Menolak Untuk Percaya (3)

MSG091014_095-1024x682Ryo duduk menyendiri dengan tampang muram di sebuah bar di daerah Apgujeong. Kepalanya bersandar malas di atas meja. Matanya yang sayu mengamati cairan kuning keemasan di dalam gelasnya sambil melamun. Baru setengah jam saja, ia sudah mabuk. Pemuda itu benar-benar tidak kuat minum. Ia berharap sedikit anggur putih bisa meringankan sakit di dadanya.

Masih melekat dalam ingatannya, kehilangan Anna Lee, adik perempuan satu-satunya yang sangat ia sayangi. Setelah Anna Lee meninggal, ia sempat mengurung diri di kamar. Tidak nafsu makan dan menangis berhari-hari sampai kelopak matanya bengkak dan berkantung. Wajahnya memutih, layu dan pucat. Ia merasa amat kehilangan hingga mudah sekali menangis.

Saat peristiwa itu terjadi, usia Ryo baru empat belas tahun. Ayah dipindahtugaskan ke Singapura sebelum memutuskan bergabung dengan Lee Sun Grup di Korea. Ryo dan adiknya pun bersekolah di sana. Penyakit Anna mulai tercium semenjak gadis itu mengeluh tangan kanannya yang kaku dan sulit digerakkan. Ia juga mudah kehilangan keseimbangan dan sering terjatuh. Karena khawatir melihat keadaan Anna yang tak kunjung membaik, ibu membawa Anna ke sebuah fisioterapi. Tangan dan kaki Anna dikejutkan oleh listrik dalam voltase ringan untuk merespon syaraf-syarafnya.

Mulanya gadis berusia sebelas tahun itu merasa takut dan sempat menangis, namun ibu memberikan pengertian dengan lembut. Ryo sama sekali tidak merasa curiga akan kesehatan adiknya. Ia mengira bahwa adiknya hanya terkilir atau semacamnya yang tidak membahayakan. Sampai ahli fisioterapi menyarankan untuk melakukan pemeriksaan CT scan.

Ibu dan ayah membawa Anna ke salah satu rumah sakit di Singapura. Ryo yang saat itu masih berseragam sekolah pun, terpaksa izin. Ikut menemani adiknya ke rumah sakit sekaligus menenangkannya karena Anna memang sangat tidak menyukai suasana di rumah sakit yang putih, kelabu, dingin dan suram.

Sudah satu jam menunggu, wajah ayah dan ibu kian pucat. Mereka cemas menunggu hasil CT scan Anna. Dokter pun keluar dari ruangan, memanggil mereka. Saat itu Ryo disuruh menunggu di ruang tunggu rumah sakit.

Setelah hampir lima belas menit menunggu, orangtuanya kembali padanya dengan wajah pucat. Mata ibu bahkan sudah berkaca-kaca. Bibir bawahnya bergetar karena sedih dan air matanya pun menitik. Ibu mengatakan bahwa Anna menderita kanker batang otak. Dokter pun sudah memperkirakan bahwa usia Anna hanya bisa bertahan maksimal satu tahun, paling cepat tiga bulan. Mendengar penjelasan itu, kaki Ryo mendadak lemas seperti tak bertulang. Ia terjatuh lemas di kursi. Air mata mulai mendesak perih keluar dari matanya. Butiran-butiran bening itu perlahan meluncur membasahi pipinya. Ia menggeleng, menolak untuk percaya.

Setiap kali melihat wajah Anna, Ryo tak kuasa menahan gejolak emosi, meyakini kenyataan yang memilukan. Ia pergi berpura-pura ke kamar mandi. Menahan isak tangis untuk menutupi kesedihan yang selama ini ia pendam. Ia tidak ingin Anna melihatnya menangis. Rasanya ingin menjerit sekuat-kuatnya dan berteriak bahwa ini tidak benar-benar terjadi. Bahwa adiknya baik-baik saja dan akan segera sembuh.

Tak pernah terlintas di benaknya jika adiknya yang selalu ceria itu akan terkena penyakit ganas yang mematikan. Ia selalu meyakinkan dirinya bahwa adiknya bisa sembuh. Walaupun kondisi fisik Anna semakin jauh dari kesembuhan.

Kaki yang tidak bisa digerakkan, air liur yang selalu menetes dari mulutnya karena kesulitan menelan, lidah yang kelu hingga tidak bisa bicara, mata yang perlahan terlihat juling. Sampai pada seluruh anggota tubuhnya yang lumpuh. Hanya dapat terbaring lemas di atas kasur.

Di awal bulan ke sembilan, Anna mengembuskan napas terakhirnya. Ketika dokter menyatakan bahwa adiknya sudah tiada, Ryo terhenyak. Sebulir air mata bergulir turun di pipinya tanpa suara. Sekujur tubuhnya bergetar hebat. Syaraf dan ototnya terasa dingin membeku. Dadanya pun sesak. Ia terduduk lemas menatap jasad Anna yang sudah terbujur kaku. Memandangi wajah Anna yang sudah membiru kekuningan. Butiran panas bergulir deras di pipinya. Hari yang ia takutkan benar-benar terjadi.

Jae Hwan tengah bersandar di sofa ruang tengah. Kakinya dipanjangkan ke atas meja sementara sebelah tangannya memegang buku. Akhir-akhir ini ia sedang disibukkan dengan belajar untuk menyelesaikan tugas akhirnya. Tiba-tiba ponselnya bergetar. Ia mengangkat ponsel, melihat layarnya dan nama Ryo Lee tertera di sana.

“Yeoboseyo!”

“Apa Anda mengenal Lee Ji Woo?” ucap seseorang bartender menyebutkan nama asli Ryo Lee dilatari dengan alunan musik jazz bernada rendah. Ia menemukan nomor ponsel Jae Hwan dari panggilan cepat Ryo di ponselnya. Sebelum menelepon, ia sudah mencari kartu idenditas Ryo di dalam dompetnya.

Jae Hwan mengerutkan dahi. Ini bukan suara Ryo. pikirnya. “Ya, ada apa?”

“Bisakah Anda datang menjemputnya? Dia mabuk sampai tidak sadarkan diri. Saya sudah menyuruhnya untuk pulang, tapi dia tidak mau dengar.” jelas bartender itu sedikit panik.

Mata Jae Hwan terbelalak. “K-Kau bilang apa?” Ia berharap telinganya salah dengar. Dan sesaat setelah seorang pria di ujung sana kembali menjelaskan keadaannya, Jae Hwan memejamkan matanya rapat-rapat, menahan geram.

Setelah mengetahui keberadaan Ryo, ia segera mengambil jaket di kamar dan bergegas menuju Apgujeong.

Sejurus kemudian, setelah menyapukan pandangan ke seluruh sudut ruangan, Jae Hwan menangkap sosok Ryo sedang duduk di kursi berkaki tinggi dengan kepala bersandar di atas meja bar. Rupanya Ryo sudah menghabiskan minuman keras itu sebotol. Ia lalu meraih botol anggur di meja kemudian mengendusnya. Dahinya berkerut semakin dalam lalu menjauhkan botol itu darinya. Cih! umpatnya dalam hati.

Ponsel Ryo bergetar. Ada panggilan masuk. Jae Hwan meraih ponsel itu dari atas meja lalu melihat layar dan muncul nama ‘Eomma’ di sana. Ia menghela napas berat sebelum menjawab panggilan itu.

“Y-Yeoboseyo?”

“Yaa! Ryo Lee!” teriak ibunya Ryo cemas. Darahnya sudah mendidih. Naik ke ubun-ubun. Jae Hwan menjauhkan telinganya dari ponsel. “Dimana kau?! Eomma sudah susah payah mengandungmu sembilan bulan, tapi kau malah bersikap seenaknya!”

Sebelum menjawab, Jae Hwan berdehem. “Annyeong hashimnikka, ahjumoni?[ Apa kabar, bibi!]”

Dahi ibu berkerut.

“Ini Jeong Jae Hwan, saat ini Ryo sedang di kamar mandi. Mungkin malam ini, dia menginap di rumahku.” ucap Jae Hwan sedikit canggung sambil menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya. Ia terpaksa berbohong.

Ibu langsung memekapkan tangan ke mulut. Wajahnya langsung merah seketika. Malu. “O-o… maaf ya Jae Hwan, ahjumoni kira kau ini Ryo.”

“Tidak apa-apa.”

“Terima kasih ya sudah mau memberi kabar. Anak itu malas sekali walau hanya sekedar telepon.” gerutu ibunya Ryo.

Jae Hwan pun memaksakan senyum mendengarnya. Ia menganggukkan-anggukkan kepala mengiyakan, sementara tangannya menyentuh kepala Ryo dan mengacak-acak rambut lelaki pemabuk itu geram. Sesaat kemudian ia menutup teleponnya.

Braaak! tangannya menghentakkan meja. Ryo pun tersentak kaget dibuatnya. Ia mengerang pelan dan memaksakan diri membuka mata. Samar-samar ia melihat Jae Hwan sudah geram menatapnya.

“Yaa! Ryo Lee!”

Ryo mengerjap. Ia tampak kebingungan seperti orang yang tersesat.

“Yaa! Bangun kau!” seru Jae Hwan meradang. Ia menggeleng-gelengkan kepala keheranan melihat lelaki yang berada di depannya. Entah apa yang membuat pemuda itu mabuk berat. Ia sama sekali tidak mengerti.

“Aa… hyeong?” Ryo menyipitkan mata. Tangannya berayun terangkat lalu memijit-mijit hidung Jae Hwan seperti mainan. “Iya, ini hyeong! Hidungnya bengkok!” sambungnya sambil menyunggingkan senyuman lebar seolah mengejek.

Jae Hwan mendesis keras. Ia langsung menepis tangan Ryo dari wajahnya dan memaksakan tawa sumbang. Memasang mata menyala, sudah siap menelan laki-laki di depannya itu bulat-bulat. Ia tidak percaya untuk pertama kalinya melihat Ryo minum sampai mabuk berat.

“Ayo pulang!” Jae Hwan menarik tangan Ryo untuk membawanya pulang.

“Aiiisssh!” Ryo menepis tangan Jae Hwan. Ia tidak ingin pergi dari sana. Jae Hwan melirik Ryo sejenak, kemudian membuang muka. Malu. atau jangan-jangan merasa muak menatap Ryo yang sedang mabuk sampai hilang kesadaran.

“Yaa!! Sadarlah!” bentaknya sambil menguncang-guncang badan Ryo. “Kau bisa dilempar ke jalan kalau tetap berada di sini!”

Ryo mengangguk-anggukan kepala seolah mengerti. Ia lalu mencoba berdiri. Terhuyung lalu menatap ke dalam mata Jae Hwan yang sangat kecewa sekaligus marah. Ia langsung takut dan diam sembari meletakkan telunjuk di bibir.

“Ayo pulang…” ujarnya tersenyum lebar sembari memejamkan mata. Menganggukan kepala berkali-kali seperti orang bodoh. Dan tak lama badannya langsung tumbang di depan Jae Hwan. Beruntung Jae Hwan langsung menopangnya.

Jae Hwan membuang muka, lalu menghela napas berat. Ia kesulitan membawa Ryo pulang hingga akhirnya terpaksa menggendong Ryo di punggung sampai ke parkiran mobil.

“Hyeong, kau pasti mengira aku sangat bodoh kan?” lirih Ryo tanpa sadar. “Aku merindukan Anna Lee. Aku rindu padanya…” Berkali-kali ia menyebut nama adiknya. Ia terus meronta-ronta tidak bisa diam. Kadang menangis, kadang tertawa bahkan marah-marah tanpa sebab sampai memukul punggung Jae Hwan bertubi-tubi.

Setibanya di rumah, Jae Hwan disambut Rich. Seekor anjing Golden Retriever berbulu lebat kesayangannya.

Guk! Guk! Rich menyalak. Anjing berbulu coklat keemasan menyambut pemiliknya datang. Ia mengibas-ngibaskan ekornya penuh semangat.

Guk! Guk! Rich terus mengikuti Jae Hwan sembari mengibas-ngibaskan ekornya.

Jae Hwan membanting tubuh Ryo ke kasur. “Aaahhh… aku bisa gila!” keluhnya. Ia mengerang kelelahan karena harus memapah Ryo sampai ke rumah. Matanya kini tertuju pada sebuah dompet di saku celana Ryo. Ia mengambil dompet itu dan membukanya. Dilihatnya foto Anna Lee, adik perempuan Ryo yang telah meninggal.

Guk! Guk! perhatian Jae Hwan beralih pada Rich. Ia mendekati Rich, sementara anjing itu tetap menjulurkan lidahnya sembari mengibas-ngibaskan ekornya.

“Aaa, Rich! Sebentar ya.” ujarnya sambil mengusap-usap lembut kepala Rich. Ia mengisi wadah makanan Rich yang kosong dengan daging segar kesukaan Rich. Dan anjing itu pun menikmati makan malamnya sembari tetap mengibas-ngibaskan ekornya.

Advertisements

Published by

Zakia Khairunnisa

Kia, just an ordinary girl by the imperfections. A girl who loves sweet and romantic things as in the fragrance of the land that exposed to rain, the magnificent form of eternal love Shah Jahan for his wife, the Taj Mahal monument in Agra, white roses and delicious Ferrero Rocher chocolates. A girl who has an outstanding love of Indian colourful music. Admiring Shreya Ghoshal, the marvelous playback singer who has voice of heaven.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s