An Inner Scream

Hari yang hangat di bulan April. Sinar matahari keemasan menembus jendela di bagian tengah langit-langit kamar. Sinarnya menyorot langsung ke tempat tidur, membuat sprei hitam dan bed cover abu-abu itu menghangat.

a1be03d8514eb4d3bcda5763ceae475fSeorang pemuda tidur dengan posisi telungkup di tempat tidurnya yang berukuran besar dan empuk. Sinar matahari yang menembus jendela kamar menyilaukan matanya. Dia membuka matanya yang terasa berat. Mengangkat sebelah tangan, menutupi mata. Samar-samar dia mendengar suara burung-burung bercuit-cuit seperti biasa, hinggap dari satu pohon ke pohon lainnya. Sebelah tangannya keluar dari dalam selimut, kepayahan menjangkau jam weker hitam yang terletak di atas tumpukan buku dekat dengan tempat tidurnya. Sekilas benda di tangannya tampak bergoyang-goyang. Dia menajamkan mata agar dapat melihat dengan jelas.

9.10.

Pemuda itu menatap benda di tangannya sekali lagi setelah menggosok-gosok matanya tak percaya, berharap dia salah lihat. Dia kembali berbaring, menatap langit-langit kamar, mengerjap beberapa kali, sampai kesadarannya benar-benar utuh. Dan tak lama kemudian, dia terkesiap dan langsung melompat kaget dari tempat tidurnya.

“Oh crap!” umpatnya. Crap!” serunya panik sambil mengacak-acak rambut. Dia melesat ke pintu kamar mandi dan membukanya dengan satu sentakan cepat. Sepersekian detik dia kembali ke kamar, berlari mengambil handuk yang tertinggal.

Lima menit kemudian, pintu kamar mandi terbuka dengan suara keras dan pemuda itu melesat kembali ke kamar tidurnya, disusul dengan suara pintu lemari dibuka dengan gaduh. Matanya kalap memandang ke segala sudut. Mencari pakaian wisuda lengkap dengan topi dan medalinya. Dia menyerukan serentet umpatan berulang karena panik. Dan semakin membabi buta setelah melihat jam dinding yang berdetik cepat, karena prosesi wisuda akan dimulai 40 menit lagi. Dengan terburu-buru, dia mengenakan celana panjang hitam dan kemeja putih, disusul dengan dasi merah yang diikat asal ke lehernya. Dia berlari ketar ketir keluar kamar. Menuruni tangga sembari menenteng baju toga dan sepatu hitamnya.

Beberapa saat kemudian pemuda itu muncul di garasi rumahnya, mengarahkan remote kunci mobil ke Honda sport-nya.

Bip! Bip! Honda sport hitam metalik itu berbunyi. Pemuda itu segera membuka pintu mobil dan melemparkan barang-barang yang ditentengnya dengan sembrono ke tempat duduk bagian belakang. Dia segera menyalakan mesin mobil kemudian menekan pengendali jarak jauh otomatis pembuka gerbang rumahnya. Sambil menunggu mesin mobilnya panas, dia menatap wajah ovalnya di kaca pengemudi bagian tengah mobil seraya mengikat dasi merah di leher dan sebentuk lesung pipit tampak tersembul manis di wajahnya.

Langit cerah berawan dengan semburat sinar matahari menyorot melalui sela-sela awan ketika pemuda itu mengemudikan mobilnya super ngebut begitu keluar dari rumah. Lima belas menit selagi di perjalanan, keheningan yang menyelimuti mobil sport-nya tiba-tiba dipecahkan oleh dering ponsel. Pemuda itu tersentak kaget. Crap!” erangnya sebal. Dia melirik layar ponsel yang terekat pada pegangan kemudi lalu mengaktifkan pengeras suara.

“Ya, Pa. I’m on my way.sahutnya cepat.

“Astaga, kau masih di jalan, Adi??” Papa terheran-heran. “Ya ampun, jangan bilang kau kesiangan lagi ya?”

Pemuda itu memaksakan sepotong senyum bersalah di bibirnya. Relax, Pa. Sepuluh menit sebelum acaranya dimulai aku sudah tiba di sana.”

Papa mendesah dengan suara keras di ponsel, membuat pemuda itu mengerjap kaget. “Kau ini ya,” katanya mendecakkan lidah dengan heran. Tidak habis pikir, putra bungsunya itu masih bisa datang terlambat di hari-hari penting seperti ini. Reaksi Papa membuat wanita yang duduk di sampingnya bertanya sambil mengangkat alis. Lalu Papa berbisik pelan kepada wanita sekaligus istrinya itu sambil menutup speaker ponsel dengan telapak tangan, “Dia masih di jalan.”

Mama terbelalak kaget. Wanita itu segera merebut ponsel itu dari tangan suaminya dengan jengkel. “Hey, Aditya Hariz!” suaranya terdengar geram di ujung sana.

Cara Mama menyebutkan nama lengkapnya di ponsel pertanda celaka, membuat Aditya menatap langit-langit dan bergumam pasrah, “Tuhan, bunuh saja aku.”

Mama memiliki sifat yang bertolak belakang dengan Papa. Papa adalah sosok yang relatif tenang dan memberikan kepercayaan penuh. Sedangkan Mama terlalu mudah khawatir dan cerewet. Tidak cukup bagi Mama memberikan nasehat atau pesan sekali dua kali. Mama tak segan-segan mengulangnya terus menerus seperti memutar kaset kusut di bagian yang sama. Dan itu sangat men-jeng-kel-kan! Membuat kuping panas dan merah. Apalagi soal ketepatan waktu. Maklum saja, sebelum menikah dengan Papa, Mama pernah bekerja sebagai pramugari di salah satu maskapai penerbangan ternama di Indonesia. Profesi terdahulunya itu menuntutnya untuk disiplin dan selalu tepat waktu. Sementara Aditya selalu saja datang terlambat dan tidak pernah bisa datang tepat waktu.

“Iya, Ma.” sahut Aditya dengan serengeh.

“Kau dimana sekarang?” Nada suara Mama sama sekali tidak ramah.

“Aku masih di jalan. Sebentar lagi juga sampai. Mama tenang sajalah aku pasti datang tepat waktu.” jawab Aditya datar, setengah memohon untuk tidak menambah kepanikannya.

Dan ceramah panjang lebar itupun dimulai…

“Ya ampun, Adi. Entah bakat menjengkelkanmu itu menurun dari siapa,” lirik Mama, menyindir laki-laki di sampingnya. “Seharusnya kau bangun lebih pagi. Kami saja yang berangkat dari Bandung, bisa tiba lebih awal darimu. Kalau tahu kau akan datang terlambat, sebaiknya kami menunggu di luar saja tadi. Lalu bagaimana sekarang? Kami sudah duduk di dalam. Sebentar lagi acaranya dimulai. Kau ini bagaimana? Kau kan yang punya acara, kenapa bisa-bisanya datang terlambat?!” Kekesalan di wajah Mama pun terbit.

Aditya menggaruk-garuk bagian belakang lehernya dengan telunjuk. Seluruh tubuhnya mulai berasa dijangkiti gigitan-gigitan nyeri seperti cubitan biang keringat. Dia hanya mengangguk-angguk cuai tanpa benar-benar mendengarkan.

“Kenapa kebiasaan burukmu itu tidak pernah hilang?! Kau sebentar lagi akan masuk dunia kerja. Bagaimana bisa bertahan kalau kau selalu saja datang terlambat? Kau kan sudah dewasa, Adiiiii.” Mama memekik gemas. “Masa harus selalu diingatkan soal ketepatan waktu? Ini kan momen penting dalam hidupmu. Ya diusahakan jangan sampai telat! Harusnya kau sudah mempersiapkan semuanya dari semalam, Adi…” Kata ibunya memberondongi Aditya dengan ceramah panjang lebar.

Merasa ceramah itu tidak hanya sebentar melainkan panjang dan lebar sampai tidak menemukan titik, Aditya memandang ke segala sudut mobilnya. Dia merogoh-rogoh mencari plastik di kolong tempat duduknya. Dan seringai nakal tersungging di bibirnya setelah menemukan plastik bekas makanan dari sana. Dengan sengaja dia meremukkan plastik itu di depan ponsel yang terekat pada pegangan kemudinya.

“Ma…ma…?” Kresek! Kresek! “Su…a…ranya pu…tus putus, ma. Aku tidak dengar!” Serunya, sengaja dibuat tersendat-sendat selagi meremukkan plastik di tangannya.

“Ha…halo? Adi?”

Tut…tut…! Sambungan telepon diputus.

Aditya menyandarkan kepalanya, mendesah lega. Dia menghirup napas dalam-dalam, memperbaiki posisi duduknya dan melemaskan jari-jarinya pada pegangan kemudi. Berupaya menenangkan diri dari kepanikan yang melanda. Tidak berapa lama setelah dia menutup ponsel, ponselnya kembali berdering. Kali ini ada voice note masuk. Alisnya terangkat begitu melihat pesan itu dari kakaknya, Arlan Hariz.

Hey, congratulations! Seriously, I’m proud of you! Yakin kau tidak mau ke Inggris?

Aditya menyeringai mendengarnya tanpa berniat membalas pesan suara itu.

Advertisements

Published by

Zakia Khairunnisa

Kia, just an ordinary girl by the imperfections. A girl who loves sweet and romantic things as in the fragrance of the land that exposed to rain, the magnificent form of eternal love Shah Jahan for his wife, the Taj Mahal monument in Agra, white roses and delicious Ferrero Rocher chocolates. A girl who has an outstanding love of Indian colourful music. Admiring Shreya Ghoshal, the marvelous playback singer who has voice of heaven.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s