When The Pain Cuts You Deep (3)

Mata Anna melebar kaget seolah ingin meloncat keluar. Jantungnya serasa ingin meledak sampai terasa sesak napas. She got crashed into a car. Kata-kata itu terus berdengung di telinganya. Dia menjatuhkan air mata ketika mendengar suara wanita di ponselnya yang terdengar meyakinkan.

Dengan langkah sedikit cepat, Anna menyusuri koridor panjang rumah sakit. Menyusuri kamar-kamar yang berjajar di kanan kiri koridor. Kepalanya berputar. Dia tidak pernah suka tempat itu. Dingin dan pucat. Baginya rumah sakit selalu membawa kesan negatif. Dia menabrak bahu orang yang berjalan berlawanan arah dengannya. Melempar pandangan ke sana kemari mencari ruangan tempat Amira dirawat. Resepsionis di lobi sudah memberitahukan dimana letak ruangannya, namun karena dia terlalu panik, ini menjadi tidak mudah. Kejadian tiga tahun yang lalu berulang. Keringat dingin mengucur deras. Anna tidak kuat lagi menerima kejutan-kejutan seperti ini. Darahnya seperti terpompa begitu cepat tanpa membiarkannya bernapas. Dimana? Dimana ruangannya? Sebelah tangannya menjambak rambutnya frustasi. Menggigit bibir cemas, kepalanya berputar ke sana kemari seperti orang linglung. Dan langkahnya pun terhenti. Menatap ruangan yang penuh dengan pencahayaan terang, ia menemukan sahabatnya sedang terbaring di dalamnya.

41da2309c39efec1ff5bbe12a17f3b19

Anna mengintip dari kaca kecil di pintu. Kakinya melangkah masuk ke dalam meski terasa berat. Jantungnya berdenyut pilu. Dia berharap agar Amira benar-benar tidak apa-apa seperti yang dikatakan wanita di telepon tadi. Seorang perawat berseragam biru yang sedang berdiri di dekat Amira berbaring, menoleh ke arahnya. Anna berdiri di samping Amira berbaring. Matanya menatap sosok yang terbaring tak berdaya di ranjang. Perawat menjelaskan bahwa keadaan Amira baik-baik saja. Semua organ tubuhnya masih berfungsi dengan baik. Hanya terdapat luka-luka memar di beberapa bagian tubuhnya. Perawat juga menjelaskan Amira beruntung mengenakan helem dalam kondisi baik sehingga kepalanya tidak terluka parah.

Usai memberikan penjelasan cukup detail, perawat akhirnya keluar dari ruangan dingin yang menusuk itu. Anna menghembuskan napas dengan lega. Kepanikan yang sempat menyerang pikirannya perlahan mereda. Gadis berkacamata itu berdiam diri di tepi ranjang seraya mengamati sosok Amira yang terbaring dengan mata terpejam. Kepala Amira terbalut perban dengan lengan kirinya dibebat rapat karena mengalami cedera. Kelihatannya Amira baik-baik saja. Napasnya teratur dan tidak ada luka yang mengerikan diwajahnya. Dadanya turun naik dengan teratur seiring dengan napasnya. Kelihatannya tenang dan damai.

“Sekali lagi kau seperti ini, aku bisa terkena serangan jantung.” lirih Anna pada Amira yang sedang tertidur. “Apa yang kau pikirkan?” Anna mengusap wajahnya yang tampak kacau. “Apa yang harus aku katakan pada orangtuamu nanti? Ya Tuhan…”

Advertisements

Published by

Zakia Khairunnisa

Kia, just an ordinary girl by the imperfections. A girl who loves sweet and romantic things as in the fragrance of the land that exposed to rain, the magnificent form of eternal love Shah Jahan for his wife, the Taj Mahal monument in Agra, white roses and delicious Ferrero Rocher chocolates. A girl who has an outstanding love of Indian colourful music. Admiring Shreya Ghoshal, the marvelous playback singer who has voice of heaven.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s