When The Pain Cuts You Deep

c3040bcb6f2749a9afdc01dd49be1a58Purple House. Muka Purple House dilapisi oleh dinding kaca yang dikokohkan oleh tembok bercat putih. Amira Shiba berjalan pelan mengamati deretan busana di ruang display butiknya. Sesekali suara ketukan high heels-nya yang beradu dengan lantai terdengar. Mengisi kesunyian yang menjemukan. Dia mengamati satu persatu beragam busana penuh warna yang tergantung rapi di sana. Mulai dari kualitas bahan, warna, pola jahit sampai label harga. Memastikan bahwa semua pakaian yang terpajang di sana sesuai dengan standarnya. Tidak kotor ataupun rusak.

Ruangan itu cukup luas dengan interiornya yang bertema minimalis dan elegan. Didominasi oleh warna ungu dan putih. Mulai dari karpet tebal warna ungu yang terhampar di ruang display hingga sofa panjang modern warna putih. Sepasang lampu kristal menggantung di langit-langit. Terdapat beragam aksesoris cantik di dalam meja kaca dengan kaki warna putih di tengah-tengah ruang display. Serta dua ruang baju ganti yang bersebelahan dengan lemari buku.

2a856252eb879f4732605e071a327b5f

Deru mesin mobil Smart merah yang berhenti tepat di depan butik memecah keheningan. Amira menoleh. Melihat seseorang yang tak asing lagi, keluar dari mobil merah itu sembari menimang beberapa busana yang menjadi display item untuk minggu depan. Dan tak lama pintu kedap suara itu terbuka.

Dengan cepat Amira meletakkan buku saku kecil dan pena yang dipegangnya ke atas meja lalu menghampiri Anna dengan sinar mata penuh binar. “Katakan padaku kalau itu adalah koleksi terbaru untuk minggu depan?”

Annaya, gadis berkacamata itu tampak kesusahan membawa koleksi display item yang lumayan berat di tangannya. Ia dengan hati-hati meletakkan baju-baju yang ditentengnya di atas sofa. Setelah memastikan semuanya terbawa dan tidak kusut, dia mendesah lega seraya meletakkan kedua tangan di pinggang. “Yes, my dear. Ini koleksi terbaru untuk minggu depan. Lihat, ini bukan saja bagus, tapi magnificant! Bagaimana menurutmu?”

Amira dibuat tertegun melihat koleksi terbaru yang dibawa temannya itu. Terutama gaun mermaid hitam nude dari renda dan satin rancangan designer ternama asal Turki. “Oh ya gaun hitam itu pesanan Maria.” jelas Anna ketika melihat Amira terpukau akan pesona gaun hitam cantik dan menakjubkan itu. “Dia pasti akan sangat cantik mengenakannya. Ini seksi sekali! Backless!” sambungnya menyiku lengan Amira sambil mengedipkan sebelah mata dengan genit. She’s so desperately wanted this backless mermaid dress untuk acara di sekolah tarinya nanti. Dan sepatu ini…Oh my baby,” Anna mengeluarkan sepasang sepatu dari dalam kotak. Dia mendesah penuh kagum lalu menempelkannya ke pipi seolah tidak bisa mengendalikan diri untuk memuji. “Cantik bukan?”

Amira mengangguk-angguk sampai tidak bisa berkata-kata melihat barang-barang yang kebanyakan membuat para wanita lupa diri itu. Sepatu high heels merek Jimmy Choo setinggi lima belas sentimeter super seksi berwarna hitam elegan yang membuat kaki si pemakai kelihatan anggun. Sudah jauh-jauh hari Maria memesan gaun hitam seksi itu di Purple House. Terakhir kali gadis bertubuh sintal itu ke sana, gaunnya sudah terjual. Hanya tersedia warna putihnya saja. Karena tidak ingin mengecewakan salah satu pelanggan sekaligus teman baiknya itu, Amira menjanjikan akan memberikan potongan harga jika Maria bersedia menunggu pesanan gaun yang diinginkannya.

“Ami, hari ini kau jadi ke rumah uncle Jimmy kan?” tanya Anna tiba-tiba, masih menatap penuh binar koleksi terbaru butiknya.

Amira membuka lemari es kecil yang terletak tak jauh dari ruang display. Mengambil dua kaleng jus orange dari dalam lalu berjalan menghampiri Anna. “Memangnya ada apa?” tanyanya usai membuka kaleng jus itu dan menyodorkan salah satunya pada Anna.

Anna menoleh ke arah Amira dengan pandangan bertanya. “Lho? Bukannya hari ini hari anniversary mereka yang ke-22?”

“Anniversary?” gumam Amira bingung sesaat, lalu, “tanggal berapa sekarang?”

“10 April.” sahut Anna pendek. Gadis berkacamata itu melirik Amira sekilas lalu mendesah. “Astaga, sudah kuduga kau pasti lupa.”

Teringat itu, Amira termenung. “10 April?” ulangnya tidak percaya. “Sudah selama itukah?” Tanpa sadar dia telah menyuarakan pikirannya. Hatinya seketika menjadi hangat tetapi juga perih. Pikirannya terseret ke masa lalu. Kenangan tentang Isa muncul kembali ke permukaan. Membuat tenaganya seolah menguap bagai genangan air di siang terik. Berangsur menuju habis.

“Kenapa?”

Amira mengerjap. Menoleh menatap Anna dan menggeleng lemah. Lututnya mendadak lemas dan dia butuh duduk. Tertatih, dia menghampiri sofa di dekatnya. Menarik napas dalam-dalam seperti kehilangan tenaga. Bertahun-tahun Amira larut dalam kenangan. Gadis itu mencoba mengerti, bahwa kehilangan Isa, bukan berarti kehilangan segalanya. Tetapi juga tak bisa disebut hanya kehilangan biasa.

Anna mulai khawatir dengan reaksi itu. Kabut sedih tampak tebal menyelimuti wajah Amira. Dia mendapati Amira mulai menggenggam kalung emerald yang senantiasa dikenakannya. Seolah kalung itu memberinya kemudahan untuk bernapas.

Anna duduk di sofa yang sama, di samping Amira. “Kau-baik-baik saja?” tanyanya lembut sambil menyentuh bahu Amira, ada nada khawatir dalam suaranya, “Kalau kau tidak enak badan, biar aku saja yang menggantikanmu, tidak enak kalau sampai kita berdua tidak hadir.”

Amira terdiam. Dia menoleh pelan lalu menghembuskan napas sejenak. “Tidak, aku baik-baik saja.” lirihnya tersenyum setengah hati.

Anna memandangnya, masih dengan tatapan khawatir. “Sungguh?”

Amira tersenyum sedu. Dia mengangguk, menegaskan sembari menggenggam tangan Anna yang masih menempel di bahunya.

Anna terdiam. Beberapa detik dia mengamati wajah Amira sekali lagi. Kali ini lebih dalam. Lalu dia menghembuskan napas pelan dan tersenyum lega. “Baiklah. Kalau kau yakin, aku percaya. Sampaikan salamku pada mereka ya.” Anna mengangkat gaun yang terbaring di sofa, menatapnya lalu mendesah berlebihan dan berkata, “Aku harus menunggu Maria sepulang kerja. Dia sudah tidak sabar ingin mengambil gaun ini. Dia rela menunggu sampai dua minggu untuk mendapatkan gaun ini, tapi sekarang diminta menunggu sehari saja, dia tidak mau.”

Anna masih saja mengoceh soal gaun dan sepatu cantik itu. Selain dia menyukai desainnya yang menawan, dia juga mendapatkannya setengah harga karena perancangnya adalah Mr. Murad, kenalan ayahnya Amira. Sementara Amira yang duduk di sampingnya lebih banyak diam dan mendengarkan. Sesekali dia merespon sambil tersenyum meski terkesan dipaksakan.

Advertisements

Published by

Zakia Khairunnisa

Kia, just an ordinary girl by the imperfections. A girl who loves sweet and romantic things as in the fragrance of the land that exposed to rain, the magnificent form of eternal love Shah Jahan for his wife, the Taj Mahal monument in Agra, white roses and delicious Ferrero Rocher chocolates. A girl who has an outstanding love of Indian colourful music. Admiring Shreya Ghoshal, the marvelous playback singer who has voice of heaven.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s