Out of The Blue

8e3ff20dba018df34fbfefaa4e49cc3c

Arlan Hariz duduk di depan komputernya. Masih dengan kemeja, lengkap dengan dasi yang terikat di lehernya. Alisnya berkerut samar, menatap layar komputer dengan mata menyipit. Tangan kanannya menggerak-gerakkan kursor. Cahaya dari komputer menyinari wajahnya. Laki-laki berbahu tegap itu perlahan melonggarkan dasi yang terasa mencekik lehernya. Dia menyempatkan diri membuka situs londonmate.com di waktu luang. Sebuah situs perjodohan yang sudah akrab di telinga masyarakat London. Sebuah situs yang memang ditujukan untuk mereka yang membutuhkan pasangan. Arlan dianjurkan oleh salah seorang temannya yang cukup dekat dengannya di kantor. Namanya Peter. Pria kulit putih asal Amerika yang sudah cukup lama bekerja di Inggris.

Sedari awal Arlan sudah menegaskan keinginannya untuk mencari pasangan berparas Asia. Dia sama sekali tidak tertarik dengan orang Eropa. Dia berharap istrinya kelak adalah orang Asia. Seperti ibunya.

You don’t have to worry. They have a bunch of Asian girls.” terang Peter selagi makan siang bersama di kantor. Pada mulanya Arlan tidak tertarik untuk mencari jodoh di sebuah situs perjodohan. Kedengarannya konyol. Ia merasa seperti laki-laki putus asa yang tidak punya daya tarik. Laki-laki yang jangankan wanita mencintai, melirik saja tidak. Namun rasanya tidak ada salahnya mencoba, bukan? Kesibukannya di kantor melebihi jam kerja orang pada umumnya. Atasannya seorang teroris, begitulah Arlan menjulukinya. Emosinya mudah meledak-ledak jika keinginannya tidak segera dituruti. Gaya hidupnya amat bergengsi. Tinggal di sebuah apartemen mewah. Berpakaian serba branded dan perfeksionis. High heels-nya terasa ngilu di telinga bila dia memasuki ruangan. Selalu menuntut banyak hal untuk melakukan ini dan itu meskipun itu bukan urusan kantor.

Dan malam ini, Arlan sedikit lega. Ponselnya belum berdering sejak tadi sore. Biasanya ponselnya selalu penuh dengan pesan singkat berupa perintah yang lebih mirip ancaman ataupun panggilan-panggilan masuk. Arlan memilih tetap bertahan dengan kondisi seperti itu karena impiannya menjadi seorang editor. Tidak jarang dia mengutuk atasannya yang lebih mirip naga betina itu karena kesal. Namun kembali lagi, impiannya ingin menjadi seorang editor. Dan dia sangat berharap atasannya akan mempertimbangkannya.

Malam itu Arlan membuka beberapa pesan yang masuk ke inbox-nya. Beberapa gadis mengajaknya berkenalan, bahkan ada juga yang langsung mengajaknya berkencan. Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang Inggris. Arlan memiliki paras menawan dan karismatik. Tinggi badannya melebihi standar tinggi badan orang Asia pada umumnya. Dia tidak tertarik dengan beberapa gadis itu lantas mengabaikan pesan-pesan yang masuk tanpa membukanya lebih dulu. Kursornya terus digerakkan ke bawah. Melihat pesan-pesan lain yang masuk. Dari sekian banyak pesan yang masuk, ada sebaris kalimat yang menarik perhatiannya. Pesan berbahasa ibunya. Bahasa Indonesia. Belum sempat membacanya, ponselnya berdering.

Mimpi buruk. Itu pasti si naga betina yang meneleponnya malam-malam begini. “Sial!” umpatnya begitu melihat layar ponselnya. Dugannya benar.

Naga Betina.

“Yes?” jawabnya usai menempelkan ponsel ke telinga.

“Kau dimana?” balas wanita di ponsel itu dengan suara terburu-buru.

Arlan meletakkan sikunya di atas meja seraya memijit-mijit kepalanya yang seketika berdenyut-denyut. Mau apa lagi dia sekarang??

“Di rumah. Ada apa?” jawabnya malas.

“Ada makan malam dengan Nigel, Richard dan Olivia. Jangan komplain! Saya tahu kau sudah menggeser jadwal makan malam itu minggu depan. Tapi sepertinya orang-orang ini tidak butuh istirahat. Sebaiknya kau datang. Dampingi saya. Saya tidak suka pergi sendiri dan berhadapan dengan mereka. Kau tahu kan mereka banyak berbasa-basi yang tidak perlu. Kalau ada kau, kau bisa meladeni mereka.” terang wanita bernama Louise itu tanpa basa-basi. Sebenarnya Arlan tidak perlu datang, namun Louise paling tidak suka berbasa-basi terlalu lama dengan siapapun itu. Semuanya serba terus terang. Dia selalu mengandalkan Arlan untuk mendampinginya berhadapan dengan bos-bos besar yang berpengaruh kuat bagi kelangsungan karirnya di kantor. Memerintah orang seenaknya demi kelangsungan karirnya, bukankah itu sangat egois?

“Saya tunggu di lobi kantor setengah jam lagi. Ingat! Kau tidak dibayar untuk datang terlambat.” perintah Louise tanpa mendengar komentar Arlan terlebih dahulu. Hubungan telepon pun diputus Louise sepihak. Arlan bahkan baru akan membuka mulut untuk berkomentar.

Arlan menutup matanya rapat-rapat. Memijit-mijit batang hidungnya dengan frustasi. Tanduk merah seolah ingin keluar dari kepalanya. Dia sudah tidak tahan ingin melepaskan jubah kesabarannya. Panggilan itu berhasil merusak suasana hatinya. Seluruh tubuhnya terasa gatal-gatal jika mendengar suara atasannya yang bernama Louise. Alergi.

“Semoga dalam perjalanan, you hit by a god damn truck sampai tubuhmu tidak bisa dikenali!” kutuknya selagi ponsel itu masih menempel di telinga.

“Siapa yang kau kutuk?” tanya Aditya heran sembari mengeringkan rambutnya dengan handuk. Dia baru saja keluar dari kamar mandi. Rambutnya basah habis keramas. Dia menghampiri kakaknya yang tampak frutrasi di depan komputer.

Arlan diam saja. Dia malas menjawab. Suasana hatinya langsung buruk seketika. Wajahnya memberengut dan segera bangkit dari duduknya. Dia kembali mengikat dasi yang longgar di lehernya. Memasukkan kembali kemejanya yang sudah keluar-luar dari celana, lalu menurunkan lipatan kemejanya dari lengan.

“Aku pergi dulu. Masih ada urusan.” jawabnya ketus. Arlan menyambar jasnya yang disampirkan dikursi depan meja komputer. Sambil menggerutu tidak jelas, dia berjalan menuju pintu apartemennya. “Jangan lupa matikan lampunya sebelum tidur!” pesannya dengan wajah masam lalu menutup pintu.

Aditya terpekur melihat raut wajah kakaknya yang tampak tertekan itu. Dia belum sempat bertanya ada apa, Arlan sudah beranjak pergi meninggalkannya. “Kenapa dia?” gumamnya pelan, mengeringkan kembali rambutnya yang masih basah dengan handuk. Ketika ingin berbalik menuju kamar, wajahnya disilaukan oleh layar komputer Arlan yang masih menyala. Laki-laki berlesung pipi itu segera membungkukkan badan lalu meraih kursor di sampingnya. Sepasang matanya menatap layar komputer di depannya. Sebaiknya aku Skype dengan Mama Papa saja, pikirnya.

Tunggu. Apa ini?

Aditya mendekatkan wajah ke layar komputer. Kedua alisnya bertaut. Londonmate.com? Ini pasti situs perjodohan yang pernah Arlan katakan. Senyumnya melebar dan dia pun terkekeh. Masih menganggap hal itu konyol. Kakaknya yang dikenalnya dewasa dan serius, bisa mendaftarkan diri di situs perjodohan. Sulit dipercaya. Sebelum dia menggerakkan kursor itu lebih ke bawah lagi, matanya menangkap sebuah nama.

Amira Shiba.

 

Advertisements

Published by

Zakia Khairunnisa

Kia, just an ordinary girl by the imperfections. A girl who loves sweet and romantic things as in the fragrance of the land that exposed to rain, the magnificent form of eternal love Shah Jahan for his wife, the Taj Mahal monument in Agra, white roses and delicious Ferrero Rocher chocolates. A girl who has an outstanding love of Indian colourful music. Admiring Shreya Ghoshal, the marvelous playback singer who has voice of heaven.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s