Sekeping Kenangan Lama (2)

c8bbdd71783c566f4a3c7131144ff592Ryo Lee sedang menikmati sarapan bersama kedua orangtuanya. Ketiganya duduk tenang tanpa ada obrolan yang terdengar. Suasana begitu hening, hanya terdengar denting mangkuk yang beradu dengan sumpit. Ayah duduk di kursi utama. Sementara Ryo dan ibu duduk di kursi yang berseberangan, diantara ayah. Ayah sudah berpakaian rapi lengkap dengan kemeja dan dasi biru tua bergaris.

Ayah mengalihkan pandangan ke arah Ryo. Rahangnya berhenti mengunyah sejenak dan memanggil Ryo dengan suara beratnya yang tiba-tiba terdengar memecah keheningan di antara mereka.

“Ryo,”

“Ne, abeoji.[ Ya, ayah.]” sahut Ryo pelan usai menelan sesumpit Galbi atau daging iga sapi panggang yang dipotong pendek-pendek dari mangkuknya. Pemuda beralis tebal itu tampak sangat patuh dan menghormati sosok ayahnya. Baginya, ayah adalah pria yang sangat baik dan penuh kasih sayang dalam mendidik, namun bisa marah dan tegas jika diperlukan.

“Bagaimana kuliahmu?” tanya ayah membuka percakapan sembari meraih gelas berisi air putih di sisi tangan kanannya. Sebelum menjawab, Ryo melirik ke arah ibu. Wanita berparas ayu itu pun langsung memberikan isyarat kepada putra sulungnya agar segera menjawab pertanyaan ayah.

“Seperti biasa. Semuanya baik-baik saja, abeoji.” jawab Ryo.

“Benarkah?” ayah tertawa pendek dengan suara khasnya. Berat namun menyenangkan. Bila sedang tertawa, sikap tubuh ayah akan menegak kemudian bersandar di kursi dengan kedua lengan masih menempel di meja. Kemudian ayah melanjutkan usai menyuap sesumpit nasi dari mangkuknya, “Ryo, abeoji ingin kau meluangkan waktumu agar kita bisa berangkat ke Jakarta awal Desember nanti. Abeoji akan menyesuaikan tanggal keberangkatan dengan libur kuliahmu.”

“Desember?” tanya Ryo, alisnya terangkat sedikit, agak terkejut.

Ayah kemudian menyeka bibirnya dengan serbet putih disertai dengan anggukan kepala.

“Kantor cabang di Jakarta sudah bisa ditempati. Segala sesuatunya pun sudah selesai diurus. Abeoji akan mengosongkan jadwal agar kita bisa ke Jakarta menghadiri acara peresmiannya di sana. Kau sebaiknya ikut hadir. Di sana banyak rekan bisnis abeoji yang akan menghadiri undangan. Ini kesempatan baik untukmu agar bisa berkenalan dengan mereka. Mereka semua orang-orang penting. Dan itu sangat baik untuk kelangsungan perusahaan kita.” jelas ayah panjang lebar. Ia lalu melirik jam di tangannya dan segera berdiri, bersiap berangkat.

Kepala Ryo pun mendongak mengikuti gerakan tubuh ayah. Ia cepat-cepat berdiri. Menggeser kursinya sedikit ke belakang kemudian menundukkan kepalanya sekilas, memberi hormat.

aa4524fba3fbf562f0f89fc169f6c80eRyo kembali duduk ketika ayah beranjak melangkah menuju ruang tamu disusul ibu sambil membantunya mengenakan jas yang sudah disiapkan di sana. Ibu mengantarkan ayah sampai ke pintu depan. Dan tinggallah Ryo seorang diri di ruang makan. Duduk terdiam merenungkan ucapan ayahnya mengenai keberangkatannya ke Jakarta.

“Hati-hati!” suara ibu terdengar dari ruang tamu. Ia tersenyum cerah seraya melambaikan tangan ke arah ayah. Lalu kembali ke ruang makan menghampiri Ryo yang kelihatan sedang termangu. “Akhirnya kita kembali ke Jakarta,” katanya sambil mendesah senang, menahan rasa rindu pada kampung halamannya.

Ryo tersenyum samar. Wajahnya berubah seketika menjadi dingin. Ia lalu menyeka bibirnya yang basah karena air putih dan beranjak bangun dari duduknya. “Eomma, aku berangkat.” pamitnya. Suaranya terdengar lebih pelan dari biasanya.

Ibu mengamati wajah Ryo sejenak sembari mengangkat wajah putra sulungnya yang tertunduk muram kemudian bertanya dengan nada khawatir. “Kenapa wajahmu murung begitu? Kau sakit?”

Ryo menggeleng muram. Ia melepas tangan ibu dari wajahnya. Lalu segera berbalik membelakangi ibu. Ia mengambil kunci mobil dan melangkah pergi keluar rumah.

Ekspresi wajah muram itu. Bagaimana ibu bisa melupakannya? Ketika ayah berkata bahwa Ryo akan ke Jakarta dalam waktu dekat. Oh ya Jakarta, kota itu tidak memberikan kesan yang baik bagi Ryo. Sekeping kenangan lama kembali muncul ke permukaan. Sekeping kenangan yang bisa dengan mudah menyerap jiwa Ryo menjadi lemah. Ibu khawatir jika Ryo masih mengingat kejadian beberapa tahun lalu saat halmeoni [ Nenek]mendorong Anna Lee, adiknya.

“Halmeoni,” rintih Anna menangis kesakitan ketika nenek mendorongnya sampai jatuh. Sikut Anna terluka akibat dorongan keras itu. Ryo pun membantu adiknya berdiri. Matanya menatap neneknya kecewa bercampur sedih. Ia sangat tidak terima Anna diperlakukan kasar seperti itu.

“Bawa anak-anakmu pergi! Dan jangan pernah berani ke rumah ini lagi! Kau bukan lagi putriku sejak kau berani melangkahkan kaki keluar demi pria itu!” bentak nenek kepada ibu begitu histeris. Ia lalu membanting pintu rumahnya keras-keras hingga membuat jantung Ryo dan Anna nyaris berhenti berdetak karena terkejut.

Ibu sungguh tidak ingin putra sulungnya itu masih memelihara kebencian kepada nenek. Nenek yang sangat kecewa dengan keputusannya, putri satu-satunya untuk berpindah keyakinan. Awalnya ibu mengira bahwa orangtuanya akan melunak hatinya jika melihat kedua cucunya. Namun ia keliru, amarah dan kekecewaan nenek belum juga memudar dan semakin berang melihat ibu berani datang ke rumahnya.

“Yaa! Ryo Lee!” seru Jae Hwan saat menemukan Ryo sedang duduk menyendiri, termenung di Amphitheater kampus, sebuah gelanggang di ruang terbuka. Ryo menoleh tanpa minat ke arah sumber suara. Dari sana ia melihat Jae Hwan mengamit beberapa buku yang cukup tebal di tangannya. “Kudengar kau tidak masuk kelas ya? Kenapa?” tanya Jae Hwan heran. Ia melangkahkan kaki, berjalan mendekati Ryo.

“Hyeong, tinggalkan aku sendiri,” pinta Ryo sambil mengusap wajah dengan kedua tangan untuk sedikit menyadarkan diri.

“Apa??” Jae Hwan sudah melotot lalu menepak kepala Ryo dengan bukunya.

“Aisssh!” Ryo mendesis keras. “Apayo![ Aduh sakit!] serunya kesakitan sembari mengusap-usap kepala.

“Issshhh!” Kali ini Jae Hwan yang mendesis keras. Ia mulai mengambil tempat di sisi Ryo dan bertanya, “Ada apa?”

Dahi Ryo berkerut. “Ah Lupakan!” katanya seraya mengibaskan sebelah tangan. Enggan membagi masalah yang mengganggu pikirannya saat itu. Rasanya ingin menyepi sejenak. Menjauh dari peradaban. Ia lalu beranjak bangun dari duduknya dan pergi berlalu meninggalkan Jae Hwan seorang diri di sana.

“Yaa!” kepala Jae Hwan berputar mengikuti kemana arah Ryo pergi. “Anak ini semakin aneh saja kelakuannya.” gerutunya heran.

“Jae Hwan!” panggil Han Da Jin dari kejauhan. Ia berlari-lari kecil menghampiri lelaki bertubuh tinggi tegap itu. “O, bukankah itu Ryo?” tanyanya ketika melihat Ryo berlalu pergi. Jae Hwan lalu menganggukkan kepala. “Apa kalian sedang bertengkar? Aku melihat kau tadi memukulnya, ada masalah apa?”

“Aa, tidak ada masalah apa-apa. Aku tadi hanya menggodanya.” jawab Jae Hwan sambil tertawa kecil.

“Oh begitu.” gumam Da Jin.

Jae Hwan termenung beberapa saat. Menatap punggung Ryo yang semakin menjauh darinya dengan khawatir. Anak itu pasti sedang dalam masalah, pikir Jae Hwan.

Advertisements

Published by

Zakia Khairunnisa

Kia, just an ordinary girl by the imperfections. A girl who loves sweet and romantic things as in the fragrance of the land that exposed to rain, the magnificent form of eternal love Shah Jahan for his wife, the Taj Mahal monument in Agra, white roses and delicious Ferrero Rocher chocolates. A girl who has an outstanding love of Indian colourful music. Admiring Shreya Ghoshal, the marvelous playback singer who has voice of heaven.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s