Inner Scream (3)

9248cad9d4f337bc47f6654ecd5f46faLangit begitu tenang. Aditya duduk didekat jendela sisi kanan pesawat. Menatap diam berjam-jam hamparan awan putih dan langit biru layaknya kapas yang terapung di udara. Sekitar pukul 9.15 waktu setempat, Aditya telah mencapai wilayah Inggris. Sang pramugari telah mengumumkan bahwa pesawat akan mendarat dan penumpang diharapkan memasang sabuk pengaman masing-masing. Aditya melongok ke jendela, menatap lekat hamparan kota di bawah sana. Susunan kota, tata rumah yang rapi, jalan raya yang meliuk-liuk dengan mobilnya yang kecil-kecil serasa mendapat sambutan kecil dari negara Ratu Elizabeth II itu. Dan pesawat berlogo mahkota biru itu mendarat dengan mulus di bandara Heathrow, Inggris.

Hari itu Aditya mengenakan kaus putih berkerah rendah dengan kacamata hitam mengapit di ujungnya, dibalut dengan jaket ber-zipper warna biru tua. Dia memadukan atasan tersebut dengan celana denim biru cerah dan sepatu Adidas putih. Rambut hitamnya tidak tertata rapi dengan poni acak menutupi dahi. Penampilannya yang semrawut itu semakin memperparah raut wajahnya yang kelelahan.

Sambil menyeret koper hitam bawaannya, Aditya berjalan menuju Terminal 3. Setibanya disana, dia mengedarkan pandangan ke sekeliling. Kepalanya jadi bertambah berat menyaksikan suasana bandara yang luar biasa sibuk. Heathrow adalah bandara tersibuk di dunia. Antrean panjang di bagian imigrasi. Bule-bule tinggi besar berseliweran di sekitarnya. Bunyi gesekan sepatu dan lantai. Derit roda koper yang diseret dan pembicaraan bahasa Inggris yang tumpang tindih satu sama lain.

Aditya menyapu pandangan, mencari Arlan yang mengatakan akan menjemputnya di sana. Di tengah hiruk pikuknya bandara, terdengar suara samar-samar seseorang memanggilnya,

“Adi! Adi!”

Aditya menyeringai. Dapat menerka dengan mudah siapa yang memanggilnya. Ia lantas memutar tubuh. Tidak jauh dari tempatnya berdiri, ia mendapati seorang pria berkemeja biru tua dengan penuh semangat melambaikan tangan di antara kerumunan orang yang menunggu. Berdesakan melawan arah agar dapat meloloskan diri.

Arlan Hariz. Pria dengan tinggi badan 178 sentimeter ini memang tidak memiliki kemiripan wajah dengannya. Dia berkulit putih mewarisi gen ibunya, berpostur ramping tegap dan selalu berpakaian rapi bahkan formal setiap harinya.

“What a surprise! It’s great to see you here,” sapa Arlan tersenyum lebar. Memegang kuat-kuat kedua lengan bagian atas Aditya dan tidak sabar ingin memeluk adik kesayangannya itu. Sinar matanya menyiratkan rasa haru mengetahui adiknya benar-benar datang mengunjunginya di Inggris.

Aditya tersenyum lebar meski gurat lelah di wajahnya terlukis jelas. Tak sabar, Arlan mendekapnya erat dengan wajah sumringah sambil menepuk-nepuk punggung dengan akrab.

“Apa kabar?”

Great!sahut Arlan semringah. Sesekali dia menggoda adiknya dengan menepuk pipi adiknya gemas. “Kau?”

Horrible.” Aditya menggeleng-geleng penat. Exhausted and sleepy.”

Arlan menanggapi dengan senyum kecil. Bukan hal baru melihat wajah Aditya kusut setiap tiba di London. “Mama Papa bagaimana? Mereka sehat?”

Aditya mengangguk.

“God, I miss them.” desah Arlan merindu. “Sayang sekali aku belum bisa kembali ke sana.” keluhnya sedih. Setumpuk pekerjaan di kantor telah menantinya tanpa kompromi. Mengubur dalam-dalam keinginannya kembali ke tanah air demi impiannya sebagai editor. Dia bekerja lebih giat dari pegawai lainnya demi membuat atasannya terkesan.

“Mama dan Papa baik-baik saja. Kau tidak perlu khawatir.”

“Kau tahu apa yang paling aku rindukan selama di London?” tanpa menunggu jawaban, Arlan melanjutkan, “Setiap makan malam, aku selalu rindu masakan Mama. Aku rindu tenggiri pedas buatan Mama.”

Aditya memutar bola matanya, tidak setuju.

Arlan menggeleng-geleng, namun bibirnya tersenyum. You’ll never change, masih saja tidak suka makan ikan.” Kemudian melanjutkan, “dan ketika boss-ku sibuk menceramahiku, aku jadi teringat Papa. Dan ketika aku membutuhkan teman untuk menghiburku, aku teringat padamu.” tolehnya menatap Aditya. “Dulu aku sering merasa bosan setengah mati mendengar Papa tidak berhenti menceramahiku, tidak kusangka ceramah membosankan itu bisa membuatku rindu.” Arlan tersenyum sedu. Jarak yang memisahkan antar benua itu membuatnya lebih matang dan memahami arti kehadiran orangtua untuknya.

Aditya melirik kakaknya sekilas dan kembali menatap jalan didepannya. “Ya, kau hanya membutuhkanku jika sedang kesepian. Dan kau juga melewatkan perhelatan wisudaku di kampus.” sindirnya dengan nada sedikit kecewa.

Arlan menghembuskan napas lelah. Di, what am I supposed to do? Aku bekerja di Golden Books sebagai asisten editor. Dan dalam waktu sebulan, aku diharuskan membaca minimal 50 naskah. Itu bukan pekerjaan ringan, teman. Kau harus selalu sedia aspirin jika ingin kepalamu utuh. Dan setiap meminta jatah cuti, selalu saja atasanku yang gila itu menahanku dengan berbagai alasan.” gumamnya dengan nada pasrah setengah geram.

Aditya tidak berkomentar, hanya tersenyum lebar dan menggeleng-geleng.

Keduanya berjalan ke mobil yang diparkir di pelataran parkir. Aditya memijit-mijit bahunya yang sakit. Mengerang lelah setelah menempuh perjalanan jauh selama berjam-jam di pesawat. Badannya terasa pegal-pegal dan matanya bukan main beratnya. Dia hanya ingin cepat-cepat sampai di rumah dan tidur.

Arlan mengangkat koper milik Aditya dan memasukkannya ke dalam bagasi mobil. Aditya melirik Arlan sekilas lalu bertanya, “Tapi-kau bisa kan kalau aku memintamu menemaniku jalan-jalan keliling London?” lebih baik meminta pendapat kakaknya lebih dulu, mengingat Arlan adalah salah satu manusia super sibuk yang hidup di planet bernama bumi ini.

Arlan mendengus ketika mendengar permintaan itu. “Ada apa? Seperti kau belum pernah ke sini aja? Baru setahun yang lalu kau datang ke sini.” Aditya lantas tersenyum masam sebelum Arlan kembali melanjutkan, “Tapi-aku tidak janji bisa menemanimu setiap saat. I have work, remember? Hari ini saja aku dapat izin, dan itupun setengah hari. Cuma untuk menjemputmu.” Arlan berpikir sejenak, mencari solusi agar adiknya tidak kecewa kedua kalinya, lalu melanjutkan, “Begini saja. Sebagai gantinya, kau boleh gunakan uangku selama kau di sini. Anggaplah itu sebagai hadiah kelulusanmu.”

“Kalau itu aku setuju.” seulas senyum puas tersungging di bibir Aditya. Tangan kanannya membuka pintu sisi kiri mobil dan…

“Isa!”

Deg!

Aditya menangkap sebuah suara menerjang gendang telinganya. Dia mendengar dengan jelas seseorang memanggil nama yang terdengar familiar di telinganya. Dia membeku. Detak jantungnya seolah-olah berhenti ketika dikenalinya nama itu. Serta merta perasaan duka mengalir di pembuluh darahnya dan tidak bisa dihentikan. Menyebar dan meluas cepat membuat kepalanya berputar ke arah suara dan matanya tertuju pada seorang wanita berkerudung sedang memanggil anak kecil yang berdiri tidak jauh darinya. Anak laki-laki berambut keriting yang dipanggil Isa itu pun menoleh kemudian berlari dengan wajah riang menghampiri wanita berkerudung itu.

“Stay close, okay?” Aditya mendengar wanita itu berkata lagi dan putranya tersenyum mengangguk.

Aditya mematung. Dahinya berkerut dalam. Tangan kanannya bergerak perlahan menyentuh dada. Merasakan gelombang emosi yang tidak dimengertinya. Merasakan nyeri seperti ada ribuan paku menghujam hatinya dan menorehkan guratan-guratan panjang dan dalam di sana.

“Adi!”

Aditya tersentak sekali lagi. Kaget karena Arlan memanggil. Dia menoleh ke arah Arlan yang sedang berdiri di dekat pintu mobil. “Kenapa diam? Ayo masuk!” suruh Arlan padanya. Aditya kembali memandangi anak kecil itu sejenak, lalu menyahut dengan ringan,

“Ya.”

Mobil hijau army jenis Wagons buatan Jepang itu bergerak meninggalkan bandara Heathrow. Melintasi jalan tol M4. Matahari bersinar cerah dan langit terlihat biru. Aditya membuka kaca jendela mobilnya. Menikmati udara musim semi. Membiarkan angin yang berdesir menerpa lembut wajahnya. Sejenak dia kembali termenung. Mengingat kejadian yang dirasakannya di pelataran parkir bandara.

“Oh ya, apa yang membuatmu tiba-tiba ke London? Bukankah kau bilang bosan ke sini terus?” Arlan bertanya padanya yang sedang menatap hampa pemandangan di luar kaca jendela mobil. Sementara Aditya tenggelam dalam pikirannya. Bergeming. Dia tidak mendengar.

Arlan mengalihkan pandangannya dari kemudi dan menoleh ke arah Aditya. Menegur adiknya yang kelihatan sedang melamun. Kali ini lebih keras. “Adi?”

Aditya menoleh, mengangkat alis. “Ya?”

“Belum ada satu jam disini, kau sudah melamun. Apa karena gadis itu?” tanya Arlan heran bercampur curiga. Matanya kembali ke wajah Aditya.

“Apa?” Aditya menyentakkan kepalanya kaget menatap Arlan. Dia mengernyit bingung. Lalu sedetik kemudian, ia menutup matanya rapat-rapat mengingat sudah pasti itu bukan rahasia lagi. Arlan dan Mama adalah pasangan serasi untuk bergosip. Aditya menelan kekesalannya dan berkata dengan nada pasrah, “Ya, kenapa juga aku harus terkejut.”

“Jadi semua itu benar?” tanya Arlan kelepasan tertawa. Sulit mempercayai seorang gadis berani menyatakan cintanya lebih dulu melihat adik satu-satunya itu apatis dan sembrono. Sontak dia terkekeh dibuatnya.

Aditya mengangkat ujung bibirnya. Melemparkan tatapan sebal ke arah Arlan. “Ya, ya tertawa sana sampai lidahmu tertelan.” balasnya dengan nada suara yang terdengar ketus.

Tawa Arlan mereda lalu menoleh ke arah Aditya. “Bagaimana aku tidak tertawa? Aku ini kakakmu. Aku mengenalmu seumur hidupku. Kau bahkan tidak pernah kelihatan tertarik pada perempuan. Aku sampai khawatir kau tidak normal. Dan ketika ada gadis cantik dan pintar menyatakan cintanya secara terbuka, kau dengan pengecutnya malah melarikan diri. Sebenarnya kau ini normal atau tidak?”

Aditya menatap geram lalu meninju bahu Arlan keras. Kesabarannya sudah mentok sampai ke ubun-ubun. “Enak saja kalau bicara!” protesnya. “Aku tidak sepertimu yang mudah jatuh cinta. Dalam waktu yang sama kau bisa menyukai dua gadis sekaligus.” Aditya mendecakkan lidah, menggeleng-geleng.

Cih. Itu kan dulu, sewaktu aku masih SMA. Tapi setidaknya aku normal kan?” Arlan tidak bosan meledek. “Lagipula saat itu kau masih tujuh tahun. Apa yang kau tahu?”

“Jadi maksudmu aku tidak normal??” Aditya menatap lelah meladeni ejekan kakaknya. Senyum Arlan melebar.

Aditya memalingkan wajah. Memilih menatap objek di sekitar jalan. Menarik napas dalam-dalam lalu menutup mata. Tubuhnya masih terlalu lelah untuk diajak bercanda. Situasi hening sejenak.

Arlan melirik Aditya sekali lagi, lalu bertanya, “Memangnya apa yang kau cari dari perempuan? Jujur, aku tidak paham.”

“Hmm─” Aditya menarik napas dalam-dalam, mengukir lesung di pipinya dengan mata terpejam. “tentunya gadis yang bisa membuatku jatuh cinta setiap hari.” jelasnya tanpa menoleh.

Uh, how sweet!” lirik Arlan pada adiknya dengan senyum mengejek.

Aditya lalu menoleh ke arah Arlan yang duduk di sampingnya. “Ah lupakan tentangku. Kau sendiri bagaimana? Apa sudah ada gadis yang ingin kau kenalkan pada Mama Papa??” tanyanya ingin mengalihkan topik pembicaraan. “Bagaimana dengan…emmm…siapa nama gadis itu? emmm…Laura!” katanya setelah berhasil mengingat nama gadis yang sedang dikencani kakaknya, lalu kembali mengalihkan tatapan ke luar kaca jendela mobil.

Arlan tersenyum muram. “Aku bertengkar dengannya sepanjang waktu. Dan keputusan untuk berpisah, kukira adalah jalan terbaik. Aku memberikannya kebebasan bersama orang lain, begitu juga dengannya. Dia tidak tahan dengan pekerjaanku karena aku sering tidak punya waktu untuknya.” lirihnya tanpa mengalihkan pandangan dari kemudi. Laki-laki itu merasa tidak nyaman mengekpresikan emosinya.

Aditya menggelengkan kepala. “Ckckckck. Kau ini kenapa? Apa prioritasmu cuma uang? Memangnya kau tidak berencana menikah dan akan terus bekerja sampai rambutmu beruban?”

Arlan tertawa pelan. “Tidak mudah mencari Poundsterling di negara ini jika tidak mengorbankan perasaan, Di.” jelasnya.

Aditya tersenyum. Dia mengerti, sejak remaja Arlan memang sangat ambisius. Laki-laki itu selalu bertekad untuk mencapai semua keinginannya. Pilihannya akan terus diperjuangkan meski orangtuanya tidak menyetujuinya. Keberangkatannya ke London pun sempat menjadi perdebatan panjang dan berlarut-larut antara ia dan orangtuanya. Terutama Mama. Secara perlahan Arlan memberikan pengertian bagi wanita yang sangat menyayanginya itu. Dan akhirnya, setelah sekian lama menunggu, restu Mama menyertainya.

“Lagipula aku sudah sign in di salah satu situs biro jodoh ternama di kota ini. Ya setidaknya meringankan tugasku.” ujar Arlan kemudian.

“Situs biro jodoh?!” Mata Aditya melebar menatap kakaknya, tawanya pun menyembur tak terkendali. Dia tertawa terbahak-bahak. “A-apa Mama tahu soal ini?”

“Huss! Mama tidak perlu tahu!” Arlan memperingatkan adiknya. “Jika Mama sampai tahu, aku pasti disuruhnya cepat-cepat pulang dan dijodohkan oleh salah satu putri temannya.” katanya sambil mendesah berat. “Kalau aku cocok dengan gadis pilihan Mama, itu tidak masalah. Tapi jika tidak, itu akan jadi masalah besar. Dan aku tidak mau disalahkan sebagai penyebab tidak harmonisnya hubungan Mama dengan temannya. Karena sibuk, aku tidak punya waktu untuk mencari jodoh. Satu-satunya gadis seiman yang ku kenal di negara ini ya hanya Laura, tapi…”

“Kau menyesal? Ya sudah, dekati saja dia lagi.” celetuk Aditya.

“Sembarangan! Kau pikir bisa semudah itu? Lagipula dia sudah mau menikah.”

Aditya mendecakkan lidah. “Lalu apa bedanya jika kau sudah mendapatkan gadis dari situs perjodohan itu? Apa kau juga akan melakukan hal yang sama seperti kau melakukannya pada Laura?”

“Ya, kuharap tidak. Laura sedikit banyak menuntut. Dia meminta waktu sebulan untuk berlibur bersamaku. Bayangkan saja, aku saja sudah lama tidak pulang ke Indonesia. Kalaupun aku punya waktu sebulan, aku pasti lebih memilih untuk pulang ke Indonesia ketimbang liburan dengannya.”

Aditya tersenyum mengerti. Dia memahami dengan baik sifat kakaknya yang tidak suka diatur. Oleh orangtuanya saja dia tidak suka diatur, apalagi oleh perempuan.

Mobil hijau army yang melaju kencang itu pun akhirnya berhenti di samping gedung apartemen.

“Yup, we’re home!” kata Arlan setibanya mereka di sebuah apartemen yang tidak jauh dari bandara. Mobil hijau army-nya diparkir rapi di samping gedung apartemen. Hanya butuh waktu kurang lebih setengah jam untuk mencapai Southwick Street, London.

Dari luar, gedung bertingkat itu berdinding bata merah. Desainnya pun sederhana, tidak rumit seperti gedung-gedung bergaya Eropa lainnya. Beberapa gedung di sekitarnya tampak serupa. Berdinding bata merah dan hanya terdiri dari tiga sampai empat lantai saja. Beberapa pohon tampak hijau menghiasi jalan di sekeliling apartemen. Lokasinya pun berdekatan dengan Kensington Garden, Hyde Park, Notting Hill gate dan Marble Arch.

Aditya turun dari mobil. Dia menguap, melemaskan sendi-sendi yang kaku lalu menutup pintu mobil. Ia bertolak pinggang, menyapu pandangan di sekitar seraya menghela napas panjang. Matanya menyipit sedikit karena silau dan mengangkat sebelah tangan untuk menaungi mata. Memperhatikan apartemen yang berlokasi di Southwick Street, London. “Tempat ini kelihatan beda.” tuturnya. “Kau pindah apartemen?”

“Tidak.” Arlan menggeleng. “Tempat ini kelihatan berbeda karena setahun yang lalu kau datang di musim dingin. Orang gila mana yang datang berkunjung di musim dingin?” Arlan tertawa meledek. “London sudah lama tidak turun salju. Tapi saat kedatanganmu tahun lalu, salju seperti ingin merendam kota ini. Berbeda dengan hari ini. Semuanya kelihatan hijau. Tadinya kupikir kau akan berlibur ke Athena. Jadi aku belum sempat menyiapkan semua yang kau butuhkan selagi menginap di sini.”

“Awalnya aku memang berencana berlibur ke sana. Tapi sayangnya Riza memutuskan mengambil master di sini, dan aku sedang tidak ingin berlibur sendiri. Kau masih ingat dengannya? Teman SMA-ku dulu yang punya hidung bangir.” tanya Aditya sambil tertawa pelan.

Arlan tampak ragu sejenak, berpikir, lalu mengangguk. “Oh maksudmu Riza? Pemuda keturunan Turki itu?”

Aditya mengangguk.

“Kapan dia mau datang ke sini?”

“Aku rasa, minggu depan dia baru tiba di sini…”

Sambil menyeret koper, Arlan mengajak Aditya memasuki gedung apartemen yang sangat terawat dengan baik itu. Apartemen yang tetap nampak gagah itu terdiri atas tiga lantai saja. Jarak antara satu gedung dengan gedung lainnya pun tidak begitu lebar. Berada di kawasan yang sangat strategis di pusat kota London. Hanya perlu waktu lima menit berjalan kaki untuk sampai Hyde Park. Dan tak jauh dari sana adalah stasiun Paddington.

Advertisements

Published by

Zakia Khairunnisa

Kia, just an ordinary girl by the imperfections. A girl who loves sweet and romantic things as in the fragrance of the land that exposed to rain, the magnificent form of eternal love Shah Jahan for his wife, the Taj Mahal monument in Agra, white roses and delicious Ferrero Rocher chocolates. A girl who has an outstanding love of Indian colourful music. Admiring Shreya Ghoshal, the marvelous playback singer who has voice of heaven.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s