Inner Scream (2)

Setelah menempuh perjalanan hampir satu jam, Aditya tiba di salah satu gedung yang terletak di Jl. Jend. Gatot Soebroto. Mobil berplat nomor D4MN itu melesat masuk ke parkiran, mengisi satu-satunya celah kosong di antara mobil-mobil lainnya. Usai memarkirkan mobilnya dengan sembrono, Aditya mengenakan baju wisudanya dengan slebor di dalam mobil. Dia melirik jam di dashboard mobilnya dan mengerang sekali lagi.

Aditya berlari tergesa-gesa dengan sebelah tangan menyingkap baju wisudanya dan sebelah tangan lainnya memegangi topi toga. Laki-laki itu menyusuri Rafflesia Ballroom yang dihadiri 196 mahasiswa yang berpakaian serba hitam dengan topi toga dikepala mereka. Kedatangannya yang tergesa-gesa sontak menarik perhatian para manusia berkepala toga di sana. Ratusan mata menatapnya dengan alis berkerut heran. Seolah dirinya adalah mahluk asing yang ditolak berada di planetnya sendiri dan dibuang ke bumi. Sementara laki-laki berlesung pipi itu hanya mengangguk-anggukkan kepala seraya tersenyum kaku.

Aditya berjalan perlahan melewati beberapa mahasiswa yang duduk sebaris dengannya. Dia menempati bangku dengan nomor urut 77. Beberapa teman-teman yang duduk sebaris dengannya menyapanya. Ada juga yang sekedar tersenyum. Aditya hanya membalasnya dengan mengangkat alis sebagai pengganti kata sapaan.

Riza menyalami Aditya dengan saling mengadu telapak tangan mereka. Nama lengkapnya Riza Kemal Pasha. Pemuda keturunan Turki, namun lahir di Inggris. Kulitnya putih pucat, hidungnya bangir dan terkadang memakai kacamata bulat seperti Harry Potter. Ayahnya memiliki kedudukan yang cukup penting pada sebuah perusahaan operator seluler di Istanbul, Turki.

Aditya mengerang lega usai menyandarkan punggung pada sandaran kursi.

Seriously? You’re coming late di prosesi wisuda sendiri? Where have you been??” bisik Riza, mendekatkan kepalanya ke kepala Aditya.

“Macet.” jawab Aditya, menggeleng tak kerasan agar terlihat meyakinkan.

“Cih, klise!” celetuk Alex.

Aditya sontak menoleh. “Hey!” sapanya agak terkejut ketika menyadari kehadiran Alex di sebelah kanannya. Dia tersenyum lebar, sebelah tangannya merangkul bahu Alex akrab. Great! Kita bertiga duduk sebaris.”

Of course, Idiot.” sahut Alex memandang ke depan. Menyaksikan menteri pendidikan nasional RI sedang berpidato di podium. “Kau lupa? Nomor induk mahasiswa kita bertiga berurutan sejak pertama kali mendaftar di universitas ini.”

Riza mendecakkan lidah. Useless bicara dengannya, Lex. Dia tidak akan ingat! He’s too busy for Luna.” timpalnya cemburu.

b9c02333bf74a5b0e7814cac6750179fLuna yang dimaksud Riza adalah seorang gadis yang periang dan ekspresif. Dia manis dan tomboy. Rambutnya bergelombang panjang sebahu, berkulit coklat gelap dan giginya bersih seputih susu. Semua teman-teman dekatnya pun laki-laki. Mereka sampai menjulukinya si Handsome Girl.

Aditya dan Alex menoleh bersamaan ke arah Riza. “Oh God, who’s talking now,” kata Aditya sambil memutar bola matanya. “Si pengagum rahasia Luna.”

Bola mata Riza melebar, bahasa tubuhnya mendadak kikuk. Dia tergagap merespon, “A-aku tidak mengaguminya. Ka…kata si…apa aku mengaguminya?”

“Lalu kenapa kau ga..ga..gap begitu??” ledek Aditya tak mau kalah.

Alex mengulurkan telapak tangannya dan Aditya menimpali, mereka tertawa geli. Riza melirik Aditya datar namun pandangannya sedikit menyiratkan keheranan. She’s madly in love with you, and you’re just too fool to understand. gumamnya gemas pada Aditya. Laki-laki itu menebar aroma cemburu yang sangat kuat terhadap Aditya.

Tarikan napas meledek memastikan bahwa Aditya sama sekali tidak terpengaruh oleh gumaman Riza. Oo, I smell sense of jealousy here.” balasnya mengibaskan tangan ke depan wajah sembari memasang mimik menyebalkan.

“Shut up!” Riza memukul dada Aditya dengan punggung tangannya.

Selama perhelatan wisuda berlangsung dan beberapa pembicara telah naik ke atas podium untuk berpidato, tidak ada satupun dari mereka bertiga yang benar-benar mengikuti jalannya acara. Mata ketiganya memandang ke depan seolah mendengarkan, namun mereka sedang berbicara dengan suara pelan.

Sesaat kemudian, tibanya momen rektor mengumumkan nama mahasiswa dengan lulusan terbaik untuk angkatan 2009 di atas podium. Suasana hening seketika. Ratusan kepala yang hadir di ballroom Raflesia pun mendengarkan dengan seksama.

“Dan yang menjadi lulusan terbaik fakultas Administrasi Bisnis tahun ini adalah…” suara rektor membuat ruangan itu hening. Diam. Bergeming. Semua perhatian terpusat kepada sosok berbadan tinggi besar dengan rambut jarang di kepalanya. Kata-kata yang meluncur dari mulutnya sangat dinanti-nanti oleh ratusan mahasiswa di sana. Mereka kelihatan bersemangat dengan tangan dikepal tak sabar menanti rektor menyebut nama selebriti kampus mereka. “Luna Radika dari jurusan Administrasi Bisnis Internasional dengan IPK 3,98!”

Tepuk tangan pun terdengar riuh menggetarkan langit-langit ruangan berukuran 1214 m² itu. Luna naik ke atas podium untuk berpidato. Dia bagai meteor, melesat di langit malam dan bersinar lebih terang daripada bintang. Gadis manis itu disambut meriah oleh para penggemarnya, khususnya para laki-laki. Suasana di dalam ruangan seketika bergemuruh, lebih terdengar seperti stadion bola yang dipenuhi oleh fans-fans fanatik yang menyerukan nama tim sepakbola kebanggaan mereka. Kedua tangan Luna saling meremas karena gugup. Dia terlihat cantik dengan topi toga dan baju berwarna biru kuning yang dikenakannya. Sebuah medali emas juga tergantung di lehernya. Seluruh peserta wisuda berdiri, bertepuk tangan penuh kebanggaan untuk gadis tampan itu.

Luna yang semula gugup, kini tampak lebih tenang. Gadis itu menghela napas dalam-dalam kemudian menghembuskannya dengan pelan untuk meredakan rasa gugupnya. Dia tersenyum cerah menatap teman-temannya dari atas podium. Wajahnya bersinar bagai diterpa cahaya rembulan. Sebelum memulai pidatonya, Luna berdehem. Tangannya kemudian meraih microphone di depannya lalu mendekatkannya ke bibir.

“Terima kasih,” ucapnya di awal pembukaan pidato. Suara tepuk tangan yang terdengar riuh itu pun surut perlahan. Para mahasiswa dan mahasiswi yang semula berdiri, mulai duduk satu persatu. “Saya ingin mengucapkan terima kasih pada Tuhan Yang Maha Esa. Pada kedua orangtua saya di sana.” Luna melempar pandangan kepada kedua orangtuanya yang tersenyum bangga padanya. “Kepada rektor, semua dosen yang berjasa atas keberhasilan saya. Dan kepada teman-teman saya.” Luna tampak memejamkan matanya sejenak seperti sedang berdoa sepenuh hati, kemudian melanjutkan, “Khususnya Aditya Hariz!”

Glek! Aditya menelan ludah. Napasnya tertahan dan matanya terbelalak.

Sebagian mahasiswa yang mengenalnya serentak menoleh ke arahnya. Lalu sebagian yang lain mengikuti. Mereka penasaran siapa laki-laki beruntung yang disebut-sebut namanya oleh selebriti kampus mereka. Kini semua mata yang berada di ruangan itu tertuju pada Aditya Hariz. Laki-laki berlesung pipi itu menjadi terkenal dalam hitungan detik. Bola matanya bergerak ke kanan ke kiri. Berharap tidak semua orang menatapnya di sana, namun tidak ada satupun mata yang tidak memandang ke arahnya.

Alex tersedak, hampir kelepasan tertawa. Dia menyenggol lengan Aditya hingga membuat tubuh temannya itu sedikit oleng. Sementara Riza terbelalak, seolah tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Dengan sekuat tenaga, dia menahan debur cemburu yang semakin berkecamuk di dalam dadanya sejak tadi. Patah hati telah menghancurkan setiap sendi dirinya. Sementara bahu Aditya merosot perlahan dari sandaran kursi. Nyalinya ciut seketika. Wajahnya merah padam.

“Aditya! I love you!” ungkap Luna dari atas podium.

Aditya mendengarnya. Ya, sangat jelas. Sampai permukaan kulitnya merinding. Astaga. Luna tepat sekali memilih waktu untuk melayangkan pernyataan cintanya saat prosesi wisuda. Di sana ada para dosen, orang-orang penting sampai pejabat negara, teman-teman, kerabat dan… orangtua! Ya, orangtua! Aditya lalu memejamkan matanya rapat-rapat. Wajahnya menjadi merah seperti kepiting rebus.

Suasana di ruangan itu bertambah riuh mendengar ungkapan cinta Luna, namun tak sedikit di antara mereka yang patah hati. Mereka bersorak ramai bahkan bertepuk tangan mengagumi keberanian Luna. Tidak banyak dari mereka yang bernyali melakukannya di depan umum. Ini adalah prosesi wisuda paling fenomenal di sepanjang sejarah kampus. Kalau sudah melibatkan banyak orang begini, lantas bagaimana Aditya bisa berkelit? Di benak Aditya saat itu tidak ada keinginan yang lebih kuat selain menghilang.

Seandainya Aditya bisa berbahagia, tentunya ungkapan cinta ini akan menjadi manis. Tetapi, raut wajahnya lebih mencerminkan seperti orang yang baru saja terkena stroke. Ia memikirkan pendapat orangtuanya nanti. Mereka tidak buta dan tidak juga tuli. Mereka pasti akan meminta penjelasan lebih detail kepadanya.

e97bacca1620f9f17050a245a0064b4dDan setelah kejadian yang mungkin akan dikenangnya seumur hidup itu, Aditya termenung cukup lama di dalam mobil. Butuh waktu untuk membuatnya percaya akan kejadian barusan. Dia menatap lurus ke depan sambil memegang kemudi lalu menjatuhkan kepalanya lesu di sana. Menutup matanya rapat-rapat berusaha mengusir kenangan memalukan itu. Menghindari serentetan pertanyaan dan ledekan dari teman-temannya. Belum lagi para laki-laki yang sinis menatapnya. Ponselnya berdering. Dia melihat layar ponsel dan nama Luna muncul di sana. Dia memilih mengabaikan semua panggilan yang masuk ke ponselnya saat itu. Khususnya dari Luna. Aditya tiba-tiba teringat pada pesan suara kakaknya tadi pagi. Dengan cepat, dia mengirim balasan pesan singkat kepada kakaknya. Jari-jarinya mengetik beberapa kata.

Lan, see you in London!

Advertisements

Published by

Zakia Khairunnisa

Kia, just an ordinary girl by the imperfections. A girl who loves sweet and romantic things as in the fragrance of the land that exposed to rain, the magnificent form of eternal love Shah Jahan for his wife, the Taj Mahal monument in Agra, white roses and delicious Ferrero Rocher chocolates. A girl who has an outstanding love of Indian colourful music. Admiring Shreya Ghoshal, the marvelous playback singer who has voice of heaven.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s