Jika Pernikahan Membuatmu Kecewa

pink-rose-bud-diamond-ring-6210690Apakah pernikahan selalu berakhir dengan perceraian?

Sejenak pertanyaan itu membuatku khawatir. Mengingat kegagalan-kegagalan anggota keluargaku sebelumnya yang bercerai. Ketika usiaku 24 tahun-belum usai kuliahku-ibuku memperkenalkanku dengan seorang laki-laki. Laki-laki itu adalah temannya di sebuah perguruan tinggi. Laki-laki itu selisih dua tahun dariku. Ia sudah siap menikah dan berkunjung ke rumah sekedar melihatku untuk pertama kalinya.

Terus terang saja, sebelumnya aku tidak tertarik dengan pernikahan. Ada sesuatu yang menahanku untuk segera menikah. Sesuatu yang membuatku takut. Takut akan berakhir seperti orangtua dan kakak perempuanku. Laki-laki itu perlahan mencoba mendekatiku. Berusaha membuatku jatuh cinta padanya melalui obrolan-obrolan singkat yang tak pernah kubalas dengan ketertarikan.

Aku santai saja menanggapinya. Aku tidak terburu-buru untuk menikah seperti perempuan-perempuan lainnya. Ada sesuatu dalam diriku yang harus kutata terlebih dahulu sebelum mengambil keputusan untuk menikah. Dan akhirnya aku tak butuh usaha yang keras untuk membuat laki-laki itu pergi. Kabar terakhir yang ku dengar dia sudah menikah. Ya, aku turut senang mendengarnya.

Pernikahan membuatku takut tapi tidak bisa mencegahku untuk mencintai. Beberapa kali aku jatuh cinta dengan laki-laki yang salah. Dan aku tidak menyalahkan diriku atas kegagalan-kegagalan itu. Tak jarang cintaku bertepuk sebelah tangan, tak jarang juga hubunganku dengan pria kandas di tengah jalan. Beberapa pria datang mendekat, mewarnai hari-hariku begitu indah, namun dalam sekejap mereka hilang tanpa kabar. Begitulah, kisahku tak pernah usai. Selalu terputus di tengah jalan.

Akhirnya aku memutuskan untuk tidak mencari. Tidak juga menunggu. Aku hanya menikmati hidupku dengan bekerja. Kuhabiskan hari-hariku dengan setumpuk kertas di mejaku. Aku lelah tapi aku bahagia. Tak ada pria yang mengganggu keseimbanganku untuk melanjutkan hidup. Semua berjalan lancar sampai akhirnya aku menyadari bahwa usiaku sudah mendekati kepala tiga.

Ibuku semakin khawatir karena tak pernah sekalipun aku terlihat jatuh cinta. Tak pernah sekalipun aku mengenalkan seorang pria padanya. Beberapa teman-temanku sudah melepaskan masa lajangnya dan bersiap membuka lembaran baru. Teman-temanku pun sudah mulai berkurang. Beberapa di antara mereka sudah tidak ada waktu lagi untuk berkumpul seperti dulu.

“Lalu apa yang kucari dari seorang pria?”

Aku tak bisa menjawab pertanyaanku sendiri. Aku belum menemukan pria yang bisa membuatku yakin untuk melangkah setahap lebih maju dalam hidupku. Perceraian kedua orangtua, kakak perempuanku dan beberapa temanku sekilas terbayang di kepalaku. Bayangan-bayangan itu sekejap membuatku takut untuk menikah. Bagi perempuan lajang yang sedang jatuh cinta dan akan segera menikah, tentunya mereka akan memandang pernikahan adalah sebuah jalan menuju kebahagiaan dan menghilangkan rasa sepi.

Sampai suatu hari Allah mempertemukanku dengan seorang pria yang berani menemui kedua orangtuaku. Ia mengutarakan niatnya untuk menikah denganku. Kami baru berkenalan 1.5 bulan dan ia sudah bertanya, “Kapan aku bisa bertemu orangtuamu?”

Entah aku harus senang ataukah sedih? Pria yang baru saja kukenal sudah berani melamarku. Sepuluh tahun lamanya aku menunggu hatiku mantap untuk menikah. Perasaan bahagia, sedih dan khawatir bercampur jadi satu.

Kehadirannya membuatku teringat akan pepatah, “Tuhan mempertemukan kita dengan orang yang salah sebelum mempertemukan kita dengan orang yang tepat…”

10 April 2016 lalu, aku memantapkan diri melangkah ke pelaminan. Menikahi pria yang membuatku yakin bahwa pernikahan bukan hanya gerbang menuju kebahagiaan melainkan tempat kita menyimpan amarah, duka dan juga tempat kita mengekspresikan cinta dan kesetiaan.

Karena sejatinya jika kita berharap pernikahan adalah gerbang menuju kebahagiaan dan mengusir sepi, tentunya pernikahan akan membuatmu kecewa. Dalam pernikahan, semakin bertambahnya hari, semakin banyak kekurangan-kekurangan dari pasangan yang terbuka dan akan membuatmu sedih dan kecewa. Namun banyak juga kelebihan-kelebihan pasangan yang akan membuatmu jatuh cinta setiap harinya.

Karena pernikahan tidak melulu soal cinta. Pernikahan adalah proses pembelajaran diri. Proses pendewasaan dalam menghadapi setiap masalah yang terjadi. 

Advertisements

Published by

Zakia Khairunnisa

Kia, just an ordinary girl by the imperfections. A girl who loves sweet and romantic things as in the fragrance of the land that exposed to rain, the magnificent form of eternal love Shah Jahan for his wife, the Taj Mahal monument in Agra, white roses and delicious Ferrero Rocher chocolates. A girl who has an outstanding love of Indian colourful music. Admiring Shreya Ghoshal, the marvelous playback singer who has voice of heaven.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s