Anna Lee (4)

ef2b5d4ff0f4aae263ab34f9ac86306dRyo Lee masih terlelap. Tubuhnya terbenam dalam balutan selimut tebal. Sinar matahari pagi perlahan menyeruak masuk menembus tirai jendela kamar Jae Hwan. Hangatnya menerpa wajah pemuda itu. Membuatnya mengerutkan alis dan mengerang kesal kemudian menarik selimut menutupi wajahnya.

Rich datang menghampiri sosok Ryo sambil mengibas-ngibaskan ekor dan menjulurkan lidahnya dengan manja. Anjing itu berputar-putar di dekatnya, menggapai kaki Ryo dengan kakinya kemudian menjilat-jilatinya. Namun rupanya jilatan itu masih belum juga membuat Ryo terbangun dan membuka mata. Pemuda itu hanya menggeliat pelan. Tubuhnya terasa berat dan kaku. Ia lalu memaksakan diri berguling ke samping. Rich pun kembali menjilati kakinya.

Jae Hwan hanya memandang geli dari pintu kamar yang terbuka. Ia berusaha keras menahan ledakan tawa. Pria yang akrab dengan Ryo ini tahu persis bahwa Ryo sangat takut dengan anjing.

Ryo mengerutkan alis, mengejap-ngejapkan mata. Ia menutup mata dengan sebelah tangan karena silau akan cahaya matahari yang masuk menembus jendela kamar. Kepalanya terasa sangat berat karena efek terlalu banyak minum.

Ryo membuka matanya yang terasa berat lalu mengerang pelan. Samar-samar ia melihat sekelilingnya. Ini seperti kamar hyeong, pikirnya. Ia menguap lebar sambil merenggangkan lengan dan kaki dengan posisi masih terbaring di tempat tidur. Ia pun memaksakan diri untuk bangun dan duduk di tepi ranjang. Dahinya berkerut samar ketika merasa ada yang aneh dengan kakinya. Basah? pikirnya.

Lalu ia mendengar suara itu. Suara napas berat di dekatnya. Napas itu menderu kian cepat. Ia pun terkesiap pelan dan menelan ludah. Ia berusaha menangkan diri. Perlahan ia melirik ke balik bahunya.

Guk!!! Rich menyalak.

Kepanikan Ryo pun meledak. Ia terlompat kaget hingga tubuhnya jatuh tersungkur ke lantai. “Aaaaa!!!” jeritnya.

Guk! Guk! Rich kembali menyalak. Kali ini ia mendekat. Lidahnya menjulur keluar, memandang Ryo dengan matanya yang lugu.

“Hyeong! Hyeong!” seru Ryo panik. Ia mencoba menjauhkan diri dari Rich yang berusaha mendekatinya. Tubuhnya pun sudah terpojok ke dinding karena ketakutan. “Hyeong! Hyeong!”

Jae Hwan tertawa terkekeh-kekeh mendengar pekikan Ryo yang takut setengah mati. Ia sampai memegangi perutnya yang sakit karena tertawa geli.

“Shoo! Shoo!” usir Ryo sembari mengarahkan sebelah kakinya yang masih berbalut kaos kaki ke Rich.

Guk! Guk! Rich mengibaskan ekornya senang.

Ryo pun lari terbirit-birit keluar kamar dan cepat-cepat menutup pintu. “Arrrggh! Jinjja![ Ya ampun!]” erangnya frustasi. Ia menyandarkan punggung ke pintu sembari mendesah lega. Jantungnya masih berdebar kencang. Napasnya menderu seperti habis diburu hantu. Ia mendapati Jae Hwan sedang duduk menertawakannya.

“Kau tidak apa-apa?” tanya Jae Hwan sambil terkekeh-kekeh.

“Yaa! Hyeong!” pekik Ryo kesal. Ia memejamkan matanya rapat-rapat meredakan emosi. Jae Hwan berhasil mengerjainya.

Jae Hwan menggeleng-gelengkan kepala. Mungkin ia ingin membalas karena telah membuatnya menggendong Ryo sampai ke rumah. Lelaki bertubuh tinggi tegap itu, jarang sekali minum kecuali jika ada acara tertentu yang mengharuskannya untuk minum. Ia juga tidak merokok. Hidupnya sangat sehat. Jauh dari rokok dan alkohol. Berbeda sekali dengan Ryo yang mudah mabuk jika sedang dalam masalah.

“Itu hukuman buatmu karena mabuk sampai tidak sadarkan diri. Jika ibumu tahu, aku bisa digantungnya hidup-hidup! Untung saja bartender itu tidak menghubungi ibu ataupun ayahmu. Kalau sampai ia melakukannya, habislah kau!” katanya mengingatkan.

Mendengarnya, Ryo langsung berjalan cepat menghampiri Jae Hwan dan duduk di hadapannya. Ia mendadak panik. Menatap mata Jae Hwan dengan matanya yang bulat “L-lalu bagaimana? Apa ibuku menelepon?”

“Tentu saja!”

“Lalu kau bilang apa padanya?”

“Aku bilang kau menginap di rumahku. Ah lain kali aku tidak mau lagi membantumu. Ini terakhir kalinya!” gerutu Jae Hwan. “Sekarang pakai sepatumu! Kita olahraga!”

Ryo mendesah lega sembari memegang dada.

Melihat Ryo malah bersikap santai, mata Jae Hwan melotot dan berseru jengkel. “Ayo cepat!”

Ryo mengibaskan sebelah tangan tanda menolak. “Ah aku tidak ikut, kepalaku sakit! ujarnya beralasan. Dengan rambut awut-awutan, ia menguap lebar sembari menggaruk-garuk badan. Melenggang menuju kamar kecil untuk buang air tanpa menutup pintu.

“Yaa!” Jae Hwan memelototi anak muda itu kemudian menendang pintu kamar mandi. “Kau ini benar-benar keterlaluan ya! Sudah ku tolong, malah bersikap seenaknya. Ayo cepat pakai jaketmu!” perintahnya sembari melemparkan jaket ke kepala Ryo.

Ryo memejamkan matanya rapat-rapat. Menahan diri untuk tidak marah.

“Yaa!” tegur Jae Hwan lagi.

Ryo mendesis keras. “Aiiissh!” kepalanya lantas berputar cepat. Memandang kesal ke arah Jae Hwan. “Hyeong, kau tidak lihat aku sedang buang air?!”

Jae Hwan mengangkat sebelah bibir. “Kalau begitu, cepat!”

Kepala Ryo tertunduk. Tidak punya pilihan lain selain menuruti perintah Jae Hwan.

Sial! umpatnya diam-diam.

Lima menit kemudian, Jae Hwan dan Ryo lari pagi mengitari kawasan perumahan di Seoul. Menghirup udara dingin meski semilir angin pagi lumayan menusuk kulit. Pagi itu, Ryo mengenakan jaket biru putih dengan celana panjang berkantung. Sementara Jae Hwan mengenakan jaket tebal hitam dengan garis putih di kedua sisi lengannya.

“Hyeong! Tunggu aku!” panggil Ryo dengan napas terputus-putus. Namun Jae Hwan, pria yang tidak memiliki kelopak mata itu, terus berlari jauh meninggalkannya. Baru lari sebentar saja, Ryo sudah kelelahan. Ia sempat berhenti sejenak mengatur napasnya, lalu kembali melanjutkan menyusul Jae Hwan.

Setelah lelah berlari, mereka berhenti sejenak sambil beristirahat di area taman. Ryo berjalan sempoyongan lalu mengempaskan tubuhnya yang banjir keringat ke bangku taman. Usai meneguk air mineral, Jae Hwan memberikannya kepada Ryo yang tampak lebih membutuhkannya. “Kenapa semalam mabuk berat?” tanyanya. “Apa karena Anna?”

Sejenak Ryo terdiam. Ia mengatur napas, mengambil napas dalam-dalam lalu mengembuskannya pelan seperti melepas beban. “Aku akan berangkat ke Jakarta awal Desember nanti.” jawabnya pendek.

“Lalu?”

“Aku masih duduk di kelas sembilan sewaktu kakekku meninggal. Ibu mengajakku kembali ke Jakarta untuk memberikan penghormatan terakhir. Tapi nenek rupanya tidak menyukai kedatangan kami. Aku masih ingat ketika wanita itu mendorong Anna sampai jatuh. Sikut Anna sampai terluka dan dia menangis. Sampai hari ini aku masih belum bisa melupakan kejadian itu. Aku tidak membencinya. Aku hanya tidak menyukai wanita itu, hyeong. Apapun yang berhubungan dengannya.”

Selagi Ryo bercerita, Jae Hwan menatapnya serius.

“Dua minggu setelah kejadian itu, Anna divonis terkena kanker. Seandainya… seandainya saat itu aku tahu Anna sedang sakit. Aku tidak akan melepaskan wanita itu. Aku bahkan tidak melepaskan siapapun yang berani mengganggu Anna saat di sekolah. Apalagi sampai ada yang menyakitinya” jelasnya dengan tatapan mata menerawang, menahan rasa perih di matanya.

“Memangnya kau ke sana untuk bertemu dengannya?”

Ryo diam sebentar, nada suaranya berubah seperti tertahan, sedih. “Sebenarnya tidak. Tapi aku sangat yakin, ibu akan datang menemuinya. Kami sudah lama sekali tidak kembali ke sana dan sudah pasti ibu tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu.” tangannya mulai gemetar. Sekeping luka lama perlahan mulai berkecamuk dalam dadanya. Ia kemudian merebut air mineral botol dari tangan Jae Hwan, meminumnya hingga tandas tak bersisa.

Jae Hwan menatap Ryo bingung bercampur sedih. Ia tidak bisa berkata apa-apa. Menghibur dengan kata-kata menenangkan itu sama sekali bukan sifatnya. Untuk beberapa saat, hening berlalu diantara keduanya.

“Ayo kita balapan lari sampai ke rumah!” seru Jae Hwan sambil menepuk lutut dan bangkit berdiri.

Ryo menengadahkan kepala ke langit sembari menggerutu dengan nada malas, “Hyeong, aku masih lelah.”

Kedua bola mata Jae Hwan membesar dan berkata dengan nada memerintah,

“Ayo!”

Advertisements

Published by

Zakia Khairunnisa

Kia, just an ordinary girl by the imperfections. A girl who loves sweet and romantic things as in the fragrance of the land that exposed to rain, the magnificent form of eternal love Shah Jahan for his wife, the Taj Mahal monument in Agra, white roses and delicious Ferrero Rocher chocolates. A girl who has an outstanding love of Indian colourful music. Admiring Shreya Ghoshal, the marvelous playback singer who has voice of heaven.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s