When The Pain Cuts You Deep (2)

Hari sudah sore ketika Amira keluar dari Purple House. Dia sudah berganti busana kasual, mengenakan tank top putih polos dengan penambahan blazer oranye di bawah siku dan skinny jeans biru cerah yang dipadukan dengan flat shoes yang nyaman.

955b39fa21ae691d2bc42b6857ccc8a4Dia berjalan menghampiri Roma, retro scooter yang selalu diparkir di samping butik. Di dekat butiknya memang tidak terdapat basement untuk parkiran mobil ataupun motor. Di sana hanya terdapat fasilitas parkir yang sudah diatur sedemikian rapi di tiap-tiap depan gedung khusus kendaraan beroda empat. Lagipula tidak biasa dia mengendarai mobil kemana-mana. Dia lebih suka retro scooter kesayangannya yang berwarna Mocca itu.

Tak perlu menunggu lama, Roma sudah melaju meninggalkan kawasan New Cavendish St. Jalanan tidak terlalu ramai. Lenggang. Semburat mega kemerahan mulai menghiasi langit. Lampu-lampu di sekitar jalan pun sudah dinyalakan. Amira menikmati suasana di sekitar jalan yang semakin menampakkan keremajaannya. Sungguh membuat iri. Manusia bertambah tua, sementara kota ini semakin muda saja. Angin musim semi membelai lembut permukaan kulit wajahnya. Dia mengemudikan Roma dengan kecepatan wajar karena perjalanan menuju Ladbroke Grove hanya memakan waktu kurang dari dua puluh menit. Setelah melewati Marylebone Road, retro scooter manis itu terus melintas di atas jembatan layang Marylebone menuju Harrow Road.

Di perempatan Harrow Road, Amira menghentikan retro scooter-nya begitu lampu merah menyala. Beberapa orang berdiri tak beraturan, menunggu giliran untuk menyebrang, mulai melintas satu per satu menyeberangi zebra cross di depannya tanpa tergesa-gesa. Sepasang matanya sesekali mengamati lampu merah yang sesaat kemudian akan berubah menjadi hijau. Namun dalam penantiannya itu, tampak seorang pemuda bertopi biru tua melintas di depannya. Seorang pemuda berkulit sawo matang dengan earphone di telinga. Kepalanya terangguk-angguk menikmati beat lagu yang mengentak. Pemuda itu berperawakan tinggi, berhidung mancung, dan beberapa tahun kelihatan lebih muda dari usianya. Secara fisik, pemuda itu sama sekali tidak terlihat seperti orang Eropa. Perawakannya tinggi kurus dengan wajah berseri.

Kening Amira berkerut dalam, tanpa berkedip, mengamati sosok laki-laki yang terasa tidak asing itu. Kepalanya bergerak pelan mengikuti arah jalan pemuda itu. Debar jantungnya pelan berirama, diselimuti rasa hangat dan nyaman setelah sekian lama dingin membeku. Pemuda itu menoleh. Waktu seolah berjalan demikian lambat. Dunia pun seakan berhenti berputar. Saat itulah Amira melihat wajah pemuda itu dengan jelas dan darahnya mendadak membeku.

Untuk beberapa detik yang mendebarkan, Amira dan pemuda itu bersitatap. Hanya bertatapan. Sinar mata dalam dan lembut itu masih membekas dalam ingatannya. Pandangan keduanya tak lepas satu sama lain. Pemuda itu menundukkan kepalanya sekilas dan tersenyum. Amira dapat merasakan senyum itu memang ditujukan padanya.

I…Isa?

Amira terdiam mematung. Matanya terbelalak menatap pemuda itu. Kedua tangannya yang berpegangan pada kemudi Roma mulai dingin dan gemetar. Air mata tampak membayang di pelupuk. Dia tidak bisa merasakan suasana di sekitarnya. Darah yang mengalir di tubuhnya pun serasa berhenti. Tidak dapat mendengar suara klakson kendaraan di belakangnya yang memintanya untuk bergerak jalan. Beberapa kendaraan di belakangnya mendahuluinya karena terlalu lama menunggu. Pandangannya membuyar sesaat dan kepalanya serasa berputar-putar. Wajahnya berubah pucat sementara tangannya tanpa sadar melajukan Roma, menerobos perempatan dimana lampu merah sudah kembali menyala.

Dengan tangan yang masih gemetar, Amira melajukan Roma. Semakin lama pandangannya semakin kabur, dadanya semakin berat dan napasnya pun sesak. Roma terus melaju menerobos perempatan tanpa menghiraukan kendaraan yang berlalu lalang di sisi kanan kirinya. Sebuah double decker[1] melaju dari sisi kanannya. Amira terkesiap dan sekujur tubuhnya langsung menegang begitu mendengar bunyi klakson nyaring dari sisi kanannya. Dia menoleh dan refleks membanting stir sedapatnya. Beruntung, dia berhasil selamat dari tabrakan bus merah itu, namun malang, dia tidak berhasil menghindari tabrakan dari sisi kirinya.

Buk!

Sebuah mobil BMW berwarna Silver tiba-tiba melintas dan cukup keras menghantam Roma sampai terseret di atas aspal. Sementara tubuh Amira terpelanting ke kaca mobil bagian depan yang menabraknya lalu terhempas kembali menghujam aspal. Seketika Amira kehilangan kesadaran. Tubuhnya terkulai lemas di jalan. Dia berusaha bangkit, namun syaraf-syaraf di tubuhnya menolak. Sontak peristiwa itu menjadi sorotan orang-orang sekitar yang melihat langsung kejadiannya. Mereka tercengang. Tampak beberapa orang berhamburan keluar dari mobil mereka, terutama si pemilik mobil BMW Silver yang menjambak rambutnya frustasi usai menabrak Amira. Pria itu langsung dimintai keterangan oleh polisi setempat. Selagi pria itu menjelaskan kejadian yang sebenarnya, pria berseragam polisi yang lain langsung memagari lokasi dan melarang keras beberapa orang yang berdesakan ingin menyaksikan kejadian itu dari dekat.

“Please move back! Move back! You cannot go through!” seru salah seorang petugas polisi. Suara sirine ambulans pun tak lama terdengar. Beberapa pria yang sempat mengecek denyut nadi Amira, mundur teratur begitu pria berseragam medis datang. Seorang pria berseragam medis membuka perlahan helem yang dikenakan Amira. Darah segar tampak mengucur dari kepala gadis itu. Lalu laki-laki berseragam medis itu pun menempelkan kedua jarinya pada leher Amira untuk memastikan keadaannya. Tak ada denyut nadi. Salah seorang petugas medis lainnya mengeluarkan alat pacu jantung dari dalam mobil ambulans dan segera memasangkannya di dada Amira.

“Okay. Clear. Shock!” dengan sekali sentak, tubuh Amira terlompat bereaksi, namun masih belum cukup mengembalikan kesadarannya. Usai menambah daya kejut, pria berseragam medis itu kembali menempelkan alat pacu jantung ke dada Amira.

“Go again. Clear. Shock!”

“Again. Clear. Shock!” seru petugas medis yang tidak mudah menyerah, terus mencoba sampai mendapatkan kembali kesadaran Amira. Mereka terus mencoba sampai yang ketiga kali. Amira saat itu tidak mampu menggerak-gerakkan syaraf-syaraf di tubuhnya. Dia hanya bisa mendengar hiruk pikuk orang-orang di sekitarnya samar-samar.

“Tuuut…” suara denyut nadi Amira terdeteksi. Tubuh Amira melengking ke atas berupaya menarik napas dengan berat seolah sesuatu yang menyumbat paru-parunya berhasil dicabut. Sekujur tubuhnya mengerang kesakitan akibat terpelanting dari kaca mobil lalu menghujam aspal. Kepalanya berputar. Suasana yang sempat menegangkan beberapa saat itu pun akhirnya mencair.

“Okay! We got her!”

Amira berusaha bangkit menegakkan dirinya yang masih terkulai lemah, namun gerakan tiba-tiba itu membuat kepalanya jadi pusing. Pandangannya masih kabur. Dia tidak dapat melihat apapun dengan jelas melainkan putih. Semuanya tampak putih. Semakin dia memaksakan diri untuk melihat, semakin kabur pandangannya. Matanya mencari pemuda yang baru ditemuinya tadi, namun sayang, pemuda itu sudah tidak ada di sana. Dia menghilang begitu saja seperti terhempas angin.

Amira segera diangkat dan dibawa masuk ke dalam mobil ambulans. Dia segera dilarikan ke rumah sakit terdekat. Suara sirine ambulans pun meraung-raung di telinga.

[1]Bus tingkat khas London

Advertisements

Published by

Zakia Khairunnisa

Kia, just an ordinary girl by the imperfections. A girl who loves sweet and romantic things as in the fragrance of the land that exposed to rain, the magnificent form of eternal love Shah Jahan for his wife, the Taj Mahal monument in Agra, white roses and delicious Ferrero Rocher chocolates. A girl who has an outstanding love of Indian colourful music. Admiring Shreya Ghoshal, the marvelous playback singer who has voice of heaven.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s