When Time Doesn’t Heal All Wounds

Pepatah bilang, waktu bisa menyembuhkan luka. Tetapi sepertinya bagi Amira itu tidak nyata. Luka itu terlalu dalam dan melumpuhkan. Empat belas tahun berlalu sejak pertama kali ia menjejakkan kaki di ibukota Inggris, London. Orang lain melihatnya sebagai Amira yang telah tumbuh menjadi gadis dewasa berusia 32 tahun, namun pikirannya masih terjebak di masa lalu.

3b6711af0b4f5e6965404b240c540b3c
Hyde Park

Amira memandang lurus ke depan. Berlari terengah-engah dalam balutan jaket bertudung merah terang dengan celana legging hitam miliknya. Rambut panjangnya yang hitam pekat diikat rapi ke atas. Berayun, mengikuti gerakan. Ia menarik napas dengan teratur, mengisi paru-paru di tubuhnya dengan kesegaran aroma musim semi. Menyambut permulaan hari menyusuri Hyde Park dengan sebuah harapan. Harapan agar waktu dapat menyembuhkannya. Harapan agar ia tidak selalu terbangun di pagi hari dan merasakan sakit yang sama.

Gadis itu berlari kian cepat tanpa mengizinkan pikirannya menjadi kosong. Memaksa fisiknya yang sehat mematuhi jiwanya yang ambruk. Berlari meninggalkan sederet masa lalu yang rasanya baru saja kemarin ia lewati. Keringatpun menetes deras dari kening, jatuh membanjiri tubuhnya.

Amira memelankan kecepatan berlari hingga ia perlahan berhenti dengan napas terputus-putus. Ia pun membungkuk, memegangi lutut, mengatur napas dan merasakan denyut jantungnya yang melaju.

“Hello Gorgeous!”

40d153cfcd10c7d0805847478ea3f904
Ilustrasi James

Suara itu. Amira memutar tubuh dan terperangah melihat laki-laki yang kini berdiri tepat di belakangnya. Laki-laki jangkung berbadan atletis dalam balutan jaket biru tua berkerah lebar. Rambut tipis kasar tumbuh di sekitar dagu dan pipi bagian belakang laki-laki itu. Tatanan rambutnya kacau.

“J-James?!” ucapnya, mengeluarkan sebuah nama. Kedua lututnya sontak terasa lemas. Membuatnya mundur perlahan, berniat menjauh tetapi malah jatuh terduduk ke tanah.

“Whoa!” ucap James dengan mata melebar. “Be careful.” laki-laki itu cepat-cepat menghampiri Amira dan mengulurkan tangan kukuhnya. “Kau harus berhenti bereaksi seperti itu bila melihatku.”

Amira mencoba bangkit dari jatuh. Menolak uluran tangan laki-laki yang hendak membimbingnya berdiri.

James tersenyum, menggeleng-gelengkan kepala. Kau tidak harus melakukan semuanya sendiri. Aku di sini.” laki-laki itu meletakkan kedua tangannya di bawah lengan Amira, berupaya membantu gadis itu berdiri.

Amira berusaha mengendalikan diri ketika rasa panas mulai merambati wajahnya. Laki-laki itu. Suaranya, sentuhannya, sinar matanya. Segala hal tentangnya membuat Amira buntur. “Lepaskan tanganmu, James!” tegas gadis itu meradang.

James memiringkan kepalanya, menatap Amira bingung dengan sebelah tangan masih memegang lengan gadis itu, “Tunggu, kau masih marah padaku?”

Amira berusaha melepaskan diri dari cengkraman tangan James, akan tetapi perlawanannya sia-sia. “Marah?” Amira tertawa sinis kemudian menatap lawan bicaranya tajam menusuk. “Lebih dari itu, James. Aku membencimu. Kau dengar? Aku membencimu!” ucapnya penuh dengan penekanan.

Amira mendengar James tertawa seperti pesakit jiwa yang putus asa. “No, you don’t. Kau hanya marah sesaat dan hatimu akan kembali pulih seperti biasanya.”

Ya Tuhan, siapa laki-laki ini? Amira seperti tidak mengenalnya lagi. Berada terlalu dekat dengan laki-laki itu membuatnya bertambah benci. “Terserah!” ketus gadis itu tanpa peduli sembari berusaha melepaskan lengannya dengan bantuan tangan lainnya yang bebas. James sadar akan hal itu, membuatnya semakin kuat mencengkram lengan Amira. “Aku bilang lepaskan tanganmu!” seru Amira setengah menjerit.

“Dengar, aku tidak keberatan jika kau marah atau benci sekalipun padaku.” James berkata dengan deru napas menahan amarah. Amira dapat melihat sorot mata laki-laki itu menyelami wajahnya sejenak kemudian laki-laki itu melanjutkan, “Astaga, kau semakin cantik, Ami. Apa kau sadar itu? Dan itu membuatku bergairah, kau tahu?”

Kedua mata Amira mengerjap. Seluruh tubuhnya bergidik karena muak. Ia tidak sanggup lagi mendengarnya. Lengannya sudah mulai kesakitan, mengundang air mata untuk keluar dari sudut-sudut matanya. Ia dapat merasakan betapa kuatnya tenaga James seolah dapat meremukkan tulang-tulangnya.

“Aku bisa berteriak minta tolong, James. Demi Tuhan, ini tempat umum!” ucap gadis itu setengah frustrasi. Beberapa orang mulai melirik ke arah mereka dan Amira tidak peduli. Ia tidak peduli jika tindakan yang akan ia lakukan selanjutnya akan menjadi konsumsi publik.

James mengerjap. Tersadar dan menatap sekelilingnya. Syukurlah, laki-laki itu segera melepaskan lengan Amira. James mengusap wajahnya penuh sesal. Entahlah, ia seperti laki-laki yang sudah tidak waras. Sorot matanya dapat berubah sewaktu-waktu. Sesaat menyerupai iblis yang dapat menelan jiwanya lalu berganti menyerupai laki-laki menyedihkan yang hatinya baru saja Amira patahkan. Sisi James yang menyenangkan. Sisi James yang Amira sukai. Binasa sudah.

“I’m sorry.” James mengangkat kedua tangannya ke udara. Dia kelihatan menyesal. “Kau tahu aku masih menginginkanmu, kan?” laki-laki itu berkata dengan gemetar dan hampir menangis. Dia sangat terluka, Amira bisa melihat itu dari bias wajahnya. “Aku bisa berubah, percayalah.” dan sekarang laki-laki itu memohon. Berlutut dengan segudang beban di pundaknya.

Amira menundukkan pandangan, menatap James. Ini bukan pertama kalinya James berlutut di hadapannya. Memohon untuk kembali padanya. Bukan. Ini bukan pertama kalinya. Laki-laki itu sudah cukup sering melakukannya. Dan hal itu tentu saja membuat Amira iba sekaligus merasa terancam. Gadis itu terdiam sejenak kemudian berkata, “What have you done to me it’s unacceptable, James.”

James mengangkat wajah, menatap Amira. Ia bangun dari berlutut memegangi pundak gadis itu dengan kedua tangannya dan berkata, “Dengar, aku tahu aku salah!” Amira terperanjat mendengar suara James yang tiba-tiba meninggi. Lebih terdengar seperti bentakan. “Harus berapa kali kukatakan kalau aku minta maaf dan menyesal. Kenapa begitu sulit bagimu memaafkan? I’m truly sorry, damn it!”

Amira tertegun, tidak percaya. Begitu cepatnya James berubah. “You don’t really mean it. It’s not working out between us, James. You know it. So please, get a life!” gadis itu segera menyingkir dari James usai mengatakan semua itu. Tapi baru dua langkah ia berjalan, James kembali menarik lengannya dengan kasar hingga tubuhnya berguncang.

Laki-laki itu menarik pinggang Amira dengan paksa. Merapatkan tubuhnya dengan gadis itu. Ia sedikit menundukkan kepala ingin mencium Amira. Amira berpaling darinya, memberi jarak dengan kedua tangannya yang terkepal, mendorong dada James sekuat tenaga, tetapi sekali lagi, tenaga laki-laki itu jauh lebih kuat darinya. Deru napasnya yang memburu terasa hangat menampar-nampar wajahnya.

Plakkk!!!

Amira mendaratkan tamparan keras di pipi James. Ia ingin laki-laki itu berhenti memaksa dan bersikap kasar padanya. Demi apapun, ia bukanlah benda mati yang dapat diseret dan ditarik-tarik tanpa merasa sakit.

James tercengang. Sorot matanya yang membelalak membuat Amira takut. Selain mendatangkan perih di pipi, tamparan gadis itu juga membangkitkan dua kali lipat emosinya. Laki-laki itu menegakkan tubuh. Mulutnya terkatup rapat dan rahangnya menegang.

“Excuse me, is everything-alright?” suara seseorang di antara mereka, membuat keduanya serentak berpaling.

Oh syukurlah. Akira Bernath berdiri mematung menyaksikan keributan di antara Amira dan James. Amira menghela napas lega. Setidaknya ia tidak sendiri.

Akira mengangkat sebelah tangannya pelan ke udara dan tersenyum kaku ke arah Amira. Akira adalah gadis Inggris keturunan Jepang. Kulit wajahnya putih dengan bercak-bercak coklat di area pipi. Tubuhnya mungil ramping dengan rambut hitam kecoklatan yang diikat ke atas. Ramai gadis Jepang yang mengecat rambutnya dengan warna-warna terang bahkan mencolok, namun tidak dengannya.

James mengepal kedua tangannya erat-erat. Menutup matanya rapat-rapat. Laki-laki itu mengamit tangan Amira dan mendekatkan kepalanya ke telinga gadis itu. Ekspresi geram di wajahnya belum menghilang. Dan sepertinya ia menahan diri dengan susah payah, memelankan suaranya, “Hubungan kita belum berakhir sampai aku yang memutuskannya. James melepaskan tangan gadis itu dengan kasar hingga membuat tubuh Amira terhuyung. Ia pun pergi dalam keadaan marah.

Bloody hell, who is he?” Akira menoleh, masih menatap punggung James yang perlahan menjauh, lalu beralih ke Amira. Dia terperanjat, mendapati Amira nyaris terjatuh lemas di tempat, “Oh god, are you okay?” tanyanya khawatir, berjalan setengah berlari demi menopang tubuh Amira.

Advertisements

Published by

Zakia Khairunnisa

Kia, just an ordinary girl by the imperfections. A girl who loves sweet and romantic things as in the fragrance of the land that exposed to rain, the magnificent form of eternal love Shah Jahan for his wife, the Taj Mahal monument in Agra, white roses and delicious Ferrero Rocher chocolates. A girl who has an outstanding love of Indian colourful music. Admiring Shreya Ghoshal, the marvelous playback singer who has voice of heaven.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s