Inner Scream (3)

9248cad9d4f337bc47f6654ecd5f46faLangit begitu tenang. Aditya duduk didekat jendela sisi kanan pesawat. Menatap diam berjam-jam hamparan awan putih dan langit biru layaknya kapas yang terapung di udara. Sekitar pukul 9.15 waktu setempat, Aditya telah mencapai wilayah Inggris. Sang pramugari telah mengumumkan bahwa pesawat akan mendarat dan penumpang diharapkan memasang sabuk pengaman masing-masing. Aditya melongok ke jendela, menatap lekat hamparan kota di bawah sana. Susunan kota, tata rumah yang rapi, jalan raya yang meliuk-liuk dengan mobilnya yang kecil-kecil serasa mendapat sambutan kecil dari negara Ratu Elizabeth II itu. Dan pesawat berlogo mahkota biru itu mendarat dengan mulus di bandara Heathrow, Inggris.

Hari itu Aditya mengenakan kaus putih berkerah rendah dengan kacamata hitam mengapit di ujungnya, dibalut dengan jaket ber-zipper warna biru tua. Dia memadukan atasan tersebut dengan celana denim biru cerah dan sepatu Adidas putih. Rambut hitamnya tidak tertata rapi dengan poni acak menutupi dahi. Penampilannya yang semrawut itu semakin memperparah raut wajahnya yang kelelahan.

Sambil menyeret koper hitam bawaannya, Aditya berjalan menuju Terminal 3. Setibanya disana, dia mengedarkan pandangan ke sekeliling. Kepalanya jadi bertambah berat menyaksikan suasana bandara yang luar biasa sibuk. Heathrow adalah bandara tersibuk di dunia. Antrean panjang di bagian imigrasi. Bule-bule tinggi besar berseliweran di sekitarnya. Bunyi gesekan sepatu dan lantai. Derit roda koper yang diseret dan pembicaraan bahasa Inggris yang tumpang tindih satu sama lain.

Aditya menyapu pandangan, mencari Arlan yang mengatakan akan menjemputnya di sana. Di tengah hiruk pikuknya bandara, terdengar suara samar-samar seseorang memanggilnya,

“Adi! Adi!”

Aditya menyeringai. Dapat menerka dengan mudah siapa yang memanggilnya. Ia lantas memutar tubuh. Tidak jauh dari tempatnya berdiri, ia mendapati seorang pria berkemeja biru tua dengan penuh semangat melambaikan tangan di antara kerumunan orang yang menunggu. Berdesakan melawan arah agar dapat meloloskan diri.

Arlan Hariz. Pria dengan tinggi badan 178 sentimeter ini memang tidak memiliki kemiripan wajah dengannya. Dia berkulit putih mewarisi gen ibunya, berpostur ramping tegap dan selalu berpakaian rapi bahkan formal setiap harinya.

“What a surprise! It’s great to see you here,” sapa Arlan tersenyum lebar. Memegang kuat-kuat kedua lengan bagian atas Aditya dan tidak sabar ingin memeluk adik kesayangannya itu. Sinar matanya menyiratkan rasa haru mengetahui adiknya benar-benar datang mengunjunginya di Inggris.

Aditya tersenyum lebar meski gurat lelah di wajahnya terlukis jelas. Tak sabar, Arlan mendekapnya erat dengan wajah sumringah sambil menepuk-nepuk punggung dengan akrab.

“Apa kabar?”

Great!sahut Arlan semringah. Sesekali dia menggoda adiknya dengan menepuk pipi adiknya gemas. “Kau?”

Horrible.” Aditya menggeleng-geleng penat. Exhausted and sleepy.”

Arlan menanggapi dengan senyum kecil. Bukan hal baru melihat wajah Aditya kusut setiap tiba di London. “Mama Papa bagaimana? Mereka sehat?”

Aditya mengangguk.

“God, I miss them.” desah Arlan merindu. “Sayang sekali aku belum bisa kembali ke sana.” keluhnya sedih. Setumpuk pekerjaan di kantor telah menantinya tanpa kompromi. Mengubur dalam-dalam keinginannya kembali ke tanah air demi impiannya sebagai editor. Dia bekerja lebih giat dari pegawai lainnya demi membuat atasannya terkesan.

“Mama dan Papa baik-baik saja. Kau tidak perlu khawatir.”

“Kau tahu apa yang paling aku rindukan selama di London?” tanpa menunggu jawaban, Arlan melanjutkan, “Setiap makan malam, aku selalu rindu masakan Mama. Aku rindu tenggiri pedas buatan Mama.”

Aditya memutar bola matanya, tidak setuju.

Arlan menggeleng-geleng, namun bibirnya tersenyum. You’ll never change, masih saja tidak suka makan ikan.” Kemudian melanjutkan, “dan ketika boss-ku sibuk menceramahiku, aku jadi teringat Papa. Dan ketika aku membutuhkan teman untuk menghiburku, aku teringat padamu.” tolehnya menatap Aditya. “Dulu aku sering merasa bosan setengah mati mendengar Papa tidak berhenti menceramahiku, tidak kusangka ceramah membosankan itu bisa membuatku rindu.” Arlan tersenyum sedu. Jarak yang memisahkan antar benua itu membuatnya lebih matang dan memahami arti kehadiran orangtua untuknya.

Aditya melirik kakaknya sekilas dan kembali menatap jalan didepannya. “Ya, kau hanya membutuhkanku jika sedang kesepian. Dan kau juga melewatkan perhelatan wisudaku di kampus.” sindirnya dengan nada sedikit kecewa.

Arlan menghembuskan napas lelah. Di, what am I supposed to do? Aku bekerja di Golden Books sebagai asisten editor. Dan dalam waktu sebulan, aku diharuskan membaca minimal 50 naskah. Itu bukan pekerjaan ringan, teman. Kau harus selalu sedia aspirin jika ingin kepalamu utuh. Dan setiap meminta jatah cuti, selalu saja atasanku yang gila itu menahanku dengan berbagai alasan.” gumamnya dengan nada pasrah setengah geram.

Aditya tidak berkomentar, hanya tersenyum lebar dan menggeleng-geleng.

Keduanya berjalan ke mobil yang diparkir di pelataran parkir. Aditya memijit-mijit bahunya yang sakit. Mengerang lelah setelah menempuh perjalanan jauh selama berjam-jam di pesawat. Badannya terasa pegal-pegal dan matanya bukan main beratnya. Dia hanya ingin cepat-cepat sampai di rumah dan tidur.

Arlan mengangkat koper milik Aditya dan memasukkannya ke dalam bagasi mobil. Aditya melirik Arlan sekilas lalu bertanya, “Tapi-kau bisa kan kalau aku memintamu menemaniku jalan-jalan keliling London?” lebih baik meminta pendapat kakaknya lebih dulu, mengingat Arlan adalah salah satu manusia super sibuk yang hidup di planet bernama bumi ini.

Arlan mendengus ketika mendengar permintaan itu. “Ada apa? Seperti kau belum pernah ke sini aja? Baru setahun yang lalu kau datang ke sini.” Aditya lantas tersenyum masam sebelum Arlan kembali melanjutkan, “Tapi-aku tidak janji bisa menemanimu setiap saat. I have work, remember? Hari ini saja aku dapat izin, dan itupun setengah hari. Cuma untuk menjemputmu.” Arlan berpikir sejenak, mencari solusi agar adiknya tidak kecewa kedua kalinya, lalu melanjutkan, “Begini saja. Sebagai gantinya, kau boleh gunakan uangku selama kau di sini. Anggaplah itu sebagai hadiah kelulusanmu.”

“Kalau itu aku setuju.” seulas senyum puas tersungging di bibir Aditya. Tangan kanannya membuka pintu sisi kiri mobil dan…

“Isa!”

Deg!

Aditya menangkap sebuah suara menerjang gendang telinganya. Dia mendengar dengan jelas seseorang memanggil nama yang terdengar familiar di telinganya. Dia membeku. Detak jantungnya seolah-olah berhenti ketika dikenalinya nama itu. Serta merta perasaan duka mengalir di pembuluh darahnya dan tidak bisa dihentikan. Menyebar dan meluas cepat membuat kepalanya berputar ke arah suara dan matanya tertuju pada seorang wanita berkerudung sedang memanggil anak kecil yang berdiri tidak jauh darinya. Anak laki-laki berambut keriting yang dipanggil Isa itu pun menoleh kemudian berlari dengan wajah riang menghampiri wanita berkerudung itu.

“Stay close, okay?” Aditya mendengar wanita itu berkata lagi dan putranya tersenyum mengangguk.

Aditya mematung. Dahinya berkerut dalam. Tangan kanannya bergerak perlahan menyentuh dada. Merasakan gelombang emosi yang tidak dimengertinya. Merasakan nyeri seperti ada ribuan paku menghujam hatinya dan menorehkan guratan-guratan panjang dan dalam di sana.

“Adi!”

Aditya tersentak sekali lagi. Kaget karena Arlan memanggil. Dia menoleh ke arah Arlan yang sedang berdiri di dekat pintu mobil. “Kenapa diam? Ayo masuk!” suruh Arlan padanya. Aditya kembali memandangi anak kecil itu sejenak, lalu menyahut dengan ringan,

“Ya.”

Mobil hijau army jenis Wagons buatan Jepang itu bergerak meninggalkan bandara Heathrow. Melintasi jalan tol M4. Matahari bersinar cerah dan langit terlihat biru. Aditya membuka kaca jendela mobilnya. Menikmati udara musim semi. Membiarkan angin yang berdesir menerpa lembut wajahnya. Sejenak dia kembali termenung. Mengingat kejadian yang dirasakannya di pelataran parkir bandara.

“Oh ya, apa yang membuatmu tiba-tiba ke London? Bukankah kau bilang bosan ke sini terus?” Arlan bertanya padanya yang sedang menatap hampa pemandangan di luar kaca jendela mobil. Sementara Aditya tenggelam dalam pikirannya. Bergeming. Dia tidak mendengar.

Arlan mengalihkan pandangannya dari kemudi dan menoleh ke arah Aditya. Menegur adiknya yang kelihatan sedang melamun. Kali ini lebih keras. “Adi?”

Aditya menoleh, mengangkat alis. “Ya?”

“Belum ada satu jam disini, kau sudah melamun. Apa karena gadis itu?” tanya Arlan heran bercampur curiga. Matanya kembali ke wajah Aditya.

“Apa?” Aditya menyentakkan kepalanya kaget menatap Arlan. Dia mengernyit bingung. Lalu sedetik kemudian, ia menutup matanya rapat-rapat mengingat sudah pasti itu bukan rahasia lagi. Arlan dan Mama adalah pasangan serasi untuk bergosip. Aditya menelan kekesalannya dan berkata dengan nada pasrah, “Ya, kenapa juga aku harus terkejut.”

“Jadi semua itu benar?” tanya Arlan kelepasan tertawa. Sulit mempercayai seorang gadis berani menyatakan cintanya lebih dulu melihat adik satu-satunya itu apatis dan sembrono. Sontak dia terkekeh dibuatnya.

Aditya mengangkat ujung bibirnya. Melemparkan tatapan sebal ke arah Arlan. “Ya, ya tertawa sana sampai lidahmu tertelan.” balasnya dengan nada suara yang terdengar ketus.

Tawa Arlan mereda lalu menoleh ke arah Aditya. “Bagaimana aku tidak tertawa? Aku ini kakakmu. Aku mengenalmu seumur hidupku. Kau bahkan tidak pernah kelihatan tertarik pada perempuan. Aku sampai khawatir kau tidak normal. Dan ketika ada gadis cantik dan pintar menyatakan cintanya secara terbuka, kau dengan pengecutnya malah melarikan diri. Sebenarnya kau ini normal atau tidak?”

Aditya menatap geram lalu meninju bahu Arlan keras. Kesabarannya sudah mentok sampai ke ubun-ubun. “Enak saja kalau bicara!” protesnya. “Aku tidak sepertimu yang mudah jatuh cinta. Dalam waktu yang sama kau bisa menyukai dua gadis sekaligus.” Aditya mendecakkan lidah, menggeleng-geleng.

Cih. Itu kan dulu, sewaktu aku masih SMA. Tapi setidaknya aku normal kan?” Arlan tidak bosan meledek. “Lagipula saat itu kau masih tujuh tahun. Apa yang kau tahu?”

“Jadi maksudmu aku tidak normal??” Aditya menatap lelah meladeni ejekan kakaknya. Senyum Arlan melebar.

Aditya memalingkan wajah. Memilih menatap objek di sekitar jalan. Menarik napas dalam-dalam lalu menutup mata. Tubuhnya masih terlalu lelah untuk diajak bercanda. Situasi hening sejenak.

Arlan melirik Aditya sekali lagi, lalu bertanya, “Memangnya apa yang kau cari dari perempuan? Jujur, aku tidak paham.”

“Hmm─” Aditya menarik napas dalam-dalam, mengukir lesung di pipinya dengan mata terpejam. “tentunya gadis yang bisa membuatku jatuh cinta setiap hari.” jelasnya tanpa menoleh.

Uh, how sweet!” lirik Arlan pada adiknya dengan senyum mengejek.

Aditya lalu menoleh ke arah Arlan yang duduk di sampingnya. “Ah lupakan tentangku. Kau sendiri bagaimana? Apa sudah ada gadis yang ingin kau kenalkan pada Mama Papa??” tanyanya ingin mengalihkan topik pembicaraan. “Bagaimana dengan…emmm…siapa nama gadis itu? emmm…Laura!” katanya setelah berhasil mengingat nama gadis yang sedang dikencani kakaknya, lalu kembali mengalihkan tatapan ke luar kaca jendela mobil.

Arlan tersenyum muram. “Aku bertengkar dengannya sepanjang waktu. Dan keputusan untuk berpisah, kukira adalah jalan terbaik. Aku memberikannya kebebasan bersama orang lain, begitu juga dengannya. Dia tidak tahan dengan pekerjaanku karena aku sering tidak punya waktu untuknya.” lirihnya tanpa mengalihkan pandangan dari kemudi. Laki-laki itu merasa tidak nyaman mengekpresikan emosinya.

Aditya menggelengkan kepala. “Ckckckck. Kau ini kenapa? Apa prioritasmu cuma uang? Memangnya kau tidak berencana menikah dan akan terus bekerja sampai rambutmu beruban?”

Arlan tertawa pelan. “Tidak mudah mencari Poundsterling di negara ini jika tidak mengorbankan perasaan, Di.” jelasnya.

Aditya tersenyum. Dia mengerti, sejak remaja Arlan memang sangat ambisius. Laki-laki itu selalu bertekad untuk mencapai semua keinginannya. Pilihannya akan terus diperjuangkan meski orangtuanya tidak menyetujuinya. Keberangkatannya ke London pun sempat menjadi perdebatan panjang dan berlarut-larut antara ia dan orangtuanya. Terutama Mama. Secara perlahan Arlan memberikan pengertian bagi wanita yang sangat menyayanginya itu. Dan akhirnya, setelah sekian lama menunggu, restu Mama menyertainya.

“Lagipula aku sudah sign in di salah satu situs biro jodoh ternama di kota ini. Ya setidaknya meringankan tugasku.” ujar Arlan kemudian.

“Situs biro jodoh?!” Mata Aditya melebar menatap kakaknya, tawanya pun menyembur tak terkendali. Dia tertawa terbahak-bahak. “A-apa Mama tahu soal ini?”

“Huss! Mama tidak perlu tahu!” Arlan memperingatkan adiknya. “Jika Mama sampai tahu, aku pasti disuruhnya cepat-cepat pulang dan dijodohkan oleh salah satu putri temannya.” katanya sambil mendesah berat. “Kalau aku cocok dengan gadis pilihan Mama, itu tidak masalah. Tapi jika tidak, itu akan jadi masalah besar. Dan aku tidak mau disalahkan sebagai penyebab tidak harmonisnya hubungan Mama dengan temannya. Karena sibuk, aku tidak punya waktu untuk mencari jodoh. Satu-satunya gadis seiman yang ku kenal di negara ini ya hanya Laura, tapi…”

“Kau menyesal? Ya sudah, dekati saja dia lagi.” celetuk Aditya.

“Sembarangan! Kau pikir bisa semudah itu? Lagipula dia sudah mau menikah.”

Aditya mendecakkan lidah. “Lalu apa bedanya jika kau sudah mendapatkan gadis dari situs perjodohan itu? Apa kau juga akan melakukan hal yang sama seperti kau melakukannya pada Laura?”

“Ya, kuharap tidak. Laura sedikit banyak menuntut. Dia meminta waktu sebulan untuk berlibur bersamaku. Bayangkan saja, aku saja sudah lama tidak pulang ke Indonesia. Kalaupun aku punya waktu sebulan, aku pasti lebih memilih untuk pulang ke Indonesia ketimbang liburan dengannya.”

Aditya tersenyum mengerti. Dia memahami dengan baik sifat kakaknya yang tidak suka diatur. Oleh orangtuanya saja dia tidak suka diatur, apalagi oleh perempuan.

Mobil hijau army yang melaju kencang itu pun akhirnya berhenti di samping gedung apartemen.

“Yup, we’re home!” kata Arlan setibanya mereka di sebuah apartemen yang tidak jauh dari bandara. Mobil hijau army-nya diparkir rapi di samping gedung apartemen. Hanya butuh waktu kurang lebih setengah jam untuk mencapai Southwick Street, London.

Dari luar, gedung bertingkat itu berdinding bata merah. Desainnya pun sederhana, tidak rumit seperti gedung-gedung bergaya Eropa lainnya. Beberapa gedung di sekitarnya tampak serupa. Berdinding bata merah dan hanya terdiri dari tiga sampai empat lantai saja. Beberapa pohon tampak hijau menghiasi jalan di sekeliling apartemen. Lokasinya pun berdekatan dengan Kensington Garden, Hyde Park, Notting Hill gate dan Marble Arch.

Aditya turun dari mobil. Dia menguap, melemaskan sendi-sendi yang kaku lalu menutup pintu mobil. Ia bertolak pinggang, menyapu pandangan di sekitar seraya menghela napas panjang. Matanya menyipit sedikit karena silau dan mengangkat sebelah tangan untuk menaungi mata. Memperhatikan apartemen yang berlokasi di Southwick Street, London. “Tempat ini kelihatan beda.” tuturnya. “Kau pindah apartemen?”

“Tidak.” Arlan menggeleng. “Tempat ini kelihatan berbeda karena setahun yang lalu kau datang di musim dingin. Orang gila mana yang datang berkunjung di musim dingin?” Arlan tertawa meledek. “London sudah lama tidak turun salju. Tapi saat kedatanganmu tahun lalu, salju seperti ingin merendam kota ini. Berbeda dengan hari ini. Semuanya kelihatan hijau. Tadinya kupikir kau akan berlibur ke Athena. Jadi aku belum sempat menyiapkan semua yang kau butuhkan selagi menginap di sini.”

“Awalnya aku memang berencana berlibur ke sana. Tapi sayangnya Riza memutuskan mengambil master di sini, dan aku sedang tidak ingin berlibur sendiri. Kau masih ingat dengannya? Teman SMA-ku dulu yang punya hidung bangir.” tanya Aditya sambil tertawa pelan.

Arlan tampak ragu sejenak, berpikir, lalu mengangguk. “Oh maksudmu Riza? Pemuda keturunan Turki itu?”

Aditya mengangguk.

“Kapan dia mau datang ke sini?”

“Aku rasa, minggu depan dia baru tiba di sini…”

Sambil menyeret koper, Arlan mengajak Aditya memasuki gedung apartemen yang sangat terawat dengan baik itu. Apartemen yang tetap nampak gagah itu terdiri atas tiga lantai saja. Jarak antara satu gedung dengan gedung lainnya pun tidak begitu lebar. Berada di kawasan yang sangat strategis di pusat kota London. Hanya perlu waktu lima menit berjalan kaki untuk sampai Hyde Park. Dan tak jauh dari sana adalah stasiun Paddington.

Inner Scream (2)

Setelah menempuh perjalanan hampir satu jam, Aditya tiba di salah satu gedung yang terletak di Jl. Jend. Gatot Soebroto. Mobil berplat nomor D4MN itu melesat masuk ke parkiran, mengisi satu-satunya celah kosong di antara mobil-mobil lainnya. Usai memarkirkan mobilnya dengan sembrono, Aditya mengenakan baju wisudanya dengan slebor di dalam mobil. Dia melirik jam di dashboard mobilnya dan mengerang sekali lagi.

Aditya berlari tergesa-gesa dengan sebelah tangan menyingkap baju wisudanya dan sebelah tangan lainnya memegangi topi toga. Laki-laki itu menyusuri Rafflesia Ballroom yang dihadiri 196 mahasiswa yang berpakaian serba hitam dengan topi toga dikepala mereka. Kedatangannya yang tergesa-gesa sontak menarik perhatian para manusia berkepala toga di sana. Ratusan mata menatapnya dengan alis berkerut heran. Seolah dirinya adalah mahluk asing yang ditolak berada di planetnya sendiri dan dibuang ke bumi. Sementara laki-laki berlesung pipi itu hanya mengangguk-anggukkan kepala seraya tersenyum kaku.

Aditya berjalan perlahan melewati beberapa mahasiswa yang duduk sebaris dengannya. Dia menempati bangku dengan nomor urut 77. Beberapa teman-teman yang duduk sebaris dengannya menyapanya. Ada juga yang sekedar tersenyum. Aditya hanya membalasnya dengan mengangkat alis sebagai pengganti kata sapaan.

Riza menyalami Aditya dengan saling mengadu telapak tangan mereka. Nama lengkapnya Riza Kemal Pasha. Pemuda keturunan Turki, namun lahir di Inggris. Kulitnya putih pucat, hidungnya bangir dan terkadang memakai kacamata bulat seperti Harry Potter. Ayahnya memiliki kedudukan yang cukup penting pada sebuah perusahaan operator seluler di Istanbul, Turki.

Aditya mengerang lega usai menyandarkan punggung pada sandaran kursi.

Seriously? You’re coming late di prosesi wisuda sendiri? Where have you been??” bisik Riza, mendekatkan kepalanya ke kepala Aditya.

“Macet.” jawab Aditya, menggeleng tak kerasan agar terlihat meyakinkan.

“Cih, klise!” celetuk Alex.

Aditya sontak menoleh. “Hey!” sapanya agak terkejut ketika menyadari kehadiran Alex di sebelah kanannya. Dia tersenyum lebar, sebelah tangannya merangkul bahu Alex akrab. Great! Kita bertiga duduk sebaris.”

Of course, Idiot.” sahut Alex memandang ke depan. Menyaksikan menteri pendidikan nasional RI sedang berpidato di podium. “Kau lupa? Nomor induk mahasiswa kita bertiga berurutan sejak pertama kali mendaftar di universitas ini.”

Riza mendecakkan lidah. Useless bicara dengannya, Lex. Dia tidak akan ingat! He’s too busy for Luna.” timpalnya cemburu.

b9c02333bf74a5b0e7814cac6750179fLuna yang dimaksud Riza adalah seorang gadis yang periang dan ekspresif. Dia manis dan tomboy. Rambutnya bergelombang panjang sebahu, berkulit coklat gelap dan giginya bersih seputih susu. Semua teman-teman dekatnya pun laki-laki. Mereka sampai menjulukinya si Handsome Girl.

Aditya dan Alex menoleh bersamaan ke arah Riza. “Oh God, who’s talking now,” kata Aditya sambil memutar bola matanya. “Si pengagum rahasia Luna.”

Bola mata Riza melebar, bahasa tubuhnya mendadak kikuk. Dia tergagap merespon, “A-aku tidak mengaguminya. Ka…kata si…apa aku mengaguminya?”

“Lalu kenapa kau ga..ga..gap begitu??” ledek Aditya tak mau kalah.

Alex mengulurkan telapak tangannya dan Aditya menimpali, mereka tertawa geli. Riza melirik Aditya datar namun pandangannya sedikit menyiratkan keheranan. She’s madly in love with you, and you’re just too fool to understand. gumamnya gemas pada Aditya. Laki-laki itu menebar aroma cemburu yang sangat kuat terhadap Aditya.

Tarikan napas meledek memastikan bahwa Aditya sama sekali tidak terpengaruh oleh gumaman Riza. Oo, I smell sense of jealousy here.” balasnya mengibaskan tangan ke depan wajah sembari memasang mimik menyebalkan.

“Shut up!” Riza memukul dada Aditya dengan punggung tangannya.

Selama perhelatan wisuda berlangsung dan beberapa pembicara telah naik ke atas podium untuk berpidato, tidak ada satupun dari mereka bertiga yang benar-benar mengikuti jalannya acara. Mata ketiganya memandang ke depan seolah mendengarkan, namun mereka sedang berbicara dengan suara pelan.

Sesaat kemudian, tibanya momen rektor mengumumkan nama mahasiswa dengan lulusan terbaik untuk angkatan 2009 di atas podium. Suasana hening seketika. Ratusan kepala yang hadir di ballroom Raflesia pun mendengarkan dengan seksama.

“Dan yang menjadi lulusan terbaik fakultas Administrasi Bisnis tahun ini adalah…” suara rektor membuat ruangan itu hening. Diam. Bergeming. Semua perhatian terpusat kepada sosok berbadan tinggi besar dengan rambut jarang di kepalanya. Kata-kata yang meluncur dari mulutnya sangat dinanti-nanti oleh ratusan mahasiswa di sana. Mereka kelihatan bersemangat dengan tangan dikepal tak sabar menanti rektor menyebut nama selebriti kampus mereka. “Luna Radika dari jurusan Administrasi Bisnis Internasional dengan IPK 3,98!”

Tepuk tangan pun terdengar riuh menggetarkan langit-langit ruangan berukuran 1214 m² itu. Luna naik ke atas podium untuk berpidato. Dia bagai meteor, melesat di langit malam dan bersinar lebih terang daripada bintang. Gadis manis itu disambut meriah oleh para penggemarnya, khususnya para laki-laki. Suasana di dalam ruangan seketika bergemuruh, lebih terdengar seperti stadion bola yang dipenuhi oleh fans-fans fanatik yang menyerukan nama tim sepakbola kebanggaan mereka. Kedua tangan Luna saling meremas karena gugup. Dia terlihat cantik dengan topi toga dan baju berwarna biru kuning yang dikenakannya. Sebuah medali emas juga tergantung di lehernya. Seluruh peserta wisuda berdiri, bertepuk tangan penuh kebanggaan untuk gadis tampan itu.

Luna yang semula gugup, kini tampak lebih tenang. Gadis itu menghela napas dalam-dalam kemudian menghembuskannya dengan pelan untuk meredakan rasa gugupnya. Dia tersenyum cerah menatap teman-temannya dari atas podium. Wajahnya bersinar bagai diterpa cahaya rembulan. Sebelum memulai pidatonya, Luna berdehem. Tangannya kemudian meraih microphone di depannya lalu mendekatkannya ke bibir.

“Terima kasih,” ucapnya di awal pembukaan pidato. Suara tepuk tangan yang terdengar riuh itu pun surut perlahan. Para mahasiswa dan mahasiswi yang semula berdiri, mulai duduk satu persatu. “Saya ingin mengucapkan terima kasih pada Tuhan Yang Maha Esa. Pada kedua orangtua saya di sana.” Luna melempar pandangan kepada kedua orangtuanya yang tersenyum bangga padanya. “Kepada rektor, semua dosen yang berjasa atas keberhasilan saya. Dan kepada teman-teman saya.” Luna tampak memejamkan matanya sejenak seperti sedang berdoa sepenuh hati, kemudian melanjutkan, “Khususnya Aditya Hariz!”

Glek! Aditya menelan ludah. Napasnya tertahan dan matanya terbelalak.

Sebagian mahasiswa yang mengenalnya serentak menoleh ke arahnya. Lalu sebagian yang lain mengikuti. Mereka penasaran siapa laki-laki beruntung yang disebut-sebut namanya oleh selebriti kampus mereka. Kini semua mata yang berada di ruangan itu tertuju pada Aditya Hariz. Laki-laki berlesung pipi itu menjadi terkenal dalam hitungan detik. Bola matanya bergerak ke kanan ke kiri. Berharap tidak semua orang menatapnya di sana, namun tidak ada satupun mata yang tidak memandang ke arahnya.

Alex tersedak, hampir kelepasan tertawa. Dia menyenggol lengan Aditya hingga membuat tubuh temannya itu sedikit oleng. Sementara Riza terbelalak, seolah tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Dengan sekuat tenaga, dia menahan debur cemburu yang semakin berkecamuk di dalam dadanya sejak tadi. Patah hati telah menghancurkan setiap sendi dirinya. Sementara bahu Aditya merosot perlahan dari sandaran kursi. Nyalinya ciut seketika. Wajahnya merah padam.

“Aditya! I love you!” ungkap Luna dari atas podium.

Aditya mendengarnya. Ya, sangat jelas. Sampai permukaan kulitnya merinding. Astaga. Luna tepat sekali memilih waktu untuk melayangkan pernyataan cintanya saat prosesi wisuda. Di sana ada para dosen, orang-orang penting sampai pejabat negara, teman-teman, kerabat dan… orangtua! Ya, orangtua! Aditya lalu memejamkan matanya rapat-rapat. Wajahnya menjadi merah seperti kepiting rebus.

Suasana di ruangan itu bertambah riuh mendengar ungkapan cinta Luna, namun tak sedikit di antara mereka yang patah hati. Mereka bersorak ramai bahkan bertepuk tangan mengagumi keberanian Luna. Tidak banyak dari mereka yang bernyali melakukannya di depan umum. Ini adalah prosesi wisuda paling fenomenal di sepanjang sejarah kampus. Kalau sudah melibatkan banyak orang begini, lantas bagaimana Aditya bisa berkelit? Di benak Aditya saat itu tidak ada keinginan yang lebih kuat selain menghilang.

Seandainya Aditya bisa berbahagia, tentunya ungkapan cinta ini akan menjadi manis. Tetapi, raut wajahnya lebih mencerminkan seperti orang yang baru saja terkena stroke. Ia memikirkan pendapat orangtuanya nanti. Mereka tidak buta dan tidak juga tuli. Mereka pasti akan meminta penjelasan lebih detail kepadanya.

e97bacca1620f9f17050a245a0064b4dDan setelah kejadian yang mungkin akan dikenangnya seumur hidup itu, Aditya termenung cukup lama di dalam mobil. Butuh waktu untuk membuatnya percaya akan kejadian barusan. Dia menatap lurus ke depan sambil memegang kemudi lalu menjatuhkan kepalanya lesu di sana. Menutup matanya rapat-rapat berusaha mengusir kenangan memalukan itu. Menghindari serentetan pertanyaan dan ledekan dari teman-temannya. Belum lagi para laki-laki yang sinis menatapnya. Ponselnya berdering. Dia melihat layar ponsel dan nama Luna muncul di sana. Dia memilih mengabaikan semua panggilan yang masuk ke ponselnya saat itu. Khususnya dari Luna. Aditya tiba-tiba teringat pada pesan suara kakaknya tadi pagi. Dengan cepat, dia mengirim balasan pesan singkat kepada kakaknya. Jari-jarinya mengetik beberapa kata.

Lan, see you in London!

An Inner Scream

Hari yang hangat di bulan April. Sinar matahari keemasan menembus jendela di bagian tengah langit-langit kamar. Sinarnya menyorot langsung ke tempat tidur, membuat sprei hitam dan bed cover abu-abu itu menghangat.

a1be03d8514eb4d3bcda5763ceae475fSeorang pemuda tidur dengan posisi telungkup di tempat tidurnya yang berukuran besar dan empuk. Sinar matahari yang menembus jendela kamar menyilaukan matanya. Dia membuka matanya yang terasa berat. Mengangkat sebelah tangan, menutupi mata. Samar-samar dia mendengar suara burung-burung bercuit-cuit seperti biasa, hinggap dari satu pohon ke pohon lainnya. Sebelah tangannya keluar dari dalam selimut, kepayahan menjangkau jam weker hitam yang terletak di atas tumpukan buku dekat dengan tempat tidurnya. Sekilas benda di tangannya tampak bergoyang-goyang. Dia menajamkan mata agar dapat melihat dengan jelas.

9.10.

Pemuda itu menatap benda di tangannya sekali lagi setelah menggosok-gosok matanya tak percaya, berharap dia salah lihat. Dia kembali berbaring, menatap langit-langit kamar, mengerjap beberapa kali, sampai kesadarannya benar-benar utuh. Dan tak lama kemudian, dia terkesiap dan langsung melompat kaget dari tempat tidurnya.

“Oh crap!” umpatnya. Crap!” serunya panik sambil mengacak-acak rambut. Dia melesat ke pintu kamar mandi dan membukanya dengan satu sentakan cepat. Sepersekian detik dia kembali ke kamar, berlari mengambil handuk yang tertinggal.

Lima menit kemudian, pintu kamar mandi terbuka dengan suara keras dan pemuda itu melesat kembali ke kamar tidurnya, disusul dengan suara pintu lemari dibuka dengan gaduh. Matanya kalap memandang ke segala sudut. Mencari pakaian wisuda lengkap dengan topi dan medalinya. Dia menyerukan serentet umpatan berulang karena panik. Dan semakin membabi buta setelah melihat jam dinding yang berdetik cepat, karena prosesi wisuda akan dimulai 40 menit lagi. Dengan terburu-buru, dia mengenakan celana panjang hitam dan kemeja putih, disusul dengan dasi merah yang diikat asal ke lehernya. Dia berlari ketar ketir keluar kamar. Menuruni tangga sembari menenteng baju toga dan sepatu hitamnya.

Beberapa saat kemudian pemuda itu muncul di garasi rumahnya, mengarahkan remote kunci mobil ke Honda sport-nya.

Bip! Bip! Honda sport hitam metalik itu berbunyi. Pemuda itu segera membuka pintu mobil dan melemparkan barang-barang yang ditentengnya dengan sembrono ke tempat duduk bagian belakang. Dia segera menyalakan mesin mobil kemudian menekan pengendali jarak jauh otomatis pembuka gerbang rumahnya. Sambil menunggu mesin mobilnya panas, dia menatap wajah ovalnya di kaca pengemudi bagian tengah mobil seraya mengikat dasi merah di leher dan sebentuk lesung pipit tampak tersembul manis di wajahnya.

Langit cerah berawan dengan semburat sinar matahari menyorot melalui sela-sela awan ketika pemuda itu mengemudikan mobilnya super ngebut begitu keluar dari rumah. Lima belas menit selagi di perjalanan, keheningan yang menyelimuti mobil sport-nya tiba-tiba dipecahkan oleh dering ponsel. Pemuda itu tersentak kaget. Crap!” erangnya sebal. Dia melirik layar ponsel yang terekat pada pegangan kemudi lalu mengaktifkan pengeras suara.

“Ya, Pa. I’m on my way.sahutnya cepat.

“Astaga, kau masih di jalan, Adi??” Papa terheran-heran. “Ya ampun, jangan bilang kau kesiangan lagi ya?”

Pemuda itu memaksakan sepotong senyum bersalah di bibirnya. Relax, Pa. Sepuluh menit sebelum acaranya dimulai aku sudah tiba di sana.”

Papa mendesah dengan suara keras di ponsel, membuat pemuda itu mengerjap kaget. “Kau ini ya,” katanya mendecakkan lidah dengan heran. Tidak habis pikir, putra bungsunya itu masih bisa datang terlambat di hari-hari penting seperti ini. Reaksi Papa membuat wanita yang duduk di sampingnya bertanya sambil mengangkat alis. Lalu Papa berbisik pelan kepada wanita sekaligus istrinya itu sambil menutup speaker ponsel dengan telapak tangan, “Dia masih di jalan.”

Mama terbelalak kaget. Wanita itu segera merebut ponsel itu dari tangan suaminya dengan jengkel. “Hey, Aditya Hariz!” suaranya terdengar geram di ujung sana.

Cara Mama menyebutkan nama lengkapnya di ponsel pertanda celaka, membuat Aditya menatap langit-langit dan bergumam pasrah, “Tuhan, bunuh saja aku.”

Mama memiliki sifat yang bertolak belakang dengan Papa. Papa adalah sosok yang relatif tenang dan memberikan kepercayaan penuh. Sedangkan Mama terlalu mudah khawatir dan cerewet. Tidak cukup bagi Mama memberikan nasehat atau pesan sekali dua kali. Mama tak segan-segan mengulangnya terus menerus seperti memutar kaset kusut di bagian yang sama. Dan itu sangat men-jeng-kel-kan! Membuat kuping panas dan merah. Apalagi soal ketepatan waktu. Maklum saja, sebelum menikah dengan Papa, Mama pernah bekerja sebagai pramugari di salah satu maskapai penerbangan ternama di Indonesia. Profesi terdahulunya itu menuntutnya untuk disiplin dan selalu tepat waktu. Sementara Aditya selalu saja datang terlambat dan tidak pernah bisa datang tepat waktu.

“Iya, Ma.” sahut Aditya dengan serengeh.

“Kau dimana sekarang?” Nada suara Mama sama sekali tidak ramah.

“Aku masih di jalan. Sebentar lagi juga sampai. Mama tenang sajalah aku pasti datang tepat waktu.” jawab Aditya datar, setengah memohon untuk tidak menambah kepanikannya.

Dan ceramah panjang lebar itupun dimulai…

“Ya ampun, Adi. Entah bakat menjengkelkanmu itu menurun dari siapa,” lirik Mama, menyindir laki-laki di sampingnya. “Seharusnya kau bangun lebih pagi. Kami saja yang berangkat dari Bandung, bisa tiba lebih awal darimu. Kalau tahu kau akan datang terlambat, sebaiknya kami menunggu di luar saja tadi. Lalu bagaimana sekarang? Kami sudah duduk di dalam. Sebentar lagi acaranya dimulai. Kau ini bagaimana? Kau kan yang punya acara, kenapa bisa-bisanya datang terlambat?!” Kekesalan di wajah Mama pun terbit.

Aditya menggaruk-garuk bagian belakang lehernya dengan telunjuk. Seluruh tubuhnya mulai berasa dijangkiti gigitan-gigitan nyeri seperti cubitan biang keringat. Dia hanya mengangguk-angguk cuai tanpa benar-benar mendengarkan.

“Kenapa kebiasaan burukmu itu tidak pernah hilang?! Kau sebentar lagi akan masuk dunia kerja. Bagaimana bisa bertahan kalau kau selalu saja datang terlambat? Kau kan sudah dewasa, Adiiiii.” Mama memekik gemas. “Masa harus selalu diingatkan soal ketepatan waktu? Ini kan momen penting dalam hidupmu. Ya diusahakan jangan sampai telat! Harusnya kau sudah mempersiapkan semuanya dari semalam, Adi…” Kata ibunya memberondongi Aditya dengan ceramah panjang lebar.

Merasa ceramah itu tidak hanya sebentar melainkan panjang dan lebar sampai tidak menemukan titik, Aditya memandang ke segala sudut mobilnya. Dia merogoh-rogoh mencari plastik di kolong tempat duduknya. Dan seringai nakal tersungging di bibirnya setelah menemukan plastik bekas makanan dari sana. Dengan sengaja dia meremukkan plastik itu di depan ponsel yang terekat pada pegangan kemudinya.

“Ma…ma…?” Kresek! Kresek! “Su…a…ranya pu…tus putus, ma. Aku tidak dengar!” Serunya, sengaja dibuat tersendat-sendat selagi meremukkan plastik di tangannya.

“Ha…halo? Adi?”

Tut…tut…! Sambungan telepon diputus.

Aditya menyandarkan kepalanya, mendesah lega. Dia menghirup napas dalam-dalam, memperbaiki posisi duduknya dan melemaskan jari-jarinya pada pegangan kemudi. Berupaya menenangkan diri dari kepanikan yang melanda. Tidak berapa lama setelah dia menutup ponsel, ponselnya kembali berdering. Kali ini ada voice note masuk. Alisnya terangkat begitu melihat pesan itu dari kakaknya, Arlan Hariz.

Hey, congratulations! Seriously, I’m proud of you! Yakin kau tidak mau ke Inggris?

Aditya menyeringai mendengarnya tanpa berniat membalas pesan suara itu.

No Sound to This Heart Beat (3)

17ec446f4c60b8756e53968b63ef1dca.jpgMalam pekat kelabu. Hujan semakin lebat di luar rumah, jatuh berderai dari langit. Kilat sambung menyambung disusuli getaran petir. Sayup-sayup suara derai hujan menyelinap ke dalam ruangan. Tampak titik-titik hujan membasahi jendela. Amira memandangi malam kelabu itu dari muka jendela pada salah satu dinding di kamarnya. Matanya sayu mengamati curah hujan yang deras, tebal dan rapat. Dia tampak pucat. Menatap ke luar dengan tatapan kosong. Hujan deras itu mengingatkannya pada peristiwa enam bulan yang lalu.

Kematian Isa menorehkan luka psikologis yang mendalam bagi Amira. Sakit yang menggerogoti setiap bagian dari dirinya. Merasakan hatinya yang retak selama enam bulan terakhir. Dia bisa merasakan yang satu itu. Sepasang matanya terasa perih ketika air mata perlahan bergulir turun membasahi pipinya. Daerah kulit di sekitar matanya menjadi hitam dan bengkak karena belum berhenti berduka. Dadanya pun terasa sesak. Peristiwa nahas itu masih membekas dalam memorinya.

Orangtuanya menjadi frustasi melihat keadaannya yang tak kunjung membaik. Mereka takut Amira akan semakin terpuruk jika mereka tidak segera bertindak. Dan menyewa jasa seorang psikolog untuk mengobati kejiwaan putri mereka adalah solusi pertama yang terbesit dalam benak mereka.

Mama datang membuka pintu, mendapati putrinya sedang berdiri menatap kosong ke luar kaca jendela. Hal yang selalu putrinya lakukan jika hujan turun. Kemudian, Mama datang mendekat. Selangkah dua langkah, dia mendapati kakinya merapuh. Tak lama, dia berbalik. Merasa ragu dan tidak sanggup. Setiap kali dia melihat keadaan putrinya seperti itu, dadanya terasa berat. Dan bukan main sakitnya. Air matanya menetes dan tangannya gemetar. Matanya terpejam rapat-rapat, menjatuhkan butir-butir air mata yang hangat. Cepat-cepat dia mengusap air mata di pipinya dengan kedua tangannya lalu menghela napas, berbalik dan mengendalikan diri.

“Kau belum tidur?” sapanya getir.

Amira bergeming. Air matanya bergulir membasahi lekuk pipinya. Sebagian kesedihannya berubah menjadi amarah, sebagian yang lain tumpah menjadi air mata. Tak peduli seberapa sering air mata itu kembali membasahi wajahnya, luka dalam hatinya tak juga mengering.

Mama menelan ludah dengan susah payah. Napasnya tertahan di tenggorokan. Matanya terpaku pada Amira yang menangis di depannya sementara dia tidak berdaya menghentikan penderitaan putri tunggalnya itu. Dia tidak henti-hentinya mencemaskan Amira. Seluruh tenaga dan pikirannya telah dia curahkan hanya untuk Amira.

“Oh sayang,” ucapnya getir, membelai lembut kepala Amira. Menjatuhkan kedua lututnya di lantai, membuat matanya sejajar dengan putrinya. Dengan lembut, dia mengusap setiap air mata yang jatuh membasahi wajah Amira.

“Mama, kenapa disini sakit sekali?” Amira menekan dadanya. Gadis itu memekik pilu.

Mama tercengang sampai tidak bisa berkata apa-apa. Dia tahu putrinya sangat terpukul, tetapi ini adalah pertama kalinya Amira menangis sampai berlarut-larut seakan air matanya tidak akan pernah habis.

“Isa pergi karena kesalahanku, Mama.” sesal Amira.

Mama tersenyum pahit. Kekhawatirannya menjadi nyata. Putrinya benar-benar celaka berpisah dari anak laki-laki itu. Gumpalan di tenggorokan membuatnya sulit berkata-kata. Bola matanya kembali memanas. Tangannya dengan lembut membenarkan rambut Amira, menyelipkannya di belakang telinga. Air matanya membayang di pelupuk. Dengan suara tercekat, dia berusaha menenangkan. “Ami. Hanya karena dia tidak terlihat, bukan berarti dia tidak ada, Sayang. Di surga akan ada banyak teman-teman seusianya…” berkali-kali tangannya mengusap lembut wajah Amira, menghapus air mata putrinya, lalu melanjutkan, “Tuhan menyediakan tempat yang indah untuk mereka di sana. Jadi kau jangan bersedih lagi ya. Berdoalah untuknya, Sayang.”

Mendengar nasehat Mama, Amira menjatuhkan diri di pelukan Mama. Mendekap Mama begitu kuatnya, melampiaskan kesedihannya dengan menangis tersedu-sedu. Air mata Amira begitu menular sehingga Mama mulai menangis bersamanya.

Selama hidupnya, Amira selalu berlimpahkan kebahagiaan dan kasih sayang dari kedua orangtuanya. Semua keinginannya selalu terpenuhi, bahkan sebelum gadis kecil itu meminta. Dia hampir tidak pernah menangis. Papa yang begitu penyayang selalu menuruti semua keinginannya. Apapun itu. Namun untuk yang satu ini, Papa tidak bisa memenuhinya.

Bagi Amira, Isa bukanlah sekedar teman ataupun sahabat, melainkan bagian dirinya yang berbeda tubuh. Keberadaan Isa menjadi sebuah kebutuhan yang sama pentingnya dengan bernapas. Dia dapat merasakan penderitaan dan kebahagiaan Isa. Suatu bentuk perasaan yang sulit dipahami.

Amira cemas ketika Isa tidak hadir di sekolah. Ia bertanya kepada wali kelas Isa saat itu, namun rupanya wali kelas juga tidak mendapat kabar dari pihak wali Isa, yaitu Paman dan Bibinya. Amira semakin tidak tenang seharian di kelas. Dan ketika jam sekolah berakhir, Amira meminta pak Suryo untuk mengantarkannya ke rumah Isa. Meskipun hujan deras dan jalanan macet, Amira tetap bersikeras menemui Isa dan bertapa terkejutnya dia setibanya di sana. Dia menyaksikan Isa diguyur hujan deras tanpa pakaian, hanya mengenakan celana pendek tipis. Tubuhnya menggigil kedinginan dengan kedua lengan disilangkan ke dada. Tanpa keraguan, Amira bergegas turun dari mobil bahkan sebelum mobil itu benar-benar berhenti. Dia tidak peduli meski hujan deras ikut mengguyur tubuhnya. Mendatangkan rasa cemas dalam diri Pak Suryo,

“Non Amira!” panggilnya tergopoh mengambil payung dari dalam mobil lalu bergegas lari menyusul Amira.

“Isa!” seru Amira ketika berlari kencang menghampiri Isa.

Isa berdiri dengan tangan menyilang di dadanya, menahan kedinginan. Sekujur tubuhnya kuyup. Menggigil. Wajahnya kuyu dan bibirnya bergetar kebiru-biruan. “Shiba?”

Amira terdiam oleh perasaan iba melihat penderitaan Isa. Air matanya menggenang di pelupuk, mengaburkan pandangannya. “Ka-kau sedang apa? Kenapa hujan-hujanan?!” tanyanya dengan suara cukup keras karena harus bertarung melawan suara hujan.

Pak Suryo pun datang dan memayungi kedua anak itu.

Isa menjawab dengan bibir gemetar, “Kenapa kau ke sini? Pulanglah!”

Amira balas menatap Isa dengan alis menggantung sedih. “Tidak mau!” bantahnya. “Ini pasti perintah Paman dan Bibimu kan?”

“Pulang lah. Nanti kau sakit.”

Amira menggeleng kuat-kuat dan menolak untuk pergi. Paman dan Bibinya Isa telah tega menghukum Isa dengan cara keji seperti ini. Apapun kesalahan anak laki-laki itu, tidak sepantasnya dihukum dengan cara keji seperti ini. Terkadang Paman dan Bibi menghujani Isa dengan sumpah serapah yang sangat kasar dan tidak nyaman didengar di telinga.

Seluruh tulang Isa terasa ngilu, kulit kedinginan, punggung perih bukan main dan kepalanya sakit luar biasa setelah diguyur hujan deras hampir satu jam. Tidak jauh dari mereka, bibinya Isa keluar dari rumah, berdiri di teras dengan daster lusuhnya lalu bersuara lantang terhadap mereka.

“Heh! Sedang apa kalian??!”

Amira dan Isa serentak menoleh terkejut ke arah sumber suara. Dengan wajah memberengut, Amira menatap kecewa ke arah bibinya Isa.

“Ini lagi kecil-kecil sudah berani menatap orang tua begitu!! Tidak diajar sopan santun ya sama orangtuamu?!” teriak Bibinya Isa pada Amira, lalu beralih menatap tajam Isa. “Heh kau anak setan! Jangan berhenti berdiri di sana sampai hujannya reda! Itu hukuman buatmu karena mencuri nasi di rumahku!! Awas kau ya!” ancamnya sambil menuding-nuding Isa.

Kejadian yang sebenarnya tidaklah tepat bila disebut mencuri. Isa jarang diberi makan. Kalaupun anak itu makan, itu adalah makanan sisa yang sudah diletakkan di tempat cucian piring. Bagaimana bisa disebut mencuri jika makanan itu sudah dibuang?

Amira menggandeng tangan Isa. “Bibi jahat! Bibi tidak punya perasaan!” serunya kecewa, sinar matanya terluka.

“Apa??!” Bibinya Isa semakin meradang dan segera membuka payung. Dia menghampiri Amira dengan muka merah. Mulutnya sudah siap memuntahkan makian ke arah gadis kecil itu. Dan sebelum ia berdiri tepat di depan Amira dan ingin membentak dengan kasar, pak Suryo langsung berdiri tepat di antara mereka, hendak melindungi gadis kecil itu seperti seorang ayah,

“Ibu tidak malu ya bicara kasar seperti itu di hadapan anak kecil?!”

“Eeeeh ini lagi pakai ikut campur! Supir saja belagu!” mendengar teguran itu, si Bibi malah semakin naik pitam. Dia kembali membentak dan memaki-maki dengan kata-kata kasar.

“Saya memang hanya seorang supir, Bu! Tetapi lidah saya tidak tajam seperti Ibu! Hati-hati kalau bicara, mereka itu anak kecil!”

“Eeeehh pakai ceramah lagi! Saya tidak ada urusan sama Anda! Sekarang pergi!” hardik Bibinya Isa.

Pak Suryo mengurut dada. Dia menggeleng tidak percaya. Tidak kuat meladeni si Bibi kejam dan tak berperasaan. Sepertinya iblis yang sesungguhnya berbicara melalui mulut perempuan itu. Pak Suryo memilih mengalah sebelum syaraf-syaraf di kepalanya pecah karena tidak tahan. Dia lalu menggandeng tangan Amira dan Isa untuk masuk ke dalam mobil.

“Heh! Mau dibawa kemana si Isa?!” seruan bibinya Isa memekakkan telinga, namun pak Suryo tidak mengindahkan seruan itu. Dia tetap menggiring Isa dan Amira masuk ke dalam mobil lalu menancap gas meninggalkan lokasi.

Di dalam mobil, pak Suryo menghela napas dengan perlahan. Mencoba meredakan emosi yang membuncah di dalam dadanya. “Mengerikan. Bagaimana bisa seorang perempuan bersuara lantang dan bersikap kasar terhadap anak kecil.” ujarnya heran sembari menatap Bibinya Isa dari balik kaca depan mobil yang berembun dan terlumuri air hujan. Kemudian mobil itu melaju kencang meninggalkan kediaman Isa dan satu kilometer berselang, Pak Suryo menepikan mobilnya kembali di tepi jalan. Ia turun sebentar, mengambil selimut di jok belakang lalu memberikannya kepada Isa karena bocah laki-laki itu sudah menggigil kedinginan.

Melihat keadaan Isa, air mata Amira kembali banjir berjatuhan. Tulang selangka anak laki-laki itu sampai terlihat jelas karena sering kelaparan. Kemudian Amira mengeluarkan sesuatu dari tas punggungnya. “Makanlah,” katanya sembari mengulurkan kotak bekal makan siang miliknya yang sengaja dia simpan untuk Isa. Sementara Isa masih dalam keadaan menggigil, bibirnya gemetar ketika ingin menyampaikan rasa terima kasihnya pada Amira. Dia menatap Amira sejenak dengan mata berkaca-kaca lalu kembali menunduk dan dengan lirih dia menyampaikan rasa terima kasihnya dari hati yang terdalam.

Amira menangis tersedu. Hidungnya merah dan pipinya basah. Dia terus menangis dan sulit berhenti.

“Kenapa menangis?” tanya Isa dengan suara yang diusahakan terdengar tegar.

“A-aku tidak tahu,” sahutnya sesenggukkan, menggeleng polos.

Isa berkata dengan suara tercekat, “Jangan menangis, Shiba. Lihat mataku, aku tidak menangis.”

Pak Suryo merasakan perih luar biasa di mata dan di hati, ketika matanya memandangi kedua anak yang saling memahami dan menyayangi lewat kaca pengemudi di tengah mobil. Air matanya pun meleleh dan dia buru-buru menghapusnya lalu berusaha menghibur kedua anak itu meskipun dia juga menitikan air mata.

No Sound to This Heart Beat (2)

Senja datang menjemput, langit mulai menampakkan sisi gelapnya. Semburat awan mulai pudar. Tercipta langit kemerahan yang menyapa di depan mata. Isa dan Amira berjalan sedikit jauh melewati bebatuan di sungai sambil bertelanjang kaki. Keduanya lalu duduk saling memunggungi di bebatuan. Mengayunkan kaki menyentuh dinginnya air sungai yang jernih.

“Shiba, kenapa kau mau berteman denganku?” tanya Isa tiba-tiba. “Maksudku, kau orang berada. Bahkan teman-teman di sekolah saja tidak ada yang mau berteman denganku. Memangnya kau tidak merasa malu berteman dengan ‘anak jamur’ sepertiku?”

Amira mengangkat alis. “Anak jamur?” Gadis kecil itu tersenyum tipis lalu menjawab dengan tenang, “Anak jamur yang mana? Apa kau pernah melihatku gatal-gatal ketika dekat denganmu?”

“Hmm…” Isa pura-pura berpikir. “Mungkin,” candanya sambil tertawa.

Amira menanggapi candaan itu dengan cubitan keras di pinggang Isa.

“Aduh! Iya, iya, ampun!” Isa mengaduh kesakitan mengusap-usap pinggangnya.

“Aku melihatmu tidak marah pada mereka yang menghinamu. Dan aku suka. Aku juga senang menghabiskan waktu bersamamu, kau juga kan? Apa ada yang lebih penting dari itu?” lirik Amira ke balik bahu Isa.

Isa tersenyum. Perasaan senang menghangatkan dadanya. Mengalir perlahan, menyembuhkan luka yang telah kering. Kemudian, saat luapan kebahagiaan itu mulai menguasai dirinya, bagian lain dari dirinya berkata sebaliknya. Dia lantas berkata dengan nada murung, “Tapi sepertinya kita tidak akan bisa sering bertemu lagi.”

Amira mengerutkan alis, tidak mengerti. Dia segera merubah posisi duduknya saat itu. Duduk bersila lalu menatap Isa dan bertanya, “Kenapa?”

Seketika itu juga, ekspresi wajah murung Isa menular pada Amira. “Sebentar lagi ujian akhir. Teman-teman sekelasku sibuk membahas sekolah mana yang mereka pilih setelah lulus nanti. Dan kau tahu, aku tidak mampu membayar biaya sekolah untuk masuk SMP nanti. Aku harus bekerja untuk membantu Paman dan Bibiku.”

Mendengar Isa menyebut Paman dan Bibinya, wajah Amira berubah masam. “Aku tidak suka dengan Paman dan Bibimu. Mereka itu jahat! Sewaktu aku datang ke rumahmu, mereka memperlakukanmu dengan sangat kasar.” gerutunya.

Isa tersenyum pahit. “Shiba, mereka memang tidak sebaik Ayahku, tapi hanya mereka keluargaku.”

Amira terdiam. Ucapan Isa saat itu membuat hatinya terenyuh. Dia begitu sedih sampai tidak mampu mengomentari pernyataan Isa.

“Kalau aku mendapatkan beasiswa nanti, aku pasti melanjutkan sekolah. Tapi kalau tidak─” Isa berhenti sejenak memberi jeda, lalu mengalihkan pandangan pada Amira. “Aku terpaksa putus sekolah.”

Kepala Amira tertunduk dalam-dalam. Dia bahkan tidak mampu mengangkat wajahnya sendiri untuk membalas pandangan Isa. Dia mencoba bersikap biasa, namun tidak pandai menyembunyikan matanya yang berkaca-kaca. Dia benci berpisah dengan Isa. Memikirkannya saja sudah menghadirkan lubang kecil di hatinya.

d53c8cd26d85f1eae640b376d64a222ePerlahan Isa menunduk, melepas kalungnya. Satu-satunya pemberian ayahnya sebelum tutup usia. “Ini ambilah,”

Amira mengangkat wajahnya pelan. Sepasang matanya saat itu tertuju pada seuntai kalung bertali hitam yang menggantung dalam genggaman Isa. Gadis itu menyeka air mata yang meleleh.

“Ini milik mendiang ayahku. Batu alam ini diberikan seseorang yang disegani oleh ayah. Hampir setiap hari ayahku menggosoknya supaya mengkilap. Dan karena aku sangat menyukainya, ayah memberikannya padaku. Ambilah,”

Amira meraih kalung bertali hitam itu. Kedua matanya mengamati. Sebuah bandul batu alam berwarna hijau emerald tergantung menghiasinya. “Ini… bagus.”

“Cuma itu satu-satunya milikku yang paling berharga. Dan sekarang aku tahu kepada siapa benda ini harus kuberikan.”

Amira menatap Isa ragu.

“Sekarang benda ini jadi milikmu, Shiba.” Isa menatap Amira dalam-dalam. “Kau sangat baik. Dan aku tidak punya apapun yang bisa kuberikan padamu selain benda ini.”

Amira menggeleng pelan dan kuat “Aku tidak mau menerimanya.” Mengembalikan kalung itu dalam genggaman Isa. “Ini milikmu dan akan selalu jadi milikmu.”

“Tolong jangan ditolak, Shiba. Hari ini aku masih berulangtahun, apa kau lupa?”

Amira mengerutkan kening dengan bingung. “Kalau kau sangat menyukainya, kenapa memberikannya padaku?”

Isa tersenyum meski dia menatap Amira sedih. Sambil memakaikan kalung itu di leher Amira, dia berkata, “Aku ingin kau memiliki sesuatu yang aku suka. Sesuatu yang sangat berarti bagiku.”

Amira menelan ludah. Ia terdiam cukup lama. Hanya menatap Isa lamat-lamat dan air mata menggenang di pelupuk matanya, mengaburkan pandangannya. Dia sama sekali tidak memahami arti serangan nyeri yang menikam dadanya, seolah ditaburi duri-duri tajam yang tanpa belas kasih melukainya. Dadanya sesak melihat Isa menatapnya seperti itu. Apalagi setelah mendengar apa yang dituturkan Isa, luka di hatinya semakin menganga. Entah kenapa ini seperti hadiah perpisahan baginya.

Isa lalu bangkit dari duduknya. Dia berdiri di atas batu besar seraya merentangkan kedua lengannya lebar-lebar. Matanya terpejam, menghela napas dalam-dalam, membiarkan udara sejuk mengisi rongga paru-parunya. Kumpulan gumpalan kusam menutupi matahari. Gelap. Dahinya berkerut kala sebutir air hujan mendarat di wajahnya, lalu disusul butir-butir air yang lain dan tak lama kemudian…

Hujan.

“Wah hujan! Ayo pulang! Nanti orangtuamu mencarimu.” Katanya sembari mengulurkan tangan membantu Amira berdiri.

Amira menyambut uluran tangan itu. Mereka berjalan, menaungi kepala dengan tas masing-masing, menyeberangi arus sungai yang cukup deras dari atas bebatuan. Hujan kian menghantam bumi dengan deras. Desir angin menguat. Awan kelabu yang bergelayut berat tidak berhenti mengirimkan butir-butir air dari langit, seolah diterkam oleh kebutaan. Tidak ada yang bisa didengar kecuali suara sungai yang menggemuruh, menggelegar seperti naga yang mengamuk. Amira melamun. Pikirannya dipenuhi oleh ucapan Isa bahwa setelah lulus sekolah dasar, dia tidak punya kesempatan lagi untuk bertemu. Suasana hatinya berubah seketika menjadi duka. Untuk membayangkan berpisah dengan Isa saja sudah membuat hatinya hancur. Air matanya meleleh bersatu dengan guyuran hujan yang membasahi wajah.

Ketika berjalan melangkahi beberapa batu besar, Isa rupanya menyadari Amira tertinggal di belakangnya, bahwa gadis itu sedang melamun. Dia pun berseru melawan derasnya hujan, menegur gadis itu, “Shiba! Kenapa diam di sana? Ayo! Hati-hati licin! Airnya cukup deras!”

Tiba-tiba saja suara petir menggelegar bersamaan dengan langit yang berkilat membuat Amira tersentak kaget hingga kakinya yang berpijak pada bebatuan, tergelincir. Sontak tubuhnya goyah, kehilangan keseimbangan lalu jatuh dan terhempas ke dalam sungai. Arus deras menyeret tubuh kecilnya tanpa pandang bulu. Beruntung, tubuhnya menyangkut di antara bebatuan. Tangannya gemetar hebat memeluk bebatuan di sana.

“Isa! Tolong!” teriaknya histeris.

Isa terperanjat begitu melihat Amira sudah jatuh dan terseret jauh dari tempat semula keduanya berdiri. “Shi-Shibaaa!!!” teriaknya.

“Isa tolong! Aku takut!” pekik Amira. Serta merta rasa takut melandanya. Air sungai yang dingin menambah tingkat kecemasannya. Sementara Isa melompat dari satu batu ke batu yang lain agar dapat meraih tangan Amira dan mengangkat tubuh gadis itu naik ke atas batu yang kokoh dan besar.

“Ulurkan tanganmu!” teriak Isa. Dia berbaring telungkup di atas batu dan kepayahan mengulurkan tangan.

Amira mencoba menggapai uluran tangan itu. Berusaha sekuat tenaga melepaskan diri dari dorongan air sungai yang menghantam tubuhnya. Namun karena jauh dari jangkauan, hujan yang tak bersahabat, usaha keduanya bagai menentang matahari. Kepanikan semakin mendekap keduanya.

Isa masih berusaha sekuat tenaga menyelamatkan Amira. Matanya kalut memandang ke segala arah mencari kayu panjang atau apapun yang bisa dia gunakan untuk menyelamatkan Amira. Kepanikan luar biasa semakin membelenggu dirinya saat dia tidak menemukan benda yang cukup kuat untuk memberikan pegangan buat Amira. Tubuh gadis itu masih tersangkut di sana, di antara bebatuan.

Isa tidak kehabisan akal. Satu-satunya cara untuk menyelamatkan Amira hanya dengan menceburkan dirinya ke dalam air. “Shiba, aku akan turun!” serunya bersungguh-sungguh.

Amira terbelalak mendengarnya. Dia menangis sejadi-jadinya. “Isa! Isa! Kau tidak bisa berenang!” balasnya mengingatkan. Dia tidak sanggup menghentikan aliran air matanya yang jatuh deras seperti air bah. Rasanya perih dan dia menggigil. Air mata itu terus berjatuhan seolah tak akan pernah ada habisnya. Menetes hangat dan membeku seketika. Dan semakin banyak jumlahnya melihat Isa enggan menurutinya.

8a79e331cf284c96fe9925b70e542127Isa menghirup napas dalam-dalam, “Tuhan, lindungi aku.” katanya gemetar, menatap langit, sang Pemberi hujan. Perlahan-lahan, dia menurunkan kedua kakinya ke dalam air. Dingin. Debar jantungnya bergemuruh kian hebat. Raut wajahnya mengatakan bahwa dia sangat takut tenggelam namun dia melawan rasa itu. Air sungai itu merendam tubuhnya setinggi leher. Dia melangkah dengan sangat hati-hati karena dasar sungai tidak sama rata. Setelah melewati dua menit yang menegangkan dalam hidupnya yang bahkan terasa lebih lama dari itu, dia sudah hampir dekat dengan Amira kemudian berkata dengan gugup, “Jangan takut. Aku bisa menolongmu!”

Tangis Amira pecah. Bibirnya membiru. Kaki dan tangannya gemetar, menggigil kedinginan. Wajahnya semakin pucat.

“Lihat, aku sudah memegangmu. Jalan hati-hati ke arah batu itu.” tunjuk Isa pada sebuah batu besar dan kokoh di dekat pinggir sungai. “Ingat! Hati-hati!” serunya kembali memperingatkan karena batu yang menahan Amira tidak cukup kuat menopang tubuh gadis itu lama-lama.

Amira menggeleng kuat-kuat. Ketakutan luar biasa menyerang pikirannya. Dia merasa tidak akan sanggup menggapai batu itu. Kakinya terlalu kaku untuk digerakkan, namun Isa memberinya kekuatan untuk melangkah.

“Kau bisa, Shiba! Kau bisa!”

Isa tidak melepaskan pandangan dari Amira sampai gadis bertubuh mungil itu berhasil naik ke atas batu yang besar dan kokoh. Sesaat setelah di atasnya, tubuh Amira meringkuk kedinginan. Dia menoleh ke arah Isa lalu mengulurkan sebelah tangan padanya dengan gemetar, “Ayo, Isa! Sedikit lagi!”

Isa mendekap tubuhnya sendiri yang menggigil kedinginan. Wajahnya telah pucat tak berwarna. Bibirnya membiru. Berusaha bertahan melawan dorongan arus dan dinginnya air. Namun kakinya tidak sengaja menginjak pecahan botol kaca hingga kulitnya sobek. Dia merasakan sakit yang luar biasa di bagian kaki yang tanpa disadari telah mengeluarkan banyak darah. Meski begitu, dia tetap berusaha menjaga keseimbangan tubuhnya. Detik berikutnya dia terjatuh dan tenggelam ke dalam air. Untuk beberapa detik, tubuhnya tidak muncul ke permukaan. Meluapkan perasaan cemas yang menyakitkan dalam diri Amira. Gadis itu berteriak memanggil namanya. Matanya mencari-cari. Namun tak ada jawaban. Tak ada pergerakan dari dalam air.

Beberapa detik kemudian, Isa kembali muncul ke permukaan air. Terbatuk-batuk menggapai udara. Amira menghembuskan napas dengan lega. Anak laki-laki itu mencoba sekali lagi bangkit dari air deras yang menjeratnya, seolah air itu bernyawa dan hendak membawanya pergi mengikuti arus. Malangnya, luka di kakinya tak cukup kuat untuk membuatnya melangkah. Kalah dengan arus sungai yang semakin kuat menyeretnya sehingga dengan mudah tubuh kurusnya terdorong. Bocah laki-laki itu hanyut terseret arus sungai. Berteriak histeris memanggil satu nama.

“Shibaaa!!!”

“Isaaa!!!” Amira berteriak memanggil nama Isa kuat-kuat sampai tenggorokannya terasa sakit. Semua oksigen yang ada di sekitarnya tiba-tiba lenyap dan membuatnya tidak bisa bernapas. Tubuhnya seperti kapas, melayang ringan tanpa arah. Tangannya mencoba menggapainya, tetapi tidak mendapatkan apapun melainkan udara kosong. Matanya merah, perih terbakar. Bibirnya gemetar. Air matanya deras berjatuhan. Tubuhnya roboh seakan seluruh tenaganya terserap habis, hanyut bersama Isa. Matanya terbelalak tidak percaya saat Isa sudah tidak terlihat lagi dari pandangannya. Gadis kecil itu terdiam mematung.

Sejurus kemudian, pak Suryo -supir pribadi Amira- menemukan Amira sedang duduk dengan wajah terbenam di antara lutut. Bahunya bergetar hebat. Dia menangis sesenggukan di atas bebatuan besar dengan sekujur tubuh membeku kedinginan. Air matanya tidak berhenti mengalir membasahi pipi. Bibirnya berkali-kali menyebut nama Isa.

Setelah dua jam mencari, jasad Isa belum juga ditemukan bahkan puluhan warga ikut mencari, menyelam, menyusuri sungai dengan bantuan tim SAR. Dan tak berapa lama kemudian, salah satu anggota tim SAR menemukan tas anak kecil terdampar, dia berjalan mendekati tas itu dan tak berapa jauh dari sana, jasad Isa ditemukan. Isa sudah terbujur kaku dan tak bernyawa. Anak laki-laki itu diyakini tewas pada hari kelahirannya yang ke dua belas tahun.

No Sound to This Heart Beat

10 April 1992.

1d98c585da330016f2962d196b6b3c00.jpgPohon-pohon besar itu berjejer gagah layaknya tentara. Batang-batang kokoh dengan lebatnya pucuk-pucuk berwarna hijau dedaunan seolah memayungi Isa dan Amira dari panasnya matahari. Mereka berjalan di atas jalan setapak selama beberapa waktu. Suara gemericik air yang membelah bebatuan sungai dan airnya mengalir ke hilir nyata terdengar.

“Bagaimana kau bisa ingat hari ini hari ulang tahunku?” kata Isa takjub.

Amira tersenyum dan berujar dengan bangga, “Itu gunanya aku. Mengingatkan hari-hari bahagiamu.”

Mendengarnya, sebentuk lesung pipit terbit di kedua pipi Isa. “Aku tidak percaya kalau kau lebih mengenalku daripada diriku sendiri.” Ujarnya sangsi bernada menggoda.

“Uji saja aku.” tantang Amira tak mau kalah.

Kemudian Isa menarik napas, menyilangkan kedua lengannya di dada. Memicingkan mata, berpikir-pikir, bersiap mengajukan pertanyaan. Namun sebelum dia bertanya, Amira telah mendahuluinya dengan berkata,

“Kau tidak suka makan pakai sendok. Kau mencampur roti dengan telur, bukan dengan selai. Kau tidak suka minum air dingin.” Isa berjalan tersenyum mengikuti langkah lebar Amira. Suara Amira berceloteh riang bagaikan musik di telinganya. “Oh ya, kau suka dengan warna-warna netral seperti hitam dan putih. Kau suka minum teh tawar. Tidak suka makan ikan, tetapi suka sekali dengan bakso. Kau bahkan tidak bisa berenang dan takut pada ketinggian. Kau─”

“Lalu-apa yang paling kusuka?” potong Isa cepat. Ia menghentikan langkahnya sembari menunggu jawaban Amira.

“Hmmm…” gumam Amira, ia memutar tubuh menghadap Isa dan berpikir agak lama. Bola matanya berputar-putar mencari jawaban. “Kulit risol! Kau membuang isinya, cuma makan kulitnya saja.”

Isa tersenyum tipis. Ada lesung pipit yang kian mempertegas manis wajahnya. “Ya, aku memang suka kulit risol. Tapi─ada sesuatu yang lebih aku suka daripada itu.”

Amira terpaku dengan mata melebar. “Apa?”

Menatap mata coklat cerah yang terbelalak di depannya, Isa kembali mengulas senyum. Menyimpan jawaban untuk dirinya sendiri. “Hari ini kita mau gambar apa?” tanyanya sembari menanggalkan sepatu lalu berjalan dengan kaki telanjang di atas hamparan rumput hijau yang luas layaknya permadani.

“Hari ini kita menggambar sesuatu yang paling kita suka.” usul Amira.

Isa tersenyum dan mengangguk-angguk. Tidak jauh dari sana, tampak sebuah pohon besar bercabang banyak dan rimbun dedaunannya bergerak pelan karena ditiup angin, bagaikan atap hijau yang menawarkan perlindungan. Di dekatnya, pemandangan air sungai yang mengalir dan menimbulkan bunyi gemericik sudah menanti. “Kita duduk di sana.” Isa menunjuk pohon besar itu lalu berjalan mendekati pohon. Dia menjatuhkan tas punggungnya di kaki pohon. Membuang napas, bertolak pinggang sambil menengadahkan wajah menatap ranting-ranting pohon di atasnya. “Pohon ini tempat burung-burung berkumpul untuk bernyanyi. Kau harus lihat, Shiba.” Dengan penuh semangat, dia mengibaskan tangannya, mengajak Amira berdiri di dekatnya, mengikuti arah pandangnya.

Seulas senyum mengembang di wajah Amira, gadis itu memandang takjub. Matanya yang bulat berbinar-binar beralih dari burung-burung di ranting pohon ke wajah Isa lalu kembali menatap burung-burung di sana. Ada banyak sekali burung yang berkumpul di ranting-ranting pohon. Ada yang besar, ada pula yang kecil. Lincah berpindah-pindah. Mereka semua bersuara merdu. Bernyanyi-nyanyi riang.

Lalu, setengah jam berlalu dengan tenang. Begitu hening. Hanya terdengar suara angin berdesir pelan mengisi kekosongan di antara mereka. Isa lebih dulu menyelesaikan gambarnya. Dia merangkak pelan tanpa menimbulkan suara, berusaha melirik kertas gambar Amira. Amira mengangkat wajah dari kertas yang dia pegang dan terkesiap kaget. Cepat-cepat dia menutupi gambarnya, berbalik memunggungi Isa.

Isa menanggapinya dengan seulas senyum.

Beberapa saat kemudian, Amira berbalik menghadap Isa. “Yak, sudah selesai!” serunya tersenyum puas. “Tunjukkan gambarmu.”

Isa menipiskan bibir, menggeleng. “Enak saja. Kau dulu.”

“Ya sudah, aku hitung sampai tiga dan kita saling bertukar. Kau setuju?” Usul Amira seraya mengarahkan ujung pensilnya ke wajah Isa.

“Siapa takut.” sahut Isa mantap.

Di akhir hitungan ketiga, keduanya bertukar kertas gambar. Amira memegang kertas gambar itu dan melihatnya secara mendalam beberapa saat. Sepasang matanya berbinar dan senyumnya perlahan melebar. Wajahnya berseri memancarkan rona yang menyiratkan kekaguman. Rasa haru seketika menyelinap di hatinya. Memandangi kertas gambar di tangannya dengan hati bergetar.

“Waaah…!” reaksinya takjub. Wajahnya menghangat.

Isa menunduk tersipu dan berkata, “Kau suka?”

Amira mengangkat wajah, menatap Isa sejenak lalu mengangguk-angguk dengan perasaan senang.

“Kalau kau suka, simpan saja,” kata Isa, lalu dia kembali mengamati kertas gambar Amira di tangannya. “Tapi Shiba… hidungku kan tidak sebesar ini.” protes Isa membalik hasil lukisan Amira dengan telunjuk mengarah ke bagian hidung pada gambar tersebut. “Dan mataku, kau membuatnya seperti kelereng.” ejeknya sambil tertawa.

Amira melotot, menendang kaki Isa kesal. “Aku memuji gambarmu, tapi kau malah meledek gambarku.” balasnya dengan wajah memberengut.

Isa tergelak menatap wajah Amira yang bersungut-sungut. Gadis itu memiliki energi yang mampu melenyapkan segala duka yang bersarang di hatinya. Alis Amira yang tebal alami, begitu rapi menyempurnakan kelopak matanya. Bagian putih dari bola matanya tampak jernih seputih susu. Hidungnya mancung dan ramping serta lekuk bibirnya mungil. Jika dia tertawa akan tampak deretan gigi yang rata dan putih. Tawanya membuat alam semesta memuji. Raut wajahnya memang sempurna, bagai pahatan dewi surga. Wajah cantik Amira memang berbeda dengan teman-teman di sekolah. Dia memiliki wajah campuran. Ayahnya adalah seorang pria berdarah Kashmir, sedangkan ibunya asli pribumi.

When Time Doesn’t Heal All Wounds (3)

Amira berjalan pelan menuju apartemennya di Prince’s Square. Menarik napas dalam-dalam dan melakukannya berulang kali. Sesak memenuhi rongga dadanya, membuatnya sulit untuk bernapas. Aku baik-baik saja…ya, aku baik-baik saja, katanya pada diri sendiri.

d1db8cc9dac35d1b9aeafca46e9232c7Adalah perasaan pedih seperti cawan perak yang patuh tertimpa besi panas ketika mengenang masa-masa kecilnya. Dadanya selalu terasa berat. Semuanya tampak gelap seolah tidak ada cahaya untuk menemukan jalan keluar. Pikirannya kosong dan bernapas pun menyisakan pedih. Seperti ruh yang memutuskan pergi meninggalkan tubuh yang tak lagi bersemi.

Tiga tahun yang lalu, Amira sempat dilarikan ke rumah sakit karena kecelakaan lalu lintas akibat kecerobohannya. Kelakuan gadis itu seolah bermain dengan maut. Menawarkan diri pada malaikat untuk mencabut nyawanya. Sekilas gadis itu terlihat normal seperti yang lainnya, namun bila dilihat lebih dekat, matanya seperti menjerit minta tolong.

Orangtuanya selalu mencemaskannya, selalu khawatir dengan pilihannya untuk menetap seorang diri di London. Namun Amira bersikeras ingin tetap tinggal di London demi melupakan masa lalunya. Dan tak ada seorang pun yang bisa melarangnya. Oleh karena itu, orangtuanya mempercayakan Annaya sebagai mata kanan dan kiri mereka. Mereka selalu menanyakan perkembangan Amira kepada Annaya. Mereka juga berpesan, agar sebisa mungkin menjaga suasana hati Amira tetap positif.

Pintu nomor 204 itu terbuka. Tampak ruang tengah remang-remang karena tirai jendela belum dibuka. Amira masuk dan menutup pintu hingga menimbulkan suara yang membangunkan Annaya.

“I’m home!” serunya seraya melongokkan kepala ke arah kamar tidur Annaya. “Wake up, sleepyhead!” Amira meletakkan kunci di atas meja makan lalu membuka tirai jendela lebar-lebar.

Anna, begitu panggilan Annaya. Terbangun dengan kepala pusing dan badan kaku. Hal pertama yang disadarinya adalah keadaan kamarnya yang remang-remang. Tirai jendela kamarnya masih tertutup rapat. Cahaya matahari menjadi terhalang karena tertutup tirai. Dia memaksa dirinya bangun dan duduk di tepi tempat tidur.

“Annaya!”

“Ya, kenapa teriak-teriak? Aku belum tuli.” Anna mendapati dirinya bersuara. Dia duduk di tepi tempat tidurnya dengan rambut berombak tak beraturan.

Amira menyodorkan amplop putih yang diambilnya dari kotak surat kepada Anna.

“Apa ini?” tanya Anna sembari menatap amplop putih yang disodorkan padanya.

“Cuci muka dulu. Baru kau tahu itu apa.” jawab Amira tersenyum tipis lalu bergegas keluar dari kamar Anna.

Anna melihat Amira sudah keluar dari kamarnya. Dia mengusap wajah dengan kedua tangan untuk menyadarkan diri. Lalu perlahan bangkit dan menyeret kakinya untuk membuka tirai jendela kamar. Dia meraih kacamata di atas meja dekat tempat tidurnya. Matanya menangkap sebuah amplop putih. Dia meraba amplop tersebut yang kelihatan tebal lalu merobek dan mengeluarkan isinya. “Foto??” Matanya melebar kaget. Di tangannya terdapat selusin foto-foto close up pria. Dan secarik kertas kecil yang terjepit di atas tumpukan foto tersebut menarik perhatiannya.

Ini foto-foto para pria lajang yang bersedia dijodohkan denganmu. Bagaimana? Mereka tampan, bukan? Sampai kapan kau akan melajang, nak? Mama merindukan cucu darimu. Seorang anak yang memiliki wajah yang mirip denganmu. Apa itu salah? Untuk kali ini tolong jangan membantah kalau tidak ingin Mama berangkat ke sana menjemputmu.

Anna memejamkan matanya rapat-rapat, mengetuk-ngetuk keningnya dengan lusinan foto di tangannya. Dia menggeleng tidak percaya lalu tertawa garing, “Mama pasti bercanda.”

Sekali lagi dia menoleh ke arah pintu. Memastikan gadis yang berbagi apartemen dengannya tidak sedang berada di dekat kamarnya. Amira tidak boleh melihat ini. Segera dia masukan kembali foto-foto tidak penting itu ke dalam amplop dan menyimpannya di laci terkunci.