Heart-Binding Friendship (3)

Mengenang kedua orangtuanya membuat tubuh Isa seketika menjadi lemas. Ibu meninggal ketika ia berusia delapan tahun. Ibu terkena penyakit gagal ginjal dan mengharuskannya cuci darah seminggu dua kali dengan biaya yang tidak sedikit. Ayah sudah berusaha semampunya mencari bantuan dana untuk menyelamatkan Ibu. Namun takdir sedang tidak berpihak padanya. Ibu meninggal. Dokter berkata bahwa Ibu mengalami sesak napas karena paru-parunya tergenang cairan dan jantungnya membengkak.

Isa menangis sampai matanya terasa panas dan perih. Sementara Ayah terduduk lemas menatap jasad Ibu yang telah terbujur kaku. Ayah mengusap jemari Ibu lembut. Air mata menetes perlahan dari sudut matanya.

Pagi menjelang subuh, Isa dan Ayahnya pulang dari rumah sakit dengan tenaga yang tersisa. Ayah menggenggam tangan putranya, meski tidak begitu kuat dan yakin seperti dulu namun masih terasa nyaman. Isa mengangkat wajahnya sedikit, menarik tangan Ayahnya pelan agar menatapnya. Ayah tersenyum menatap Isa meski sisa-sisa air matanya belum kering. Tidak lama, keduanya dikejutkan oleh suara klakson dan lampu mobil yang menyorot langsung ke arah mereka. Isa dan Ayah terpaku di tempat mereka berdiri. Mereka bahkan tidak berteriak ketika mobil sedan itu bisa saja merenggut nyawa mereka seketika.

Pengemudi mobil sedan itu seketika membanting setir hingga ban mobil berdecit tajam. Hampir saja mobil itu menabrak pohon Mahoni raksasa yang tumbuh di tepi jalan. Ayah menghembuskan napas dengan lega. Isa pun demikian. Keduanya selamat. Dan tak lama, pengemudi mobil itu keluar menghampiri mereka. Seorang pria dengan perawakan tinggi besar yang seusia dengan Ayah. Pria itu menanyakan keadaan mereka. Isa mendengar napas pria itu tersengal-sengal sambil memegang dada. Ya, sepertinya pria itu ketakutan setengah mati.

be908ed7bfcdc6fb0e00da8f732ee497Isa terdiam beberapa saat mendengar percakapan antara pria itu dengan Ayah. Tak lama, pintu mobil penumpang terbuka pelan dan seorang gadis kecil turun dari sana. Berlari menghampiri pria yang dipanggilnya dengan sebutan ‘Papa’. Gadis itu bersembunyi di balik kaki Papanya. Mengintip kedua pria tinggi besar sedang terlibat percakapan serius. Isa bertemu pandang dengannya. Melihat gadis kecil itu ketakutan sama sepertinya. Isa baru saja kehilangan Ibu, namun kehadiran gadis kecil itu seperti lampion yang berpijar di malam hari. Cahayanya terang menyinari ruang hatinya yang gelap pekat.

Satu tahun berlalu setelah kejadian itu, Isa akhirnya dipertemukan kembali dengan gadis kecil itu. Dia cantik dan baik hati. Gadis kecil yang tidak pernah sedikitpun terbayangkan olehnya akan menjadi lampion dalam hidupnya.

Tidak perlu sebuah cermin besar untuk menegaskan bahwa Isa tidak layak jalan bersisian dengan Amira. Mereka sangat jauh berbeda. Amira selalu berpenampilan memukau. Membuat siapapun yang melihatnya pasti akan kagum. Semua yang menempel di tubuhnya adalah produk bermerek dengan kualitas terbaik. Amira adalah putri tunggal sekaligus cucu satu-satunya dari seorang pengusaha retail dan real estate yang sangat sukses. Gadis kecil itu sangat beruntung terlahir di keluarga berada yang kekayaannya sudah turun temurun.

Sementara Isa sebaliknya. Pakaiannya lusuh dengan jumlah yang bisa dihitung. Sepatunya butut dan bagian depannya berlubang. Seragam sekolahnya pun bekas pakai, putih dan menguning. Akan sangat kontras melihatnya jalan bersisian dengan Amira. Sadar akan hal itu, Isa sangat tidak ingin Amira dijauhi teman-teman dekatnya dan menanggung malu karena berteman dengannya. Berkali-kali ia berusaha menjauh dari gadis kecil itu. Tapi gadis itu sungguh keras kepala.

Suatu hari, Isa melihat Amira datang ke sekolah dengan memakai sepatu olahraga lama miliknya yang sudah kusam dan robek sedikit di bagian depan. Isa tertegun menatap sepatunya kemudian menatap sepatu miliknya. Selama ia mengenal Shiba, gadis kecil itu tidak pernah memakai barang jelek sekalipun. Sepatu miliknya tidak terhitung jumlahnya, bahkan terdapat sebuah lemari besar setinggi delapan kaki khusus untuk menyimpan sepatu-sepatu miliknya. Logikanya, jika saja salah satu sepatunya rusak akan sangat mudah baginya mengganti sepatu itu dengan yang baru. Akan tetapi hari itu dia tidak melakukannya.

Dan ketika mata Isa masih melebar kaget menatap sepatunya, gadis kecil itu berkata sambil menggerakkan jari-jari kakinya, “Sepatuku yang ini masih nyaman dipakai.”

Isa terdiam cukup lama menatap gadis kecil di hadapannya. Sekilas, matanya tampak berkaca-kaca. Dia tertegun mendengar Amira mengatakan itu. Dan sejak berlalunya hari itu, keduanya menjadi bertambah dekat. Isa menyadari bahwa jurang terdalam sekalipun tidak dapat memisahkannya dari Amira. Mereka ketergantungan, terikat dan tidak bisa lepas.

Waktu berlalu secepat anak panah. Tanpa disadari, beberapa bulan telah berlalu. Rupanya, masa-masa terberat dalam hidup Isa belum sepenuhnya berakhir. Kematian Ayah menyisakan duka yang mendalam. Dunia Isa seakan kiamat. Almarhum Ayah berpesan agar ia tinggal dengan Paman dan Bibi. Sebuah amanat yang tidak diterima dengan baik oleh adik Ayah, yaitu Paman. Paman dan Bibi menganggap kemenakannya hanyalah beban dan membuat mereka jatuh miskin. Maka tidak jarang, Isa dibiarkan tidur dengan perut kosong.

Dan hari itu, Isa terpaksa berbohong dan berpura-pura tidak lapar setiap kali Amira bertanya bekal apa yang ia bawa untuk makan siang di sekolah. Tetapi gadis itu seolah tahu setiap titik kejujuran yang ia sembunyikan di wajahnya.

“Lihat apa yang kubawa untukmu,” Amira membuka kotak bekalnya yang berisi roti isi telur, buah stoberi, mangga dan jeruk segar. “Ini untukmu dan ini untukku.” sambungnya sembari membuka kotak bekal kedua dengan isi yang sama. “Aku mengambil dua kali lebih banyak dari porsi makanku.”

Isa terdiam menatap Shiba. Menahan desakan air mata yang mencoba membobol kelopak matanya. “Terima kasih, Shiba.” ucapnya gemetar.

Dan gadis itu tersenyum dengan sepasang mata yang berkaca-kaca.

Advertisements

Published by

Zakia Khairunnisa

Kia, just an ordinary girl by the imperfections. A girl who loves sweet and romantic things as in the fragrance of the land that exposed to rain, the magnificent form of eternal love Shah Jahan for his wife, the Taj Mahal monument in Agra, white roses and delicious Ferrero Rocher chocolates. A girl who has an outstanding love of Indian colourful music. Admiring Shreya Ghoshal, the marvelous playback singer who has voice of heaven.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s