When Time Doesn’t Heal All Wounds (3)

Amira berjalan pelan menuju apartemennya di Prince’s Square. Menarik napas dalam-dalam dan melakukannya berulang kali. Sesak memenuhi rongga dadanya, membuatnya sulit untuk bernapas. Aku baik-baik saja…ya, aku baik-baik saja, katanya pada diri sendiri.

d1db8cc9dac35d1b9aeafca46e9232c7Adalah perasaan pedih seperti cawan perak yang patuh tertimpa besi panas ketika mengenang masa-masa kecilnya. Dadanya selalu terasa berat. Semuanya tampak gelap seolah tidak ada cahaya untuk menemukan jalan keluar. Pikirannya kosong dan bernapas pun menyisakan pedih. Seperti ruh yang memutuskan pergi meninggalkan tubuh yang tak lagi bersemi.

Tiga tahun yang lalu, Amira sempat dilarikan ke rumah sakit karena kecelakaan lalu lintas akibat kecerobohannya. Kelakuan gadis itu seolah bermain dengan maut. Menawarkan diri pada malaikat untuk mencabut nyawanya. Sekilas gadis itu terlihat normal seperti yang lainnya, namun bila dilihat lebih dekat, matanya seperti menjerit minta tolong.

Orangtuanya selalu mencemaskannya, selalu khawatir dengan pilihannya untuk menetap seorang diri di London. Namun Amira bersikeras ingin tetap tinggal di London demi melupakan masa lalunya. Dan tak ada seorang pun yang bisa melarangnya. Oleh karena itu, orangtuanya mempercayakan Annaya sebagai mata kanan dan kiri mereka. Mereka selalu menanyakan perkembangan Amira kepada Annaya. Mereka juga berpesan, agar sebisa mungkin menjaga suasana hati Amira tetap positif.

Pintu nomor 204 itu terbuka. Tampak ruang tengah remang-remang karena tirai jendela belum dibuka. Amira masuk dan menutup pintu hingga menimbulkan suara yang membangunkan Annaya.

“I’m home!” serunya seraya melongokkan kepala ke arah kamar tidur Annaya. “Wake up, sleepyhead!” Amira meletakkan kunci di atas meja makan lalu membuka tirai jendela lebar-lebar.

Anna, begitu panggilan Annaya. Terbangun dengan kepala pusing dan badan kaku. Hal pertama yang disadarinya adalah keadaan kamarnya yang remang-remang. Tirai jendela kamarnya masih tertutup rapat. Cahaya matahari menjadi terhalang karena tertutup tirai. Dia memaksa dirinya bangun dan duduk di tepi tempat tidur.

“Annaya!”

“Ya, kenapa teriak-teriak? Aku belum tuli.” Anna mendapati dirinya bersuara. Dia duduk di tepi tempat tidurnya dengan rambut berombak tak beraturan.

Amira menyodorkan amplop putih yang diambilnya dari kotak surat kepada Anna.

“Apa ini?” tanya Anna sembari menatap amplop putih yang disodorkan padanya.

“Cuci muka dulu. Baru kau tahu itu apa.” jawab Amira tersenyum tipis lalu bergegas keluar dari kamar Anna.

Anna melihat Amira sudah keluar dari kamarnya. Dia mengusap wajah dengan kedua tangan untuk menyadarkan diri. Lalu perlahan bangkit dan menyeret kakinya untuk membuka tirai jendela kamar. Dia meraih kacamata di atas meja dekat tempat tidurnya. Matanya menangkap sebuah amplop putih. Dia meraba amplop tersebut yang kelihatan tebal lalu merobek dan mengeluarkan isinya. “Foto??” Matanya melebar kaget. Di tangannya terdapat selusin foto-foto close up pria. Dan secarik kertas kecil yang terjepit di atas tumpukan foto tersebut menarik perhatiannya.

Ini foto-foto para pria lajang yang bersedia dijodohkan denganmu. Bagaimana? Mereka tampan, bukan? Sampai kapan kau akan melajang, nak? Mama merindukan cucu darimu. Seorang anak yang memiliki wajah yang mirip denganmu. Apa itu salah? Untuk kali ini tolong jangan membantah kalau tidak ingin Mama berangkat ke sana menjemputmu.

Anna memejamkan matanya rapat-rapat, mengetuk-ngetuk keningnya dengan lusinan foto di tangannya. Dia menggeleng tidak percaya lalu tertawa garing, “Mama pasti bercanda.”

Sekali lagi dia menoleh ke arah pintu. Memastikan gadis yang berbagi apartemen dengannya tidak sedang berada di dekat kamarnya. Amira tidak boleh melihat ini. Segera dia masukan kembali foto-foto tidak penting itu ke dalam amplop dan menyimpannya di laci terkunci.

Advertisements

Published by

Zakia Khairunnisa

Kia, just an ordinary girl by the imperfections. A girl who loves sweet and romantic things as in the fragrance of the land that exposed to rain, the magnificent form of eternal love Shah Jahan for his wife, the Taj Mahal monument in Agra, white roses and delicious Ferrero Rocher chocolates. A girl who has an outstanding love of Indian colourful music. Admiring Shreya Ghoshal, the marvelous playback singer who has voice of heaven.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s