Heart-Binding Friendship (2)

Setelah duduk manis di dalam bus dan bus mulai melaju, Isa membantu mengikatkan pita berwarna putih di puncak kepangan rambut Amira. Kemudian gadis kecil itu berceloteh panjang lebar mengenai kepulangan Papanya dari Dubai. Mengenai oleh-oleh yang dibawa Papa untuknya. Sambil tersenyum Isa mendengarkan. Dia tidak pernah memotong cerita Amira dan selalu mendengarkan sampai selesai.

“Kau bawa bekal apa hari ini?” tanya Amira usai bercerita. Bola matanya melirik sedikit ke arah tas punggung di bawah kaki Isa.

Isa tidak langsung menjawab. Ada keheningan yang cukup lama hingga akhirnya ia menjawab, “Aku tidak lapar, Shiba.”

Senyum Amira perlahan memudar. Ia terdiam menatap prihatin teman laki-laki bertubuh kurus di sampingnya. Isa mengerjap-ngerjap, menahan air mata. Memaksakan sepotong senyum dengan gemetar.

3a87911d3f005850268b7717c897352eAwal cerita, Isa adalah kakak kelas Amira di sekolah. Usianya dua tahun lebih tua dari gadis kecil itu. Mereka bertemu ketika Amira berusia enam tahun. Ketika Papa kelelahan menyetir sepulang dari perjalanan bisnis di luar kota. Ketika mobil yang dikemudikan Papa nyaris menabrak Ayahnya Isa.

Papa turun dari mobil dan Amira berlari mengejar. Gadis kecil itu mengintip dan bersembunyi di belakang kaki Papa. Untuk pertama kalinya, gadis kecil berambut hitam lurus itu melihat Isa dalam genggaman tangan Ayahnya. Wajah anak lelaki itu pucat dan matanya bengkak. Pandangan mereka bertemu sementara kedua Ayah mereka saling bicara. Amira mendengar Papa berulangkali menyatakan penyesalannya dan meminta maaf kepada Ayahnya Isa. Dan sepertinya tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Ayah dan anak laki-laki itu baik-baik saja.

Waktu merangkak cepat. Satu tahun berlalu setelah kejadian itu, keduanya kembali dipertemukan di sebuah sekolah swasta paling bergengsi di kota itu. Ayah kandung Isa bekerja sebagai petugas kebersihan di sekolah mereka. Isa adalah anak pendiam dan cenderung penyendiri. Dia bukan berasal dari keluarga berada seperti teman-teman sekolahnya. Perbedaan status sosial di antara Amira dan Isa terkadang membuat anak laki-laki itu kehilangan percaya diri dan sangat memprihatinkan ketika teman-teman di sekolah sering mengucilkannya. Mereka memandang Isa tak lebih dari seorang anak gelandangan mujur yang bisa bersekolah dengan gratis di sekolah itu. Bahkan tak jarang teman-teman di sekolah menjatuhkannya dengan sebutan ‘Anak Jamur. Sebuah ejekkan terkutuk bagi anak-anak miskin dan tidak beruntung sepertinya.

Amira mendapati Isa sedang duduk seorang diri. Menonton pertandingan futsal dari undakan tangga batu di depan kelasnya.

“Kenapa setiap kau tersenyum, ada lubang di kedua pipimu?” tanya Amira pada Isa untuk pertama kalinya.

Isa menoleh padanya. Keningnya berkerut tidak mengerti. Menyiratkan sebuah tanya yang menggantung namun tidak terucap. Apa dia tidak salah menyapa orang?

Melihat Isa terdiam tanpa jawaban, Amira pun mengambil tempat di sebelahnya dan bertanya sekali lagi, “Kenapa setiap kau tersenyum ada lubang di kedua pipimu?”

Amira mendapati Isa membuka mulutnya. Seperti berusaha menemukan suara yang mendadak hilang di tenggorokan. “E-entah. Aku tidak tahu.” jawab Isa sekenanya.

Kemudian, Amira melipat kedua lengannya, menyandarkan kepala di atas lutut sembari memandangi Isa dan berkata bahwa ia suka melihat anak laki-laki itu tersenyum.

Ungkapan Amira membuat Isa balas bertanya, “Kapan kau pernah melihatku tersenyum?”

“Sewaktu kau bersama Ayahmu, kau tersenyum.” jawab Amira singkat.

Lalu, perkenalan itu mengantarkan keduanya pada hubungan persahabatan yang kelak mengikat hati.

Advertisements

Published by

Zakia Khairunnisa

Kia, just an ordinary girl by the imperfections. A girl who loves sweet and romantic things as in the fragrance of the land that exposed to rain, the magnificent form of eternal love Shah Jahan for his wife, the Taj Mahal monument in Agra, white roses and delicious Ferrero Rocher chocolates. A girl who has an outstanding love of Indian colourful music. Admiring Shreya Ghoshal, the marvelous playback singer who has voice of heaven.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s