No Sound to This Heart Beat (3)

17ec446f4c60b8756e53968b63ef1dca.jpgMalam pekat kelabu. Hujan semakin lebat di luar rumah, jatuh berderai dari langit. Kilat sambung menyambung disusuli getaran petir. Sayup-sayup suara derai hujan menyelinap ke dalam ruangan. Tampak titik-titik hujan membasahi jendela. Amira memandangi malam kelabu itu dari muka jendela pada salah satu dinding di kamarnya. Matanya sayu mengamati curah hujan yang deras, tebal dan rapat. Dia tampak pucat. Menatap ke luar dengan tatapan kosong. Hujan deras itu mengingatkannya pada peristiwa enam bulan yang lalu.

Kematian Isa menorehkan luka psikologis yang mendalam bagi Amira. Sakit yang menggerogoti setiap bagian dari dirinya. Merasakan hatinya yang retak selama enam bulan terakhir. Dia bisa merasakan yang satu itu. Sepasang matanya terasa perih ketika air mata perlahan bergulir turun membasahi pipinya. Daerah kulit di sekitar matanya menjadi hitam dan bengkak karena belum berhenti berduka. Dadanya pun terasa sesak. Peristiwa nahas itu masih membekas dalam memorinya.

Orangtuanya menjadi frustasi melihat keadaannya yang tak kunjung membaik. Mereka takut Amira akan semakin terpuruk jika mereka tidak segera bertindak. Dan menyewa jasa seorang psikolog untuk mengobati kejiwaan putri mereka adalah solusi pertama yang terbesit dalam benak mereka.

Mama datang membuka pintu, mendapati putrinya sedang berdiri menatap kosong ke luar kaca jendela. Hal yang selalu putrinya lakukan jika hujan turun. Kemudian, Mama datang mendekat. Selangkah dua langkah, dia mendapati kakinya merapuh. Tak lama, dia berbalik. Merasa ragu dan tidak sanggup. Setiap kali dia melihat keadaan putrinya seperti itu, dadanya terasa berat. Dan bukan main sakitnya. Air matanya menetes dan tangannya gemetar. Matanya terpejam rapat-rapat, menjatuhkan butir-butir air mata yang hangat. Cepat-cepat dia mengusap air mata di pipinya dengan kedua tangannya lalu menghela napas, berbalik dan mengendalikan diri.

“Kau belum tidur?” sapanya getir.

Amira bergeming. Air matanya bergulir membasahi lekuk pipinya. Sebagian kesedihannya berubah menjadi amarah, sebagian yang lain tumpah menjadi air mata. Tak peduli seberapa sering air mata itu kembali membasahi wajahnya, luka dalam hatinya tak juga mengering.

Mama menelan ludah dengan susah payah. Napasnya tertahan di tenggorokan. Matanya terpaku pada Amira yang menangis di depannya sementara dia tidak berdaya menghentikan penderitaan putri tunggalnya itu. Dia tidak henti-hentinya mencemaskan Amira. Seluruh tenaga dan pikirannya telah dia curahkan hanya untuk Amira.

“Oh sayang,” ucapnya getir, membelai lembut kepala Amira. Menjatuhkan kedua lututnya di lantai, membuat matanya sejajar dengan putrinya. Dengan lembut, dia mengusap setiap air mata yang jatuh membasahi wajah Amira.

“Mama, kenapa disini sakit sekali?” Amira menekan dadanya. Gadis itu memekik pilu.

Mama tercengang sampai tidak bisa berkata apa-apa. Dia tahu putrinya sangat terpukul, tetapi ini adalah pertama kalinya Amira menangis sampai berlarut-larut seakan air matanya tidak akan pernah habis.

“Isa pergi karena kesalahanku, Mama.” sesal Amira.

Mama tersenyum pahit. Kekhawatirannya menjadi nyata. Putrinya benar-benar celaka berpisah dari anak laki-laki itu. Gumpalan di tenggorokan membuatnya sulit berkata-kata. Bola matanya kembali memanas. Tangannya dengan lembut membenarkan rambut Amira, menyelipkannya di belakang telinga. Air matanya membayang di pelupuk. Dengan suara tercekat, dia berusaha menenangkan. “Ami. Hanya karena dia tidak terlihat, bukan berarti dia tidak ada, Sayang. Di surga akan ada banyak teman-teman seusianya…” berkali-kali tangannya mengusap lembut wajah Amira, menghapus air mata putrinya, lalu melanjutkan, “Tuhan menyediakan tempat yang indah untuk mereka di sana. Jadi kau jangan bersedih lagi ya. Berdoalah untuknya, Sayang.”

Mendengar nasehat Mama, Amira menjatuhkan diri di pelukan Mama. Mendekap Mama begitu kuatnya, melampiaskan kesedihannya dengan menangis tersedu-sedu. Air mata Amira begitu menular sehingga Mama mulai menangis bersamanya.

Selama hidupnya, Amira selalu berlimpahkan kebahagiaan dan kasih sayang dari kedua orangtuanya. Semua keinginannya selalu terpenuhi, bahkan sebelum gadis kecil itu meminta. Dia hampir tidak pernah menangis. Papa yang begitu penyayang selalu menuruti semua keinginannya. Apapun itu. Namun untuk yang satu ini, Papa tidak bisa memenuhinya.

Bagi Amira, Isa bukanlah sekedar teman ataupun sahabat, melainkan bagian dirinya yang berbeda tubuh. Keberadaan Isa menjadi sebuah kebutuhan yang sama pentingnya dengan bernapas. Dia dapat merasakan penderitaan dan kebahagiaan Isa. Suatu bentuk perasaan yang sulit dipahami.

Amira cemas ketika Isa tidak hadir di sekolah. Ia bertanya kepada wali kelas Isa saat itu, namun rupanya wali kelas juga tidak mendapat kabar dari pihak wali Isa, yaitu Paman dan Bibinya. Amira semakin tidak tenang seharian di kelas. Dan ketika jam sekolah berakhir, Amira meminta pak Suryo untuk mengantarkannya ke rumah Isa. Meskipun hujan deras dan jalanan macet, Amira tetap bersikeras menemui Isa dan bertapa terkejutnya dia setibanya di sana. Dia menyaksikan Isa diguyur hujan deras tanpa pakaian, hanya mengenakan celana pendek tipis. Tubuhnya menggigil kedinginan dengan kedua lengan disilangkan ke dada. Tanpa keraguan, Amira bergegas turun dari mobil bahkan sebelum mobil itu benar-benar berhenti. Dia tidak peduli meski hujan deras ikut mengguyur tubuhnya. Mendatangkan rasa cemas dalam diri Pak Suryo,

“Non Amira!” panggilnya tergopoh mengambil payung dari dalam mobil lalu bergegas lari menyusul Amira.

“Isa!” seru Amira ketika berlari kencang menghampiri Isa.

Isa berdiri dengan tangan menyilang di dadanya, menahan kedinginan. Sekujur tubuhnya kuyup. Menggigil. Wajahnya kuyu dan bibirnya bergetar kebiru-biruan. “Shiba?”

Amira terdiam oleh perasaan iba melihat penderitaan Isa. Air matanya menggenang di pelupuk, mengaburkan pandangannya. “Ka-kau sedang apa? Kenapa hujan-hujanan?!” tanyanya dengan suara cukup keras karena harus bertarung melawan suara hujan.

Pak Suryo pun datang dan memayungi kedua anak itu.

Isa menjawab dengan bibir gemetar, “Kenapa kau ke sini? Pulanglah!”

Amira balas menatap Isa dengan alis menggantung sedih. “Tidak mau!” bantahnya. “Ini pasti perintah Paman dan Bibimu kan?”

“Pulang lah. Nanti kau sakit.”

Amira menggeleng kuat-kuat dan menolak untuk pergi. Paman dan Bibinya Isa telah tega menghukum Isa dengan cara keji seperti ini. Apapun kesalahan anak laki-laki itu, tidak sepantasnya dihukum dengan cara keji seperti ini. Terkadang Paman dan Bibi menghujani Isa dengan sumpah serapah yang sangat kasar dan tidak nyaman didengar di telinga.

Seluruh tulang Isa terasa ngilu, kulit kedinginan, punggung perih bukan main dan kepalanya sakit luar biasa setelah diguyur hujan deras hampir satu jam. Tidak jauh dari mereka, bibinya Isa keluar dari rumah, berdiri di teras dengan daster lusuhnya lalu bersuara lantang terhadap mereka.

“Heh! Sedang apa kalian??!”

Amira dan Isa serentak menoleh terkejut ke arah sumber suara. Dengan wajah memberengut, Amira menatap kecewa ke arah bibinya Isa.

“Ini lagi kecil-kecil sudah berani menatap orang tua begitu!! Tidak diajar sopan santun ya sama orangtuamu?!” teriak Bibinya Isa pada Amira, lalu beralih menatap tajam Isa. “Heh kau anak setan! Jangan berhenti berdiri di sana sampai hujannya reda! Itu hukuman buatmu karena mencuri nasi di rumahku!! Awas kau ya!” ancamnya sambil menuding-nuding Isa.

Kejadian yang sebenarnya tidaklah tepat bila disebut mencuri. Isa jarang diberi makan. Kalaupun anak itu makan, itu adalah makanan sisa yang sudah diletakkan di tempat cucian piring. Bagaimana bisa disebut mencuri jika makanan itu sudah dibuang?

Amira menggandeng tangan Isa. “Bibi jahat! Bibi tidak punya perasaan!” serunya kecewa, sinar matanya terluka.

“Apa??!” Bibinya Isa semakin meradang dan segera membuka payung. Dia menghampiri Amira dengan muka merah. Mulutnya sudah siap memuntahkan makian ke arah gadis kecil itu. Dan sebelum ia berdiri tepat di depan Amira dan ingin membentak dengan kasar, pak Suryo langsung berdiri tepat di antara mereka, hendak melindungi gadis kecil itu seperti seorang ayah,

“Ibu tidak malu ya bicara kasar seperti itu di hadapan anak kecil?!”

“Eeeeh ini lagi pakai ikut campur! Supir saja belagu!” mendengar teguran itu, si Bibi malah semakin naik pitam. Dia kembali membentak dan memaki-maki dengan kata-kata kasar.

“Saya memang hanya seorang supir, Bu! Tetapi lidah saya tidak tajam seperti Ibu! Hati-hati kalau bicara, mereka itu anak kecil!”

“Eeeehh pakai ceramah lagi! Saya tidak ada urusan sama Anda! Sekarang pergi!” hardik Bibinya Isa.

Pak Suryo mengurut dada. Dia menggeleng tidak percaya. Tidak kuat meladeni si Bibi kejam dan tak berperasaan. Sepertinya iblis yang sesungguhnya berbicara melalui mulut perempuan itu. Pak Suryo memilih mengalah sebelum syaraf-syaraf di kepalanya pecah karena tidak tahan. Dia lalu menggandeng tangan Amira dan Isa untuk masuk ke dalam mobil.

“Heh! Mau dibawa kemana si Isa?!” seruan bibinya Isa memekakkan telinga, namun pak Suryo tidak mengindahkan seruan itu. Dia tetap menggiring Isa dan Amira masuk ke dalam mobil lalu menancap gas meninggalkan lokasi.

Di dalam mobil, pak Suryo menghela napas dengan perlahan. Mencoba meredakan emosi yang membuncah di dalam dadanya. “Mengerikan. Bagaimana bisa seorang perempuan bersuara lantang dan bersikap kasar terhadap anak kecil.” ujarnya heran sembari menatap Bibinya Isa dari balik kaca depan mobil yang berembun dan terlumuri air hujan. Kemudian mobil itu melaju kencang meninggalkan kediaman Isa dan satu kilometer berselang, Pak Suryo menepikan mobilnya kembali di tepi jalan. Ia turun sebentar, mengambil selimut di jok belakang lalu memberikannya kepada Isa karena bocah laki-laki itu sudah menggigil kedinginan.

Melihat keadaan Isa, air mata Amira kembali banjir berjatuhan. Tulang selangka anak laki-laki itu sampai terlihat jelas karena sering kelaparan. Kemudian Amira mengeluarkan sesuatu dari tas punggungnya. “Makanlah,” katanya sembari mengulurkan kotak bekal makan siang miliknya yang sengaja dia simpan untuk Isa. Sementara Isa masih dalam keadaan menggigil, bibirnya gemetar ketika ingin menyampaikan rasa terima kasihnya pada Amira. Dia menatap Amira sejenak dengan mata berkaca-kaca lalu kembali menunduk dan dengan lirih dia menyampaikan rasa terima kasihnya dari hati yang terdalam.

Amira menangis tersedu. Hidungnya merah dan pipinya basah. Dia terus menangis dan sulit berhenti.

“Kenapa menangis?” tanya Isa dengan suara yang diusahakan terdengar tegar.

“A-aku tidak tahu,” sahutnya sesenggukkan, menggeleng polos.

Isa berkata dengan suara tercekat, “Jangan menangis, Shiba. Lihat mataku, aku tidak menangis.”

Pak Suryo merasakan perih luar biasa di mata dan di hati, ketika matanya memandangi kedua anak yang saling memahami dan menyayangi lewat kaca pengemudi di tengah mobil. Air matanya pun meleleh dan dia buru-buru menghapusnya lalu berusaha menghibur kedua anak itu meskipun dia juga menitikan air mata.

Advertisements

Published by

Zakia Khairunnisa

Kia, just an ordinary girl by the imperfections. A girl who loves sweet and romantic things as in the fragrance of the land that exposed to rain, the magnificent form of eternal love Shah Jahan for his wife, the Taj Mahal monument in Agra, white roses and delicious Ferrero Rocher chocolates. A girl who has an outstanding love of Indian colourful music. Admiring Shreya Ghoshal, the marvelous playback singer who has voice of heaven.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s