Him

AMIRA duduk termenung. Pikirannya kacau dan perasaannya sedih. Matanya menerawang jauh, menatap kosong pada sebuah jendela berkaca besar dengan pelipis kepala bagian kanan diplester dan lengan kiri menggantung kaku di dada. Gadis itu menyadari dengan sangat bahwa setiap bagian dirinya masih merindukan Isa hingga hari ini. Dia sangat merindukannya sampai tubuhnya terasa sakit.

Anna memandangi Amira dan menghembuskan napas dengan berat. “Kenapa kau selalu merenung seorang diri seperti itu?” ucapnya membuyarkan lamunan Amira. Gadis berkacamata itu sibuk mengemas baju-baju Amira setelah menginap empat hari di rumah sakit. “Kenapa kau tidak cederai saja kedua lenganmu??” sambungnya sinis. “Oh God! What happened to you, really?” dan kini terdengar frustasi. “Kenapa kau tidak melanjutkan hidupmu seperti orang normal lainnya?”

e162cacbfa05b46ed54dd4704adbf7adAmira melirik Anna dari balik bahunya tanpa benar-benar melihat. Teman satu apartemennya itu sibuk melipat pakaian kemudian memasukkannya ke dalam tas Puma hijau berukuran besar. Sudah empat hari Amira terbaring di rumah sakit semenjak kecelakaan lalu lintas itu. Kini keadaannya sudah membaik dan sudah diperbolehkan pulang atas izin dokter. Dapat Amira rasakan nada bicara Anna yang penuh emosi sekaligus khawatir, namun dia tidak punya tenaga untuk beradu argumen dengan Anna. Amira duduk di sana, sekali lagi menatap kosong pemandangan di luar rumah sakit tanpa berkomentar.

“Ya Tuhan!” Anna mengerang gemas. Gemas dengan sikap Amira yang bergeming bagai mayat hidup. Tubuhnya memang ada di sana, namun pikirannya entah berada dimana. Anna menghela napas panjang, meredakan emosi sebelum akhirnya ia mengambil tempat di samping Amira. “Baiklah, ceritakan padaku ada apa?”

Amira menoleh pelan ke arah Anna. Sudah beberapa hari ini, gadis itu tidak banyak bicara. Dia menjadi lebih diam dari sebelumnya. Ada guratan lelah di wajah Anna, mencoba memahami kegusaran yang dirasakan temannya ketika dia memandangnya.

Seulas senyum muram tersungging di bibir Amira dan ia berkata, “10 April. 10 April adalah hari ulang tahunnya. Jika Isa masih hidup, dia akan berulangtahun yang ke-34. Sebelum aku kecelakaan, aku sempat membayangkan bagaimana rupanya jika dia sudah dewasa. Dan kulihat dia di sana, begitu nyata.” Amira tertawa getir dan tanpa sadar menjatuhkan butiran air mata hangat dari pelupuk matanya. “Apa kau pernah merasa sakit sampai hatimu terasa berlubang? Sangat perih sampai kau bahkan sulit untuk bernapas… sangat hampa sampai kau merasa kakimu tidak lagi menyentuh tanah. Dadaku sangat sakit setiap kali mengingatnya. Aku ingin dia kembali. Tapi seberapa keras pun aku berharap, dia tidak akan kembali. Aku ingin melanjutkan hidupku sama sepertimu. Aku ingin bernapas tanpa harus merasa sakit.” ucapnya dengan nada memohon.

Anna terpekur dalam diam mendengarnya, melihat butiran air mata yang menetes perlahan dari sudut mata itu. Bibir Amira kering, terkelupas. Wajahnya sembab dan matanya cekung. Sungguh, gadis itu butuh bantuan.

“Ami, kau tahu apa yang terlintas dalam benakku saat pertama kali melihatmu? Aku tidak pernah melihat gadis menyedihkan sepertimu sebelumnya. Saat itu aku berpikir, apa yang sudah dunia perbuat padamu? Lalu aku melihatmu berdiri di atap kampus, menatap ke bawah tanpa merasa takut sedikitpun. Kau mengabaikan teriakanku saat aku memanggilmu. Dan dengan mata terbuka, kau mau menjatuhkan diri ke bawah. Kalau aku tidak segera menarik tanganmu, kau─” Anna menghentikan kata-katanya. Dia tidak sanggup melanjutkan. “Apa yang sudah kau lakukan itu tidak benar. Tidak benar.” katanya seraya menggeleng kecewa.

Anna melingkarkan kedua lengannya, mendekap Amira dari samping juga menyandarkan kepalanya. Tangannya mengusap-usap lengan Amira lembut, menguatkan. “Apa kau pikir Isa di sana akan bahagia melihatmu seperti ini?” tanyanya pada Amira. “Tidak,” Anna menggeleng. “Dia tidak akan bahagia. Yang perlu kau lakukan adalah menghapus kesedihannya di sana dengan menghapus air matamu di sini.” Dia tersenyum tegar menghibur hati temannya. “Kau sungguh tidak adil,”

Amira mengangkat wajahnya pelan ketika mendengar nada kecewa keluar dari mulut Anna. “Tidak adil?”

Anna melepaskan dekapannya lalu menghela napas panjang. “Ya, kau tidak adil. Kau selalu mengingat orang yang sudah tidak ada tetapi melupakan orang yang masih ada.” jawabnya dengan kerut muka sedikit kecewa. “Lalu bagaimana denganku? Apa kau tidak bahagia bersamaku?”

Amira tersenyum sendu. “Kau yang terbaik, Anna. Kau tahu itu.”

Anna melirik wajah Amira sekilas lalu berdiri di depan Amira beberapa saat. Dia membungkukkan badan sedikit, memandangi wajah temannya dalam-dalam kemudian berkata, “Tersenyumlah. Jangan memasang wajah sedih lagi di depanku. Aku benar-benar tidak tahan melihatnya.” ucapnya. “Kalau kau mau, kau bisa membuat pria manapun jatuh cinta padamu. Aku serius.”

Amira tersenyum hambar seraya mengusap sisa-sisa air matanya dengan punggung tangan. Dia menggeleng mendengar ucapan itu lalu meraih tas Puma di dekatnya. “Kau mulai lagi.” katanya datar lalu bangkit dari duduk kemudian berjalan pelan, meninggalkan ruang perawatan.

Anna mendengus tak percaya. “Memangnya kenapa? Apa salah jika aku selalu berusaha mencarikan pria yang tepat untukmu?” tanyanya sembari mengikuti langkah Amira di belakang. “Dengar, usia kita sudah kepala tiga. Wanita seusia kita seharusnya sudah punya dua anak.” lanjutnya mengingatkan. Gadis berkacamata itu sadar bahwa kebersamaannya dengan Amira tidak akan lama lagi. Suatu hari jika waktunya tiba, dia akan pergi. Menikah dengan pria pilihan ibunya. Harapannya hanya satu, sebelum dia pergi, Amira sudah memiliki pendamping. Meninggalkan Amira sendiri dan kesepian, sungguh, itu bukan hal bijak baginya.

“Kau terdengar seperti ibuku.” ucap Amira pada Anna. Gadis itu tetap berjalan tanpa memperlambat langkahnya meskipun Anna sedang mengajaknya bicara.

“Ya, ya, ya, masalahmu selalu saja sama.” gerutu Anna membuat langkah Amira terhenti.

Amira lantas berbalik menatap Anna kesal kemudian berkata, “Lalu bagaimana denganmu? Kau sendiri sampai saat ini belum menikah?”

Anna mengernyit, heran. Membalas pertanyaan Amira dengan nada sama tingginya, “Hey, jika aku menikah, lalu bagaimana denganmu? Apa kau bisa mengurus dirimu sendiri?!” katanya sembari berkacak pinggang. “Lihat dirimu di cermin. Banyak bekas luka dimana-mana! Kau selalu saja melamun dan memikirkan orang yang sudah tidak ada. Kegilaan ini harus dihentikan, Ami! Apa kau lupa dengan siapa ibumu menitipkanmu?” pertanyaan yang baru saja dilontarkan Anna membuat Amira tercengang. Amira membuka mulut hendak membantah, tetapi kemudian mengurungkan niat.

Hening.

Meskipun Anna sedikit cerewet dan selalu mengkhawatirkan Amira, namun dialah yang terbaik. Dia melakukan semua yang terbaik, bahkan melebihi kedudukannya sebagai seorang sahabat. Amira menatap Anna yang enggan balas menatapnya. Gadis itu kelihatan kesal, atau mungkin kecewa lebih tepatnya. Perlahan Amira berjalan mendekatinya lalu berucap dengan menyesal, “Maaf, aku- merepotkanmu.”

Anna menatap Amira pada akhirnya, meski ia masih agak kesal, tetapi pada akhirnya ia tersenyum.

“Kau tidak merepotkan, Ami. Kau hanya berhenti mencintai dirimu sendiri. Itu saja.”

Advertisements

Published by

Zakia Khairunnisa

Kia, just an ordinary girl by the imperfections. A girl who loves sweet and romantic things as in the fragrance of the land that exposed to rain, the magnificent form of eternal love Shah Jahan for his wife, the Taj Mahal monument in Agra, white roses and delicious Ferrero Rocher chocolates. A girl who has an outstanding love of Indian colourful music. Admiring Shreya Ghoshal, the marvelous playback singer who has voice of heaven.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s