Out of The Blue (3)

AMIRA duduk termangu di depan meja riasnya. Memandangi wajahnya dalam-dalam di depan cermin. Dia sudah mandi dan rapi. Wajahnya tampak didandani sederhana, hanya memakai lip gloss dan bedak tipis. Mahkotanya dibiarkan terurai panjang menutupi bahunya. Kalung emerald yang masih dengan setia menggantung di lehernya, dipandanginya dalam-dalam.

Jika aku besar nanti dan berpisah darimu, akan lebih mudah buatku mengenalimu dari kalung ini.

Kata-kata Isa berkelebat dalam benak Amira. Ia mencoba mengatur napas dan menghentikan air mata yang perlahan menggenang dan memaksa keluar dari sudut-sudut matanya. Ia menatap kalung itu muram lalu memutuskan menanggalkannya.

Sepanjang perjalanan, Amira tak dapat mengelak dari pikirannya yang menerka-nerka seperti apa pria yang dijodohkan Anna untuknya. Foto profil pria itu sama sekali tidak membantu, sebuah foto yang diambil di pelataran City Hall. Berdiri memunggungi kamera menghadap sungai Thames. Anna berkata bahwa pria itu mengenakan Polo shirt hitam dan celana denim biru.

06283320d4b0c167081698071f8c2749Sambil menunggu kedatangan pria itu, Amira duduk di bangku taman Hyde sembari membaca buku. Keheningan yang hanya ditemani oleh kicauan burung, suara gemericik air, pepohonan yang berderet di sepanjang jalan setapak serta hembusan angin yang mengibaskan rambut panjangnya, memberikan kesan damai dalam hatinya.

Menit demi menit berlalu. Amira semakin larut dalam bacaannya. Tak terasa sudah hampir setengah jam ia duduk menunggu, namun laki-laki itu belum juga menampakan batang hidungnya. Amira melirik jam di tangannya dan agak kecewa. Seharusnya laki-laki itu tiba lebih awal darinya, tidak membuatnya menunggu seperti ini. Rasa kecewa itu perlahan membukit menjadi amarah.

Amira mulai gusar. Kembali melirik kesal jam di tangannya. Cukup. Dia tidak ingin menunggu lagi. Gadis itu segera bangkit dari duduknya sambil mengutuk dirinya sendiri ketika melangkah pergi meninggalkan bangku taman. Dia memasukkan buku yang barusan dibacanya ke dalam tas tanpa memperhatikan jalan lalu menabrak Aditya yang berjalan mundur terburu-buru ke arahnya. Dikarenakan tabrakan itu cukup keras, gadis itu kehilangan keseimbangan dan hampir saja terjatuh. Beruntungnya dia tidak jadi jatuh, namun sialnya hak sandal yang dikenakannya patah.

Amira langsung melotot dan memekap wajah. “Aa! My Jimmy Choo!”

“S-sorry, sorry. I’m really sorry.” ujar Aditya sembari menundukkan kepala satu dua kali, tanpa benar-benar memandang wajah seseorang di hadapannya. Setelah meminta maaf, dengan percaya diri, Aditya melenggang pergi tanpa dosa.

Amira membeku. Ia dapat merasakan jantungnya berdenyut menunjukan tanda-tanda kehidupan. Sesuatu bagai sengatan listrik mengalir dalam tubuhnya. Gadis itu memutar tubuh pelan. Mengamati sosok pemuda yang membelakanginya. Bumi seolah sunyi, diam tak berputar pada porosnya. Angin berhenti berdesir sehingga ia dapat mendengar dan merasakan degup jantungnya sendiri. Gadis itu seperti terhipnotis dan tanpa sadar kakinya melangkah mendekati pemuda itu.

Aditya terdiam mematung. Matanya mengerjap-ngerjap, membaca makna. Berdesir hangat jantung hatinya. Sementara bagian dirinya yang lain merasakan firasat yang rumit. Ia berbalik dan mendapati gadis itu sudah berdiri tepat di hadapannya.

Mata keduanya pun bertemu. Dalam sekejap, suasana hati Amira yang panas dan ingin menceramahi Aditya mendadak beku. Mata gadis itu bergerak-gerak kecil, meneliti wajah laki-laki di hadapannya lekat-lekat. Emosi hangat menjalari dadanya. Seperti menemukan kembali sesuatu yang pernah hilang dari kehidupannya. Suatu perasaan yang hidup diiringi udara segar mengisi rongga paru-parunya. Angin yang berhembus pun terasa harum. Langit biru tampak lebih cerah dari biasanya. Burung-burung berkicau seolah memberi salam atas pertemuan mereka.

Aditya terpaku. Seorang gadis cantik dengan rambut hitam merelap bagai mutiara membuatnya tertegun. Kulitnya putih berseri bagai marmer Taj Mahal. Parasnya sungguh cantik bagai bidadari. Dipandanginya wajah gadis itu lekat. Melihat refleksi dirinya pada bola mata gadis itu walau samar berkaca-kaca. Detak jantungnya pelan berirama. Sepasang mata indah seolah menyihirnya dan tak kuasa mengalihkan pandangan dari gadis itu, meski ia berusaha keras.

Pemuda ini. Pemuda yang sama yang pernah Amira temui di penyeberangan jalan beberapa hari yang lalu. Pemuda yang sempat membuat darahnya membeku. Pemuda yang membuat dunianya seakan berputar lambat atau bahkan berhenti. Amira tersadar bahwa pertemuannya dengan pemuda yang sempat ia panggil Isa ini benar-benar nyata. Berdiri di hadapannya.

“Who… are you?” Amira mendapati dirinya bersuara.

Sorot mata gadis itu membuat Aditya bertanya-tanya. Entah bagaimana, gadis itu menjelma menjadi sosok yang tampak tidak asing baginya. Kenapa ia merasa pernah menatap mata itu sebelumnya?

“Hello,” Amira menggerak-gerakkan tangannya pelan di depan wajah Aditya.

Aditya mengerjap kaget seolah ruhnya baru kembali masuk ke dalam tubuh. Dia tergagap dan kesulitan menjawab. Suaranya mendadak tertelan di tenggorokan bersama dengan hatinya yang luruh dalam kekaguman. Kepala gadis itu tertunduk. Aditya mendengar gadis itu menghela napas berat sembari mengusap sisi kepalanya lalu bergumam sedih,

“Aku pasti sudah gila,”

Dahi Aditya berkerut. Ia memiringkan kepalanya lalu bertanya, “Kau bilang apa?”

Amira cukup terkejut mendengar pertanyaan itu. Ia mengangkat wajah lalu mengarahkan pandangannya kembali kepada laki-laki itu.

“Kau─kau mengerti bahasaku?” tanyanya agak tergagap.

Aditya tertawa pendek kemudian berkata, “Kau bertanya seolah-olah aku ini alien. Tentu saja aku mengerti. Lagipula bukannya seharusnya aku yang terkejut karena kau sama sekali tidak mirip orang Indonesia.”

Amira terbelalak menatap wajah penuh senyum itu. Sekelebat bayangan wajah Isa memenuhi pelupuk matanya. Menghadirkan sejumlah pertanyaan yang melintas dalam benaknya, tetapi ia mencegah lisannya untuk bertanya dengan mengabaikan perasaannya. “Kalau begitu aku tidak perlu repot-repot menegurmu dengan bahasa Inggris. Now, please say sorry,”

Aditya mengerjap tidak mengerti, “Untuk apa?”

“Untuk apa?” ujar Amira datar setengah heran. Dia memaksakan tawa sumbang lalu melepas sandal high heels-nya yang patah. “Lihat, kau baru saja mematahkan sandal Jimmy Choo-ku dan sekarang kau malah bertanya ‘untuk apa?’” Sekilas terlihat gurat heran di wajah Amira, membuat Aditya sekali lagi tertegun.

“Oh maaf, aku tidak sengaja.” ucap Aditya menyadari. “Lalu─kau mau aku bagaimana? Mau aku belikan yang baru?”

Amira memundurkan wajahnya sedikit, mengernyitkan dahi. Dia tidak mengerti dengan dirinya sendiri. Bukankah seharusnya ada amarah yang menggebu-gebu karena sandal kesayangannya patah, tetapi kenapa sekarang dia malah melunak? Apa karena senyuman itu?

“T-tidak perlu.” jawabnya tergagap. Ia menelan ludah dengan susah payah dan sebaiknya pergi menjauhi laki-laki itu. Ada perasaan takut yang tiba-tiba menyerangnya begitu melihat wajah Aditya. Pipinya menghangat dan jantungnya berdebar. Sungguh, ini petaka baginya. Amira segera berbalik dan mulai melangkah pergi meninggalkan Aditya.

Melalui punggung gadis itu, Aditya dapat melihat gadis itu tengah berjalan timpang meninggalkannya dengan hak sandal yang patah. Rasa cemas yang tak diundang merayapi dirinya. Jika ia tidak menghentikan gadis itu sekarang juga, kemungkinan ia tidak akan melihatnya lagi. Sambil merenung, ia memperhatikan gadis itu mengenakan gaun hijau di atas lutut. Salah satu dress code kencan buta untuk bertemu dengannya di Hyde Park. Kakinya melangkah tanpa disuruh, tubuhnya seolah terdorong untuk mengikuti.

“Amira?” panggilnya ragu namun cukup membuat langkah gadis itu tertahan.

Panggilan itu sontak menghentikan langkah Amira. Pelan ia memutar tubuh, menatap laki-laki di depannya dengan bingung. “Ba-bagaimana kau bisa tahu namaku?” tanyanya ditengah kebingungannya saat itu.

Aditya lalu berjalan menghampiri dan memperhatikan liontin kupu-kupu kecil yang melingkari leher Amira saat itu. “Green dress and butterfly necklace. It is you.” ujarnya seraya menyelipkan kedua tangan ke dalam saku, mengangkat bahu tersenyum tipis. Raut wajah Amira semakin tidak mengerti, sampai Aditya menyudahi kebingungan yang bergelayut di dalam benak gadis itu seraya mengulurkan sebelah tangan dan berkata,

“Aku Aditya Hariz. Please to meet you.”

Mata Amira melebar kaget. Dia mengamati Aditya dari atas kepala sampai ke ujung kaki. Bulu matanya yang lentik bergerak-gerak. Sosok laki-laki berambut hitam tebal dengan potongan poni jatuh tidak beraturan, berkulit coklat kemerahan, berlesung pipi, mengenakan kaus Polo hitam berkerah dengan celana jeans belel dan sepatu Nike putih. Dari pandangan itu, Amira hanya ingin memastikan bahwa laki-laki di depannya benar-benar laki-laki yang ditunggunya sejak tadi.

Aditya tersenyum. “I’m Aditya Hariz. Sorry for coming late.” katanya sopan sambil menggerakkan tangan yang masih terulur, mengundang gadis itu menjabat tangannya.

Aditya mendapati Amira mengerjap, seolah baru tersadar dari lamunan. Perlahan-lahan Amira menghembuskan napas yang ditahannya sejak tadi. Dia menunduk dan menatap tangan yang terulur itu. Dengan sedikit canggung, dia menyambut uluran tangan Aditya kemudian berkata,

“A-aku… Amira Shiba,”

Advertisements

Published by

Zakia Khairunnisa

Kia, just an ordinary girl by the imperfections. A girl who loves sweet and romantic things as in the fragrance of the land that exposed to rain, the magnificent form of eternal love Shah Jahan for his wife, the Taj Mahal monument in Agra, white roses and delicious Ferrero Rocher chocolates. A girl who has an outstanding love of Indian colourful music. Admiring Shreya Ghoshal, the marvelous playback singer who has voice of heaven.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s