya.” ujar Ryo sembari memasang mimik menyesal. Atau lebih tepatnya, berpura-pura menyesal tidak bisa menemani gadis manja itu.

Nan Jeong agaknya kecewa. Ia merubah posisi duduknya dan memandang ke depan. Memasang wajah merengut seperti anak kecil yang tidak dibelikan es krim.
“Kalau begitu, turunkan aku di sini saja!”

Ryo kenal nada suara itu. Nan Jeong sedang merajuk.

“Di sini? Apa kau serius?” tanya Ryo sambil melirik Nan Jeong.

Nan Jeong diam saja. Ia memasang raut wajah kesal dengan harapan Ryo akan lebih memilih pergi dengannya daripada Jae Hwan. Sambil memasang wajah polos tak berdosa, Ryo menoleh dan melihat raut wajah Nan Jeong. Oh gadis itu marah. Nan Jeong melemparkan tatapan sebal ke arah Ryo. Memperlihatkan terang-terangan wajah kekecewaannya dan tentunya akan sangat bodoh jika Ryo tidak mengetahuinya. Namun tetap saja, Ryo lebih rela disebut pemuda bodoh ketimbang harus berjalan mengitari kota Seoul hanya untuk bersenang-senang dengan Nan Jeong.

Ryo langsung menepikan mobilnya di jalan. Ia tidak ingin berlama-lama meladeni sifat Nan Jeong yang kekanak-kanakkan. Ia lalu meraih tas Nan Jeong di tempat duduk bagian belakang, “Ini tasmu,” ujarnya seraya mengulurkan tas itu kepada Nan Jeong.

Kali ini Nan Jeong mendengus sebal. Ia membuka pintu mobil dan beranjak melangkah keluar dengan berat hati.

“Hati-hati ya!” Ryo berseru keluar jendela seraya tersenyum lebar.

Nan Jeong menutup kasar pintu mobil Ryo. Wajahnya merah padam seolah semua darah sudah naik ke kepalanya. Ryo pun langsung menginjak gas mobil dan membawa laju mobilnya meninggalkan Nan Jeong sendirian di jalan.

“Oppa!!!” seru Nan Jeong gemas bukan main. Ia menghentak-hentakkan kakinya kesal ke jalan. “Kau tega sekali!” sambungnya seraya mengacak-acak rambut panjangnya frustrasi.

Ryo mengamati reaksi Nan Jeong lewat kaca spion mobilnya. Ia tersenyum puas. Sangat puas! Sudah lama sekali ia ingin memberikan gadis itu pelajaran.

“Hyeong, terima kasih!” serunya kegirangan.

Advertisements

Published by

Zakia Khairunnisa

Kia, just an ordinary girl by the imperfections. A girl who loves sweet and romantic things as in the fragrance of the land that exposed to rain, the magnificent form of eternal love Shah Jahan for his wife, the Taj Mahal monument in Agra, white roses and delicious Ferrero Rocher chocolates. A girl who has an outstanding love of Indian colourful music. Admiring Shreya Ghoshal, the marvelous playback singer who has voice of heaven.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s