No Sound to This Heart Beat (2)

Senja datang menjemput, langit mulai menampakkan sisi gelapnya. Semburat awan mulai pudar. Tercipta langit kemerahan yang menyapa di depan mata. Isa dan Amira berjalan sedikit jauh melewati bebatuan di sungai sambil bertelanjang kaki. Keduanya lalu duduk saling memunggungi di bebatuan. Mengayunkan kaki menyentuh dinginnya air sungai yang jernih.

“Shiba, kenapa kau mau berteman denganku?” tanya Isa tiba-tiba. “Maksudku, kau orang berada. Bahkan teman-teman di sekolah saja tidak ada yang mau berteman denganku. Memangnya kau tidak merasa malu berteman dengan ‘anak jamur’ sepertiku?”

Amira mengangkat alis. “Anak jamur?” Gadis kecil itu tersenyum tipis lalu menjawab dengan tenang, “Anak jamur yang mana? Apa kau pernah melihatku gatal-gatal ketika dekat denganmu?”

“Hmm…” Isa pura-pura berpikir. “Mungkin,” candanya sambil tertawa.

Amira menanggapi candaan itu dengan cubitan keras di pinggang Isa.

“Aduh! Iya, iya, ampun!” Isa mengaduh kesakitan mengusap-usap pinggangnya.

“Aku melihatmu tidak marah pada mereka yang menghinamu. Dan aku suka. Aku juga senang menghabiskan waktu bersamamu, kau juga kan? Apa ada yang lebih penting dari itu?” lirik Amira ke balik bahu Isa.

Isa tersenyum. Perasaan senang menghangatkan dadanya. Mengalir perlahan, menyembuhkan luka yang telah kering. Kemudian, saat luapan kebahagiaan itu mulai menguasai dirinya, bagian lain dari dirinya berkata sebaliknya. Dia lantas berkata dengan nada murung, “Tapi sepertinya kita tidak akan bisa sering bertemu lagi.”

Amira mengerutkan alis, tidak mengerti. Dia segera merubah posisi duduknya saat itu. Duduk bersila lalu menatap Isa dan bertanya, “Kenapa?”

Seketika itu juga, ekspresi wajah murung Isa menular pada Amira. “Sebentar lagi ujian akhir. Teman-teman sekelasku sibuk membahas sekolah mana yang mereka pilih setelah lulus nanti. Dan kau tahu, aku tidak mampu membayar biaya sekolah untuk masuk SMP nanti. Aku harus bekerja untuk membantu Paman dan Bibiku.”

Mendengar Isa menyebut Paman dan Bibinya, wajah Amira berubah masam. “Aku tidak suka dengan Paman dan Bibimu. Mereka itu jahat! Sewaktu aku datang ke rumahmu, mereka memperlakukanmu dengan sangat kasar.” gerutunya.

Isa tersenyum pahit. “Shiba, mereka memang tidak sebaik Ayahku, tapi hanya mereka keluargaku.”

Amira terdiam. Ucapan Isa saat itu membuat hatinya terenyuh. Dia begitu sedih sampai tidak mampu mengomentari pernyataan Isa.

“Kalau aku mendapatkan beasiswa nanti, aku pasti melanjutkan sekolah. Tapi kalau tidak─” Isa berhenti sejenak memberi jeda, lalu mengalihkan pandangan pada Amira. “Aku terpaksa putus sekolah.”

Kepala Amira tertunduk dalam-dalam. Dia bahkan tidak mampu mengangkat wajahnya sendiri untuk membalas pandangan Isa. Dia mencoba bersikap biasa, namun tidak pandai menyembunyikan matanya yang berkaca-kaca. Dia benci berpisah dengan Isa. Memikirkannya saja sudah menghadirkan lubang kecil di hatinya.

d53c8cd26d85f1eae640b376d64a222ePerlahan Isa menunduk, melepas kalungnya. Satu-satunya pemberian ayahnya sebelum tutup usia. “Ini ambilah,”

Amira mengangkat wajahnya pelan. Sepasang matanya saat itu tertuju pada seuntai kalung bertali hitam yang menggantung dalam genggaman Isa. Gadis itu menyeka air mata yang meleleh.

“Ini milik mendiang ayahku. Batu alam ini diberikan seseorang yang disegani oleh ayah. Hampir setiap hari ayahku menggosoknya supaya mengkilap. Dan karena aku sangat menyukainya, ayah memberikannya padaku. Ambilah,”

Amira meraih kalung bertali hitam itu. Kedua matanya mengamati. Sebuah bandul batu alam berwarna hijau emerald tergantung menghiasinya. “Ini… bagus.”

“Cuma itu satu-satunya milikku yang paling berharga. Dan sekarang aku tahu kepada siapa benda ini harus kuberikan.”

Amira menatap Isa ragu.

“Sekarang benda ini jadi milikmu, Shiba.” Isa menatap Amira dalam-dalam. “Kau sangat baik. Dan aku tidak punya apapun yang bisa kuberikan padamu selain benda ini.”

Amira menggeleng pelan dan kuat “Aku tidak mau menerimanya.” Mengembalikan kalung itu dalam genggaman Isa. “Ini milikmu dan akan selalu jadi milikmu.”

“Tolong jangan ditolak, Shiba. Hari ini aku masih berulangtahun, apa kau lupa?”

Amira mengerutkan kening dengan bingung. “Kalau kau sangat menyukainya, kenapa memberikannya padaku?”

Isa tersenyum meski dia menatap Amira sedih. Sambil memakaikan kalung itu di leher Amira, dia berkata, “Aku ingin kau memiliki sesuatu yang aku suka. Sesuatu yang sangat berarti bagiku.”

Amira menelan ludah. Ia terdiam cukup lama. Hanya menatap Isa lamat-lamat dan air mata menggenang di pelupuk matanya, mengaburkan pandangannya. Dia sama sekali tidak memahami arti serangan nyeri yang menikam dadanya, seolah ditaburi duri-duri tajam yang tanpa belas kasih melukainya. Dadanya sesak melihat Isa menatapnya seperti itu. Apalagi setelah mendengar apa yang dituturkan Isa, luka di hatinya semakin menganga. Entah kenapa ini seperti hadiah perpisahan baginya.

Isa lalu bangkit dari duduknya. Dia berdiri di atas batu besar seraya merentangkan kedua lengannya lebar-lebar. Matanya terpejam, menghela napas dalam-dalam, membiarkan udara sejuk mengisi rongga paru-parunya. Kumpulan gumpalan kusam menutupi matahari. Gelap. Dahinya berkerut kala sebutir air hujan mendarat di wajahnya, lalu disusul butir-butir air yang lain dan tak lama kemudian…

Hujan.

“Wah hujan! Ayo pulang! Nanti orangtuamu mencarimu.” Katanya sembari mengulurkan tangan membantu Amira berdiri.

Amira menyambut uluran tangan itu. Mereka berjalan, menaungi kepala dengan tas masing-masing, menyeberangi arus sungai yang cukup deras dari atas bebatuan. Hujan kian menghantam bumi dengan deras. Desir angin menguat. Awan kelabu yang bergelayut berat tidak berhenti mengirimkan butir-butir air dari langit, seolah diterkam oleh kebutaan. Tidak ada yang bisa didengar kecuali suara sungai yang menggemuruh, menggelegar seperti naga yang mengamuk. Amira melamun. Pikirannya dipenuhi oleh ucapan Isa bahwa setelah lulus sekolah dasar, dia tidak punya kesempatan lagi untuk bertemu. Suasana hatinya berubah seketika menjadi duka. Untuk membayangkan berpisah dengan Isa saja sudah membuat hatinya hancur. Air matanya meleleh bersatu dengan guyuran hujan yang membasahi wajah.

Ketika berjalan melangkahi beberapa batu besar, Isa rupanya menyadari Amira tertinggal di belakangnya, bahwa gadis itu sedang melamun. Dia pun berseru melawan derasnya hujan, menegur gadis itu, “Shiba! Kenapa diam di sana? Ayo! Hati-hati licin! Airnya cukup deras!”

Tiba-tiba saja suara petir menggelegar bersamaan dengan langit yang berkilat membuat Amira tersentak kaget hingga kakinya yang berpijak pada bebatuan, tergelincir. Sontak tubuhnya goyah, kehilangan keseimbangan lalu jatuh dan terhempas ke dalam sungai. Arus deras menyeret tubuh kecilnya tanpa pandang bulu. Beruntung, tubuhnya menyangkut di antara bebatuan. Tangannya gemetar hebat memeluk bebatuan di sana.

“Isa! Tolong!” teriaknya histeris.

Isa terperanjat begitu melihat Amira sudah jatuh dan terseret jauh dari tempat semula keduanya berdiri. “Shi-Shibaaa!!!” teriaknya.

“Isa tolong! Aku takut!” pekik Amira. Serta merta rasa takut melandanya. Air sungai yang dingin menambah tingkat kecemasannya. Sementara Isa melompat dari satu batu ke batu yang lain agar dapat meraih tangan Amira dan mengangkat tubuh gadis itu naik ke atas batu yang kokoh dan besar.

“Ulurkan tanganmu!” teriak Isa. Dia berbaring telungkup di atas batu dan kepayahan mengulurkan tangan.

Amira mencoba menggapai uluran tangan itu. Berusaha sekuat tenaga melepaskan diri dari dorongan air sungai yang menghantam tubuhnya. Namun karena jauh dari jangkauan, hujan yang tak bersahabat, usaha keduanya bagai menentang matahari. Kepanikan semakin mendekap keduanya.

Isa masih berusaha sekuat tenaga menyelamatkan Amira. Matanya kalut memandang ke segala arah mencari kayu panjang atau apapun yang bisa dia gunakan untuk menyelamatkan Amira. Kepanikan luar biasa semakin membelenggu dirinya saat dia tidak menemukan benda yang cukup kuat untuk memberikan pegangan buat Amira. Tubuh gadis itu masih tersangkut di sana, di antara bebatuan.

Isa tidak kehabisan akal. Satu-satunya cara untuk menyelamatkan Amira hanya dengan menceburkan dirinya ke dalam air. “Shiba, aku akan turun!” serunya bersungguh-sungguh.

Amira terbelalak mendengarnya. Dia menangis sejadi-jadinya. “Isa! Isa! Kau tidak bisa berenang!” balasnya mengingatkan. Dia tidak sanggup menghentikan aliran air matanya yang jatuh deras seperti air bah. Rasanya perih dan dia menggigil. Air mata itu terus berjatuhan seolah tak akan pernah ada habisnya. Menetes hangat dan membeku seketika. Dan semakin banyak jumlahnya melihat Isa enggan menurutinya.

8a79e331cf284c96fe9925b70e542127Isa menghirup napas dalam-dalam, “Tuhan, lindungi aku.” katanya gemetar, menatap langit, sang Pemberi hujan. Perlahan-lahan, dia menurunkan kedua kakinya ke dalam air. Dingin. Debar jantungnya bergemuruh kian hebat. Raut wajahnya mengatakan bahwa dia sangat takut tenggelam namun dia melawan rasa itu. Air sungai itu merendam tubuhnya setinggi leher. Dia melangkah dengan sangat hati-hati karena dasar sungai tidak sama rata. Setelah melewati dua menit yang menegangkan dalam hidupnya yang bahkan terasa lebih lama dari itu, dia sudah hampir dekat dengan Amira kemudian berkata dengan gugup, “Jangan takut. Aku bisa menolongmu!”

Tangis Amira pecah. Bibirnya membiru. Kaki dan tangannya gemetar, menggigil kedinginan. Wajahnya semakin pucat.

“Lihat, aku sudah memegangmu. Jalan hati-hati ke arah batu itu.” tunjuk Isa pada sebuah batu besar dan kokoh di dekat pinggir sungai. “Ingat! Hati-hati!” serunya kembali memperingatkan karena batu yang menahan Amira tidak cukup kuat menopang tubuh gadis itu lama-lama.

Amira menggeleng kuat-kuat. Ketakutan luar biasa menyerang pikirannya. Dia merasa tidak akan sanggup menggapai batu itu. Kakinya terlalu kaku untuk digerakkan, namun Isa memberinya kekuatan untuk melangkah.

“Kau bisa, Shiba! Kau bisa!”

Isa tidak melepaskan pandangan dari Amira sampai gadis bertubuh mungil itu berhasil naik ke atas batu yang besar dan kokoh. Sesaat setelah di atasnya, tubuh Amira meringkuk kedinginan. Dia menoleh ke arah Isa lalu mengulurkan sebelah tangan padanya dengan gemetar, “Ayo, Isa! Sedikit lagi!”

Isa mendekap tubuhnya sendiri yang menggigil kedinginan. Wajahnya telah pucat tak berwarna. Bibirnya membiru. Berusaha bertahan melawan dorongan arus dan dinginnya air. Namun kakinya tidak sengaja menginjak pecahan botol kaca hingga kulitnya sobek. Dia merasakan sakit yang luar biasa di bagian kaki yang tanpa disadari telah mengeluarkan banyak darah. Meski begitu, dia tetap berusaha menjaga keseimbangan tubuhnya. Detik berikutnya dia terjatuh dan tenggelam ke dalam air. Untuk beberapa detik, tubuhnya tidak muncul ke permukaan. Meluapkan perasaan cemas yang menyakitkan dalam diri Amira. Gadis itu berteriak memanggil namanya. Matanya mencari-cari. Namun tak ada jawaban. Tak ada pergerakan dari dalam air.

Beberapa detik kemudian, Isa kembali muncul ke permukaan air. Terbatuk-batuk menggapai udara. Amira menghembuskan napas dengan lega. Anak laki-laki itu mencoba sekali lagi bangkit dari air deras yang menjeratnya, seolah air itu bernyawa dan hendak membawanya pergi mengikuti arus. Malangnya, luka di kakinya tak cukup kuat untuk membuatnya melangkah. Kalah dengan arus sungai yang semakin kuat menyeretnya sehingga dengan mudah tubuh kurusnya terdorong. Bocah laki-laki itu hanyut terseret arus sungai. Berteriak histeris memanggil satu nama.

“Shibaaa!!!”

“Isaaa!!!” Amira berteriak memanggil nama Isa kuat-kuat sampai tenggorokannya terasa sakit. Semua oksigen yang ada di sekitarnya tiba-tiba lenyap dan membuatnya tidak bisa bernapas. Tubuhnya seperti kapas, melayang ringan tanpa arah. Tangannya mencoba menggapainya, tetapi tidak mendapatkan apapun melainkan udara kosong. Matanya merah, perih terbakar. Bibirnya gemetar. Air matanya deras berjatuhan. Tubuhnya roboh seakan seluruh tenaganya terserap habis, hanyut bersama Isa. Matanya terbelalak tidak percaya saat Isa sudah tidak terlihat lagi dari pandangannya. Gadis kecil itu terdiam mematung.

Sejurus kemudian, pak Suryo -supir pribadi Amira- menemukan Amira sedang duduk dengan wajah terbenam di antara lutut. Bahunya bergetar hebat. Dia menangis sesenggukan di atas bebatuan besar dengan sekujur tubuh membeku kedinginan. Air matanya tidak berhenti mengalir membasahi pipi. Bibirnya berkali-kali menyebut nama Isa.

Setelah dua jam mencari, jasad Isa belum juga ditemukan bahkan puluhan warga ikut mencari, menyelam, menyusuri sungai dengan bantuan tim SAR. Dan tak berapa lama kemudian, salah satu anggota tim SAR menemukan tas anak kecil terdampar, dia berjalan mendekati tas itu dan tak berapa jauh dari sana, jasad Isa ditemukan. Isa sudah terbujur kaku dan tak bernyawa. Anak laki-laki itu diyakini tewas pada hari kelahirannya yang ke dua belas tahun.

Advertisements

Published by

Zakia Khairunnisa

Kia, just an ordinary girl by the imperfections. A girl who loves sweet and romantic things as in the fragrance of the land that exposed to rain, the magnificent form of eternal love Shah Jahan for his wife, the Taj Mahal monument in Agra, white roses and delicious Ferrero Rocher chocolates. A girl who has an outstanding love of Indian colourful music. Admiring Shreya Ghoshal, the marvelous playback singer who has voice of heaven.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s