No Sound to This Heart Beat

10 April 1992.

1d98c585da330016f2962d196b6b3c00.jpgPohon-pohon besar itu berjejer gagah layaknya tentara. Batang-batang kokoh dengan lebatnya pucuk-pucuk berwarna hijau dedaunan seolah memayungi Isa dan Amira dari panasnya matahari. Mereka berjalan di atas jalan setapak selama beberapa waktu. Suara gemericik air yang membelah bebatuan sungai dan airnya mengalir ke hilir nyata terdengar.

“Bagaimana kau bisa ingat hari ini hari ulang tahunku?” kata Isa takjub.

Amira tersenyum dan berujar dengan bangga, “Itu gunanya aku. Mengingatkan hari-hari bahagiamu.”

Mendengarnya, sebentuk lesung pipit terbit di kedua pipi Isa. “Aku tidak percaya kalau kau lebih mengenalku daripada diriku sendiri.” Ujarnya sangsi bernada menggoda.

“Uji saja aku.” tantang Amira tak mau kalah.

Kemudian Isa menarik napas, menyilangkan kedua lengannya di dada. Memicingkan mata, berpikir-pikir, bersiap mengajukan pertanyaan. Namun sebelum dia bertanya, Amira telah mendahuluinya dengan berkata,

“Kau tidak suka makan pakai sendok. Kau mencampur roti dengan telur, bukan dengan selai. Kau tidak suka minum air dingin.” Isa berjalan tersenyum mengikuti langkah lebar Amira. Suara Amira berceloteh riang bagaikan musik di telinganya. “Oh ya, kau suka dengan warna-warna netral seperti hitam dan putih. Kau suka minum teh tawar. Tidak suka makan ikan, tetapi suka sekali dengan bakso. Kau bahkan tidak bisa berenang dan takut pada ketinggian. Kau─”

“Lalu-apa yang paling kusuka?” potong Isa cepat. Ia menghentikan langkahnya sembari menunggu jawaban Amira.

“Hmmm…” gumam Amira, ia memutar tubuh menghadap Isa dan berpikir agak lama. Bola matanya berputar-putar mencari jawaban. “Kulit risol! Kau membuang isinya, cuma makan kulitnya saja.”

Isa tersenyum tipis. Ada lesung pipit yang kian mempertegas manis wajahnya. “Ya, aku memang suka kulit risol. Tapi─ada sesuatu yang lebih aku suka daripada itu.”

Amira terpaku dengan mata melebar. “Apa?”

Menatap mata coklat cerah yang terbelalak di depannya, Isa kembali mengulas senyum. Menyimpan jawaban untuk dirinya sendiri. “Hari ini kita mau gambar apa?” tanyanya sembari menanggalkan sepatu lalu berjalan dengan kaki telanjang di atas hamparan rumput hijau yang luas layaknya permadani.

“Hari ini kita menggambar sesuatu yang paling kita suka.” usul Amira.

Isa tersenyum dan mengangguk-angguk. Tidak jauh dari sana, tampak sebuah pohon besar bercabang banyak dan rimbun dedaunannya bergerak pelan karena ditiup angin, bagaikan atap hijau yang menawarkan perlindungan. Di dekatnya, pemandangan air sungai yang mengalir dan menimbulkan bunyi gemericik sudah menanti. “Kita duduk di sana.” Isa menunjuk pohon besar itu lalu berjalan mendekati pohon. Dia menjatuhkan tas punggungnya di kaki pohon. Membuang napas, bertolak pinggang sambil menengadahkan wajah menatap ranting-ranting pohon di atasnya. “Pohon ini tempat burung-burung berkumpul untuk bernyanyi. Kau harus lihat, Shiba.” Dengan penuh semangat, dia mengibaskan tangannya, mengajak Amira berdiri di dekatnya, mengikuti arah pandangnya.

Seulas senyum mengembang di wajah Amira, gadis itu memandang takjub. Matanya yang bulat berbinar-binar beralih dari burung-burung di ranting pohon ke wajah Isa lalu kembali menatap burung-burung di sana. Ada banyak sekali burung yang berkumpul di ranting-ranting pohon. Ada yang besar, ada pula yang kecil. Lincah berpindah-pindah. Mereka semua bersuara merdu. Bernyanyi-nyanyi riang.

Lalu, setengah jam berlalu dengan tenang. Begitu hening. Hanya terdengar suara angin berdesir pelan mengisi kekosongan di antara mereka. Isa lebih dulu menyelesaikan gambarnya. Dia merangkak pelan tanpa menimbulkan suara, berusaha melirik kertas gambar Amira. Amira mengangkat wajah dari kertas yang dia pegang dan terkesiap kaget. Cepat-cepat dia menutupi gambarnya, berbalik memunggungi Isa.

Isa menanggapinya dengan seulas senyum.

Beberapa saat kemudian, Amira berbalik menghadap Isa. “Yak, sudah selesai!” serunya tersenyum puas. “Tunjukkan gambarmu.”

Isa menipiskan bibir, menggeleng. “Enak saja. Kau dulu.”

“Ya sudah, aku hitung sampai tiga dan kita saling bertukar. Kau setuju?” Usul Amira seraya mengarahkan ujung pensilnya ke wajah Isa.

“Siapa takut.” sahut Isa mantap.

Di akhir hitungan ketiga, keduanya bertukar kertas gambar. Amira memegang kertas gambar itu dan melihatnya secara mendalam beberapa saat. Sepasang matanya berbinar dan senyumnya perlahan melebar. Wajahnya berseri memancarkan rona yang menyiratkan kekaguman. Rasa haru seketika menyelinap di hatinya. Memandangi kertas gambar di tangannya dengan hati bergetar.

“Waaah…!” reaksinya takjub. Wajahnya menghangat.

Isa menunduk tersipu dan berkata, “Kau suka?”

Amira mengangkat wajah, menatap Isa sejenak lalu mengangguk-angguk dengan perasaan senang.

“Kalau kau suka, simpan saja,” kata Isa, lalu dia kembali mengamati kertas gambar Amira di tangannya. “Tapi Shiba… hidungku kan tidak sebesar ini.” protes Isa membalik hasil lukisan Amira dengan telunjuk mengarah ke bagian hidung pada gambar tersebut. “Dan mataku, kau membuatnya seperti kelereng.” ejeknya sambil tertawa.

Amira melotot, menendang kaki Isa kesal. “Aku memuji gambarmu, tapi kau malah meledek gambarku.” balasnya dengan wajah memberengut.

Isa tergelak menatap wajah Amira yang bersungut-sungut. Gadis itu memiliki energi yang mampu melenyapkan segala duka yang bersarang di hatinya. Alis Amira yang tebal alami, begitu rapi menyempurnakan kelopak matanya. Bagian putih dari bola matanya tampak jernih seputih susu. Hidungnya mancung dan ramping serta lekuk bibirnya mungil. Jika dia tertawa akan tampak deretan gigi yang rata dan putih. Tawanya membuat alam semesta memuji. Raut wajahnya memang sempurna, bagai pahatan dewi surga. Wajah cantik Amira memang berbeda dengan teman-teman di sekolah. Dia memiliki wajah campuran. Ayahnya adalah seorang pria berdarah Kashmir, sedangkan ibunya asli pribumi.

Advertisements

Published by

Zakia Khairunnisa

Kia, just an ordinary girl by the imperfections. A girl who loves sweet and romantic things as in the fragrance of the land that exposed to rain, the magnificent form of eternal love Shah Jahan for his wife, the Taj Mahal monument in Agra, white roses and delicious Ferrero Rocher chocolates. A girl who has an outstanding love of Indian colourful music. Admiring Shreya Ghoshal, the marvelous playback singer who has voice of heaven.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s