When Time Doesn’t Heal All Wounds (2)

Hyde ParkBeberapa menit berlalu tanpa suara, hanya memandangi aktivitas orang-orang di sekitar. Amira dan Akira duduk menghadap danau Serpentine yang membelah Kensington Garden dan Hyde Park. Boat house[1] berada tak jauh dari mereka. Semilir angin membuat daun-daun bergoyang. Amira menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Melepaskan beban yang selama ini menggumpal di dadanya.

Akira menatap Amira lekat-lekat. Kebingungan berkelebat di dalam matanya ketika dia menangkap jejak kelam di wajah putih Amira yang melumurinya dengan tebal.

“Apa laki-laki itu bekas pacarmu?” tanyanya ingin tahu. Dan ketika detik demi detik berlalu sementara kesunyian tak kunjung pecah, Akira menambahkan, “Laki-laki berengsek seperti dia tidak semestinya kau tangisi, dia bahkan tidak tahu bagaimana memperlakukanmu dengan baik. Kau pantas mendapatkan yang lebih baik.”

Amira bergeming. Lama sekali gadis itu termenung. Semilir angin bertiup lembut, menggoyangkan dahan-dahan pepohonan. Daun-daun berjatuhan, melayang berterbangan di udara, lalu turun perlahan hingga menyentuh tanah. Sehelai daun jatuh ke pangkuannya. Dia memungut daun itu, tersenyum murung dan berkata, “Bukan dia. Aku bahkan tidak yakin apakah aku pernah benar-benar mencintainya.” Amira menutup wajahnya dengan kedua tangan. Terdengar isakan tangis yang disertai tawa. Kesedihan kembali merayapi hatinya. Pandangan matanya memburam. Dengan bibir gemetar disertai butir-butir air mata mulai jatuh ke pipinya, dia menangis lirih. “Aku mengenal seseorang. Dia sangat baik. Dia membuatku merasa-sangat istimewa. Dan harapan agar dia saat ini bersamaku terasa sangat menyakitkan. Aku kira aku sudah melupakannya, tapi aku masih saja membandingkannya dengan pria lain. Dan perasaan itu membuatku merindukannya.”

Akira menatap Amira dengan wajah tertegun. “Lalu-dimana dia sekarang?”

Gumpalan di tenggorokan Amira membuatnya tercekik. Ia menelan ludah dan dengan suara tercekat gadis itu menjawab, “Dia sudah meninggal.”

Akira membeku. Air mata yang bergulir membasahi pipi Amira membuatnya terhenyak. “Oh dear,” suaranya sarat simpati dan rasa khawatir. Matanya merah dan panas. Tanpa sadar dia menjatuhkan setetes air mata. Usapan lembut di bahu Amira diharapkannya dapat meringankan pilu di hati gadis itu. Angin berhembus pelan bagai jemari yang membelai lembut wajah Amira, seolah berbisik padanya untuk berhenti berduka.

[1]Salah satu fasilitas yang disediakan di Hyde Park berupa perahu pedal berwarna biru untuk mengarungi danau.

 

Advertisements

Published by

Zakia Khairunnisa

Kia, just an ordinary girl by the imperfections. A girl who loves sweet and romantic things as in the fragrance of the land that exposed to rain, the magnificent form of eternal love Shah Jahan for his wife, the Taj Mahal monument in Agra, white roses and delicious Ferrero Rocher chocolates. A girl who has an outstanding love of Indian colourful music. Admiring Shreya Ghoshal, the marvelous playback singer who has voice of heaven.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s