Review Ilana Tan : In a Blue Moon

25053346In a Blue Moon. Pertama kali aku beli buku ini pada bulan Maret 2015 lalu dan baru berhasil diselesaikan lima bulan setelahnya. Hahaha… Luar binasa bukan? Ckckck. (Udah lama, bangga pulak) Eits, bacanya lama bukan karena ceritanya jelek atau engga menarik lho, melainkan karena mataku ini yang engga bisa kompromi lihat tulisan rapat-rapat bermenit-menit. Wekekekek.

Seperti karya Ilana Tan sebelumnya yang sudah aku baca. Ilana berhasil membuatku jatuh hati dengan tokoh laki-laki bernama Lucas Ford. Oh my goodness! he’s really sweet and gentleman. But… seperti kebanyakan laki-laki pada umumnya, Lucas kurang tegas dalam meluruskan hubungan. Tapi pada akhirnya, cintanya kepada Sophie lah yang membuat Lucas berubah. Emang ya, laki-laki itu harus benar-benar jatuh hati sama perempuan baru bisa berkomitmen. Dan Sophie berhasil membuat Lucas berubah.

Lucas terlambat menyadari bahwa dia sudah jatuh hati pada Sophie sejak pertama kali melihat gadis itu. Kadar benci Sophie buatku porsinya pas. Engga berlebihan dan engga nanggung juga. Dan sifat Lucas yang ingin menunjukkan kepada Sophie bahwa dia bukan lagi remaja bodoh seperti yang dikenal Sophie sepuluh tahun yang lalu benar-benar membuat Sophie luluh. Bagaimana engga? Lucas engga memaksa gadis itu untuk memaafkannya, melainkan meminta gadis itu memberikan kesempatan kepada Sophie agar mengenal Lucas lebih dekat.

Well, ide ceritanya menurutku simple. Engga ada konflik yang rumit namun tetap dikemas dengan manis dan menarik untuk disimak sampai novel berakhir. Novel ini sukses membuat aku berdebar seperti yang dialami oleh Sophie ketika bertemu Lucas. Ilana sekali lagi berhasil mendeskripsikan perasaan dua tokoh yang saling menyukai ini dengan apik. Bahasanya simple dan mudah dicerna. (makanan keles) Seperti novel sebelumnya.

Sunshine Becomes You.

Point untuk novel ini adalah 8. Dari skala 1-10.

Ketika Kepercayaan Hanya Sepenggal Kata (3)

14b525092c5b13e1e67a7376da28d74bMalaika Zara melangkah menuju kamar sembari mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk. Ia duduk di depan meja rias. Menyisir rambutnya yang basah sembari menghadap cermin. Sejenak gerakan tangannya terhenti. Ia termenung menatap bias dirinya di cermin. Wajah itu. Wajah itu mengingatkannya pada Papa. Rupanya buah bibir orang-orang tentang dirinya bukanlah omong kosong belaka. Ia sangat mirip dengan Papa. Membuatnya mengutuk wajah itu. Wajah yang sangat mirip dengan laki-laki yang meninggalkannya, Mama dan Ezi, adik laki-lakinya. Desakan butiran air mata mulai terasa perih menusuk. Mengembang di pelupuk matanya.

Zara memalingkan wajah dari cermin. Ia mengejapkan mata, menggeleng dan menghapus air matanya yang tidak terasa sudah jatuh bergulir membasahi pipi. Ia menarik napas dalam-dalam kemudian menghembuskannya dengan pelan untuk menenangkan diri. Dan berharap bisa mengubur dalam-dalam kenangan menyedihkan tentang Papa, karena itu membuatnya frustasi.

Zara…

Suara berat Papa menggema di telinganya. Seperti mimpi buruk yang tanpa jemu menyapa. Cepat-cepat ia menutup telinganya dan meyakinkan bahwa suara itu tidak benar-benar nyata.

Dua tahun yang lalu, seorang perempuan bernama Rena datang membawa berita yang akan menghancurkan hati para wanita di belahan dunia mana pun.

Aya -ibu kandung Zara- dan Rena, keduanya memiliki hubungan dekat seperti layaknya saudari perempuan. Meskipun usia keduanya terpaut cukup jauh, yaitu enam tahun, namun Aya sudah menganggap Rena seperti adik kandungnya sendiri. Rena bekerja di perusahaan yang sama dengan Adi, ayah kandung Zara. Aya lah yang membantu Rena untuk dapat bekerja di perusahaan tempat Adi bekerja. Seperti layaknya saudari perempuan, Aya  juga mempercayakan segalanya kepada Rena. Begitu pun sebaliknya.

Lima bulan terakhir, Rena selalu mencari alasan untuk tidak bertemu. Ponselnya sering kali mati ketika Aya menghubunginya. Rena hanya sesekali menjawab telepon dan membalas pesan singkat dari Aya. Aya pun sudah berusaha mencari tahu masalah apa yang sedang menimpa sahabatnya hingga ia selalu punya alasan untuk tidak bertemu. Hal pertama yang mengejutkannya adalah ketika Rena mengundurkan diri secara tiba-tiba dari tempatnya bekerja. Tidak biasanya Rena mengambil keputusan tanpa meminta pendapat Aya terlebih dahulu. Sejak itu, Aya sangat yakin Rena sedang dalam masalah.

Hingga hari itu tiba, pertanyaan-pertanyaan yang selama ini mengganjal dalam benak Aya terjawab sudah. Ketika kepercayaan hanya sepenggal kata.

“Aya,” panggil Rena putus asa dan berderai air mata. Perempuan itu langsung memeluk Aya ketika pintu berderit terbuka. Aya berdiri di ambang pintu menatap wajah Rena yang pucat. Seperti ketakutan setengah mati.

“Rena? Ke-kenapa Ren?” tanya Aya khawatir. Ia terkejut mendapati Rena yang datang tiba-tiba ke rumah setelah lima bulan tak menampakkan diri. Hari sudah gelap. Hujan pun turun deras.

Belum selesai kerutan di dahi Aya mengendur, ia sudah kembali dikejutkan dengan sesuatu yang menyentuh perutnya ketika mereka berpelukan. Segera Aya melepaskan pelukannya perlahan, memberi jarak di antara mereka dengan kedua tangan menahan bahu Rena. Ia memperhatikan perut Rena yang membuncit. Sementara Rena belum menikah.

“Ke… kenapa dengan perutmu, Ren?” tanya Aya terbata-bata. Matanya terbelalak tidak percaya ketika melihat perubahan di tubuh Rena. Ia masih belum mempercayai indera penglihatannya. Ia sangat berharap tidak terjadi hal buruk yang menimpa Rena.

Apa Rena terkena kanker atau penyakit ganas semacamnya?

Rena menangis sejadi-jadinya. Membuat wajah Aya semakin larut dalam tanda tanya. Dengan lembut, Aya membenarkan rambut Rena yang tampak awut-awutan. Jemarinya mengusap lembut wajah Rena yang basah oleh air mata. Rena pun berupaya meredakan tangisnya. Dan dengan suara tercekat ia berkata,

“A… aku hamil,”

Deg! Aya tercengang. Ia berharap telinganya salah mendengar. Pantas saja beberapa bulan ini, Rena sulit dihubungi. Tubuh Aya seketika bergetar hebat. Rasa panik mulai menyerang dirinya. “Siapa? Siapa yang menghamilimu?” desaknya sembari mengguncangkan bahu Rena. Kali ini suara Aya terdengar lantang sekaligus panik. Tangannya pun mulai mencengkram erat bahu Rena. Meminta Rena untuk berhenti menangis dan menceritakan kejadian sebenarnya.

Rena terus meneteskan air mata yang tak terhitung jumlahnya. Ia berharap Aya akan simpati padanya. Kepalanya pun kian tertunduk. Dengan suara tercekik, bibir yang bergetar, perempuan itu menjawab,

“A… Adi,”

Bak mendengar petir yang menyambar rumahnya, Aya kehilangan kata-kata. Ia tercengang dan nyaris jatuh dalam keterkejutannya. Matanya mulai memanas. Udara pun seakan menyusut. Seperti ada sesuatu yang dingin dan tajam menerjang ulu hatinya. Rena lalu menangis sejadi-jadinya. Suara tangisnya terdengar pilu di telinga Aya. Begitu menyiksa dan menyakitkan.

Mungkin jika kau terkena kanker atau penyakit ganas lainnya, itu akan lebih baik daripada harus mendengar kau hamil karena suamiku!

“Plaaakkk!!” tamparan keras mendarat di pipi Rena. Wajahnya pun memerah panas. Zara melihat kejadian mencengangkan itu dari lantai atas. Sementara adiknya sudah terlelap di kamar. Ia terhenyak. Seketika tangannya yang sedang berpegangan pada pembatas lantai, gemetar.

“Jangan fitnah, Ren!!” seru Aya dengan suara bergetar menahan kesedihan dan kemarahan yang teramat sangat. Rasa panik bercampur aduk dengan murka, benci dan amarah.

“Aku tidak fitnah!” seru Rena seraya memegang pipinya yang masih merah. “Kalau kau tidak percaya, tanyakan saja Adi! Dia yang melakukannya!”

“Diam kau!” pekik Aya frustasi. Ia tidak lagi ingin mendengar ucapan Rena yang semakin membuat hatinya tercabik-cabik.

Perempuan berbadan dua itu pun rela berlutut di depan Aya. Ia bingung dan tidak tahu lagi harus berbuat apa. Ia mulai depresi. Dengan kedua tangan memegang lutut Aya, ia memohon. “Tolong bujuk suamimu, agar dia mau menikah denganku…”

“Hah?!,” Aya terheran-heran, lalu menatap Rena bengis. Ia menelan ludahnya dengan susah payah. “Tega sekali kau…” air matanya kini meleleh. Wajahnya memerah penuh amarah. “Apa kau sudah tidak punya malu?! Jangan fitnah orang sembarangan!” ia meraung marah. Emosinya kembali meledak dan melayangkan pukulan keras ke kepala Rena hingga membuat Zara tersentak kaget. Ibu yang dikenalnya pandai menahan emosi, kini bertindak seperti wanita yang tidak dikenal.

“Aya!!!” teriakan Adi memekakkan telinga semua yang berada di sana. Matanya melotot seolah ingin meloncat keluar.

“Plaaakkk!!!” Adi sontak menampar Aya hingga bibirnya berdarah. “Dia sedang hamil, apa kau sudah gila?!” bentaknya seolah membela Rena.

Kata-kata Adi barusan seakan menjadi vonis cerai untuk Aya. Butiran panas bergulir di pipi Aya tanpa suara. Ia kecewa, sangat kecewa hingga tangannya gemetar. Air mata Zara mulai deras berjatuhan. Gadis itu segera masuk ke kamar. Mengunci pintu rapat-rapat dan meneteskan air mata dalam keheningan.

Aya menatap Adi sedih. Ia melihat darah keluar dari pangkal bibirnya karena tamparan suaminya cukup keras. Wajahnya menjadi pucat. Kakinya mendadak keram dan tubuhnya terjatuh lemas ke lantai. “Pergi…” ujarnya pelan dengan suara bergetar tanpa memandang Adi, suaminya. Air matanya pun merebak.

Sementara Adi masih belum berkedip setelah menampar istrinya. Jantungnya seakan berhenti berdetak. Rena pun ikut terdiam. Suasana sempat hening beberapa saat. “Aya, maaf…” ujar Adi menyesali perbuatannya. Ia mendekati Aya dan mengulurkan tangan untuk membantu Aya berdiri, namun Aya dengan jijik menepisnya.

“Pergi! Kalian menjijikkan!” tepis Aya seraya mengusap air matanya dengan kasar. Ia mendelik, menatap suaminya yang tertunduk, tidak berani balas menatapnya.

Adi mematung. Ia tidak mampu berkata-kata. Kakinya pun mundur selangkah. Tidak terbesit sedikitpun dalam benaknya akan berakhir begini. Adi langsung menarik tangan Rena. Menyeretnya untuk pergi sebelum semuanya menjadi semakin parah.

“Aya, maaf…” ujar Rena menyesal sambil berjalan sempoyongan di belakang Adi. Sekalipun Adi tidak menoleh kembali untuk melihat keterpurukan Aya. Ia terus menarik tangan Rena. Pergi meninggalkan Aya tanpa penjelasan.

“Terkutuk kalian!!!” Aya menjambak rambutnya frustasi sebelum Adi dan Rena benar-benar keluar dari rumah. Ia lalu bangkit dari keterpurukannya kemudian membanting pintu. Hatinya begitu pedih tak terperi bagai dihujani ribuan jarum. Ia masih terisak ketika menyandar lemah di pintu. Wanita itu butuh beberapa saat untuk menghentikan tangisannya sebelum akhirnya menyeret kedua kakinya yang lemas masuk ke dalam kamar.

Dan semenjak peristiwa itu, pasangan suami istri itu tidak pernah bertemu lagi. Tidak ada kabar apapun, seolah Rena dan Adi sudah mati.

Pengantar Sebelum Tidur

Kepada ide-ide liar yang setelah sekian lama tertanam di otak dan hanya dapat dituangkan dalam bentuk tulisan. Mungkin bagi sebagian orang berpikir bahwa film India itu kampungan, durasinya lama, cerita monoton dan bahkan norak. Maybe, sebagian dari mereka memang benar, tapi tidak semuanya benar. Banyak sutradara perfilman Bollywood yang kualitasnnya setara dengan film Hollywood mulai dari segi cerita tentunya.

Apa sih yang membuat aku suka dengan perfilman Bollywood? Well, banyak tentunya. Bermula dari nenek ku yang memperkenalkan film India pada tahun 1998. Sudah banyak yang tahu tentunya film India yang sedang meledak pada masa itu. Film perdana yang disutradarai oleh sutradara yang belum berpengalaman pada masa itu. Karan Johar.

Setelah menonton film itu di usia yang masih sangat belia, tentunya merubah mindset-ku tentang film India. Asalkan kita pintar dalam memilih tontonan. Toh sutradara film Indonesia dan di belahan dunia manapun pasti ada yang bagus dan ada juga yang jelek. Karan Johar sukses merubah pandangan orangorang awam sepertiku bahwa film India tidak melulu tentang perebutan harta, perjodohan maupun perkelahian yang tiada habisnya.

Ada beberapa hal dalam perfilman Bollywood yang tidak aku temukan dalam perfilman lain, seperti :

Bernyanyi ;
Kenapa ya harus ada adegan bernyanyi di sela-sela adegan? Konon katanya, hal ini dipengaruhi oleh perfilman Persia. Aku juga tidak mau menyangkal bahwa terkadang adegan bernyanyi ini memang kelewat berlebihan. Tapi… Tidak semua berlebihan kok, selama kita selektif dalam memilih tontonan film. Kalau dulunya perfilman Bollywood seringkali bernyanyi di setiap adegan baik itu senang maupun sedih, film Bollywood masa kini tidak selalu bernyanyi, malah terkadang hanya sebagai backsound saja. Piku, NH-10 dan Kahaani, misalnya. Di film ini meskipun banyak terdapat adegan sedih, namun aktor dan aktris utamanya sama sekali tidak menyanyi di film ini.

Menari ;
Menari pun sama seperti menyanyi. Tidak semua tarian dalam film India membuat penonton pegal mata lho. Malah banyak juga yang membuat film itu begitu ekspresif. Seperti All Izz Well dalam film 3 Idiots. Jika dalam film tersebut, tidak ada lagu All Izz Weel, tentunya film tersebut tidak akan lengkap.

Efek dramatis ketika Heer bertemu Randjha-nya.
Wah yang satu ini adalah bagian yang paling aku suka. Hahaha. Setiap adegan ini akan ada angin yang mengibaskan rambut sang Heroine ketika bertemu Hero-nya. Begitupun sebaliknya. Akan ada melodi singkat sebagai pengiring adegan tersebut. Seperti dalam film I Hate Luv Story. Saat-saat pertama kali Soonam Kapoor melangkah turun di tangga bioskop dan Imran Khan menatapnya terkesima. Something you would never find in Hollywood movies and others.

Lokasi syuting yang luar biasa indah,
Kata mereka-Bollywood Haters film India selalu identik dengan pohon dan hujan. Wkwkwk. Well, they absolutely right! But… Itu duluuu. Sekarang mayoritas perfilman Bollywood tidak lagi menggunakan pohon sebagai latar tarian dan nyanyian, melainkan sudut-sudut kota yang menawan dan membuat mata disajikan oleh keindahan suatu negara.

Jab Tak Hai Jaan, misalnya. Film ini bertanggungjawab atas timbulnya rasa kekagumanku terhadap London. View London yang disajikan di film ini sangat indah!

jab-tak-hai-jaan-movie-poster-30

Kal Ho Na Ho dengan Manhattan-nya.

44af2-kalhonaaho

3 Idiots dengan Ladakh-nya.

Sekian dulu ocehanku di sini sebagai pengantar sebelum tidur.

Thank you, readers.

Menunggu dengan Bosan (2)

a1137e5c12541c3b8af9bac89b629bc3Zara menunggu di kantin dengan bosan. Mengaduk-aduk teh manis di dalam gelas dengan pandangan kosong. Ia sudah cukup lama menunggu di sana. Makanannya pun sudah dingin.

Ponselnya bergetar dua kali. Ada pesan masuk. Zara mengerutkan dahi begitu melihat isi pesan dari Raya. Raya adalah satu-satunya teman dekat Zara di kampus. Keduanya mengambil jurusan Manajemen Keuangan di salah satu universitas swasta ternama di Indonesia.

Sebagai anak sulung di keluarganya, Zara tidak terlalu terbuka dengan siapapun. Gadis itu lebih suka menyendiri dan tidak pandai bergaul. Sebaliknya dengan Raya, gadis itu mudah beradaptasi dengan lingkungan sekitar. Ia ceria dan bersemangat dalam segala hal.

Dimana? Masih di kantin? Sebentar lagi gue keluar. Dosennya tadi datang telat, jadi ngambil jatah jam makan siang gue deh. 

Zara menghembuskan napas panjang usai membaca pesan singkat dari Raya, lalu kembali meletakkan ponselnya di atas meja tanpa berniat membalasnya. Zara kembali menatap kosong Dim Sum di depannya. Selera makannya pun menguap begitu saja. Ia duduk sembari bertopang dagu, jari-jarinya menari-nari pelan di atas meja. Kembali gadis itu merenung.

“Brakkk!” tiba-tiba suara nampan terdengar nyaring menyentak meja. Membuat gelembung-gelembung lamunan Zara meletus seketika. Zara terkesiap kaget. Matanya terbelalak menatap pria dengan rambut hitam pendek berduri-duri seperti landak sudah duduk tenang di depannya.

Dafa Yahuza. Zara menghembuskan napas lega dan berkata, “Ya ampun, kak. Ngagetin aja.”

Dafa mendecakkan lidah sembari menggeleng-gelengkan kepala keheranan. Laki-laki itu membumbui kuah bakso dengan lada dan berkata tak acuh tanpa melirik Zara sedikitpun, “Otakmu itu mikir apa? Salahmu sendiri melamun.”

Zara terdiam. Ia malas berkomentar. Detik-detik pun berlalu dengan hening.  Tak ada percakapan mengudara di antara keduanya. Hanya terdengar suara-suara bising keramaian orang di sekitar yang berbicara tumpang tindih. Suasana canggung itu membuat posisi duduk Zara tanpa sadar menyerong. Sesekali bola mata gadis itu bergerak ke samping, mengamati laki-laki di depannya melalui ekor matanya. Dafa memasang ekspresi tak terbaca. Untuk beberapa detik, tanpa sadar Zara menikmati pemandangan itu. Hidung Dafa yang mancung, alisnya yang tebal dan tegas, kulit wajahnya yang bersih dan kecokelatan, jakunnya yang bergerak naik turun serta rambut hitamnya yang berduri-duri seperti landak membuat jantung Zara tiba-tiba  berdebar.

Bener-bener engga adil, kenapa laki-laki bisa terlihat indah? lamun Zara.

“Kamu kesini untuk makan atau merhatiin gue?” tegur Dafa tanpa mengangkat wajah. Membuat Zara sontak mengejap kaget dan rasa panas perlahan merambati wajahnya. Tepergok mengamati laki-laki itu membuatnya jadi malu sendiri. Gadis itu kemudian memejamkan mata rapat-rapat sembari menggeleng dengan harapan pikiran-pikiran mengerikan itu segera sirna dari kepalanya.

Duduk berdekatan dengan Dafa bukanlah hal yang menyenangkan. Membuat tubuh Zara menjadi kaku sekaku lidi, namun entah mengapa laki-laki itu selalu saja muncul di hadapannya secara tiba-tiba.

Zara menjadi salah tingkah. Kepalanya celingukan ke kanan dan ke kiri seperti sedang mencari teman yang akan menolongnya dari kesulitan.

“Kenapa?” tanya Dafa risi. Meski ia tidak bertatapan langsung dengan mata gadis itu, ia masih bisa merasakan gerak gerik tubuh Zara. Dan itu menganggu.

Zara tidak langsung menjawab. Ia mengerutkan kening, menyipitkan mata dengan curiga kemudian menanggapi dengan ketus, “Kenapa kakak malah duduk di sini? Bukannya masih tersedia bangku yang kosong? Lagipula, aku udah tag bangku itu untuk temanku.”

Pertanyaan bernada ketus itu rupanya membuat Dafa agak terkejut. Gerakan tangannya terhenti beberapa saat ketika ia sudah siap menyeruput kuah bakso ke dalam mulut. Namun laki-laki itu memilih diam, tidak menanggapi. Sengaja tidak mengindahkan seolah tidak mendengar.

Dan keheningan pun kembali tercipta. Zara tetap dalam posisi canggungnya sementara Dafa masih dengan tekun menyantap bakso berkuah pedas itu.

Sejurus kemudian, mangkuk bakso telah kosong tak bersisa. Dafa bangkit dari duduk dan segera berlalu tanpa kata. Meninggalkan Zara yang masih bertanya-tanya. Sikap Dafa yang aneh, membuat Zara bingung sekaligus sebal.

Zara menyuap Dim Sum ke dalam mulut kuat-kuat sebagai luapan kekesalannya. Bunyi pantulan sendok yang mengenai giginya pun terdengar nyaring. “Auuu!” rintihnya kesakitan. Tangannya pun sontak melepas sendok dan segera memegang mulutnya yang terasa ngilu.

“Zara!” Zara mendengar suara nyaring itu. Ia menoleh tak bersemangat, menatap Raya yang tengah berlari-lari kecil menuju ke arahnya. “Itu barusan kak Dafa ya?” tanya Raya dengan mata melebar takjub.

Zara mengangguk-anggukkan kepala tanpa suara, masih dengan gigi yang ngilu terkena sendok. Sikap Raya yang bersemangat seperti baru saja bertemu artis pujaannya sama sekali tidak digubris oleh Zara. Meskipun bukan fanatik, Raya adalah pengagum Dafa.

“Ngapain dia di sini?” tanya Raya lagi. Matanya kembali menyorot punggung Dafa yang terlihat semakin jauh dari pandangan.

“Memangnya sekarang loe lagi dimana?” balas Zara ketus. “Ini kan kantin.”

Ckckck, Raya mendecakkan lidah keheranan. “Gue cuma tanya kali, kenapa ketus gitu jawabnya?” balasnya sembari duduk di depan Zara.

Zara mulai menyuap sepotong Dim Sum ke dalam mulut, perlahan, setelah beberapa menit makananannya sempat diabaikan.

“Maksud gue, ngapain dia duduk di depan loe, sayang?” ujar Raya mengoreksi pertanyaannya.

“Ya makanlah.” seru Zara dengan nada tak acuh. “Jangan bilang loe cemburu ya?” ledeknya dengan mata menyipit menyelidik.

“Cih,” Raya memaksakan tawa sumbang. “Bukan hal yang umum melihat kak Dafa makan bersama orang lain selain dengan teman-teman seangkatannya. Dia kaku dan cuek. Kalau bicarapun seperlunya aja. Gue bahkan engga pernah lihat dia senyum, apalagi tertawa.”

“Ya, dan kalaupun dia tersenyum, senyumnya terlihat… aneh.” timpal Zara sembari mengingat kembali kejadian tadi pagi. “Mungkin karena dia engga pernah melatih otot-otot wajahnya untuk tersenyum.”

“Dan mungkin aja kalau dia tersenyum, dia bisa kena stroke ringan atau semacamnya.” canda Raya sembari memiringkan bibir menirukan orang stroke.

Dan keduanya pun terkekeh geli.

Di Bawah Payung yang Sama (1)

fe7be9d78715382b08a240cc51b9af72

Sometimes out my window
I notice that you’ve been crying over him
And i wonder why you just don’t
Kick him to the curb
Instead of giving in

Beberapa petikan kalimat lagu Shayne Warde menggema di telinga Zara. Mengusir sedikit rasa cemas yang melesak di dalam dadanya. Beberapa kali ia melihat jam di tangan yang melingkari pergelangan tangannya. Ia berharap Tuhan memberinya sedikit keringanan di pagi ini. Wajib hadir di kelas dalam waktu kurang dari lima belas menit atau dosen tidak membiarkannya masuk.

Ia memberengut, duduk termangu seraya bertopang dagu pada lutut. Menunggu hujan reda di bawah jembatan fly over di seberang kampus dengan bosan. Sepasang matanya memandang resah pada setiap butiran hujan yang berjatuhan membasahi jalan. Dan sebagai catatan, Zara sangat tidak menyukai suasana lembab dan udara dingin yang mulai menembus sweater-nya.

Zara kembali melirik jam di tangannya. Ekspresi wajahnya semakin memberengut ketika mendapati sepatu putihnya kotor saat mengejar bus di halte dekat rumah. Ia mengeluarkan secuil tissue dari dalam tas lalu membersihkan sepatunya yang kotor terkena bercak tanah.

“Cakep! Belum cukup gue terjebak di bawah jembatan mengerikan ini dan sekarang sepatu gue kotor.” Zara menggerutu.

“Ngapain?”

Gerakan tubuh Zara tertahan. Ia tertegun. Menatap sepasang sepatu hitam kecokelatan yang kini berdiri di depannya. Ia lalu mengarahkan matanya perlahan, memperhatikan seseorang berkaki jenjang di depannya dari ujung kaki sampai ujung kepala.

Gadis berkulit putih itu refleks mengerutkan dahi ketika melihat pemuda berkaki jenjang itu berdiri menatapnya dengan payung bermotif garis di sebelah tangan. Pemuda berkulit sawo matang dan berhidung macung itu tersenyum samar, nyaris tak terlihat di wajahnya. Zara mengenali wajah itu. Pemuda itu bernama Dafa Yahuza. Seniornya di kampus.

“Butuh payung?” Zara mendengar pemuda itu bertanya dengan ekspresi wajah datar.

“A…” Mulut Zara terbuka lebar, namun tak ada sepatah kata pun yang keluar. Ia tampak berat menggerakkan bibirnya. Alisnya terangkat tinggi. Tangannya pun perlahan melepas earphone yang menggantung di telinga.

Aneh, pikirnya. Pemuda yang berdiri di depannya dan sedang menatapnya memang Dafa, tapi… untuk apa dia menyapa Zara? Bukankah mereka tidak pernah bertegur sapa sebelumnya. Lalu apa istimewanya hari ini dengan hari-hari sebelumnya? Lagi pula mereka berdua bisa dikatakan sebagai orang asing yang tidak pernah berkenalan secara langsung.

“Kenapa? Kayak liat hantu aja.”

Zara memaksakan bibirnya melengkung membentuk senyum. Sungguh ia benar-benar canggung. Sosok Dafa yang tinggi tegap, berkulit kecokelatan dan berkacamata memang memesona. Tidak sedikit para gadis yang meliriknya ketika ia sedang berjalan sendiri atau bersama teman-teman seangkatannya.

Zara menolak jika ia disebut sebagai salah satu gadis yang mengagumi Dafa, meskipun ia sendiri tidak bisa memungkiri jika hatinya memang berdebar setiap kali bertemu Dafa. Secara fisik dan karakter, Dafa memang mencerminkan sosok lelaki sejati. Ia tampan, tegap dan ya, tidak banyak bicara.

Zara menerima ajakan itu. Ia kini berjalan sejajar dengan Dafa. Keduanya berada di bawah payung yang sama. Sesekali pandangannya beralih menatap wajah Dafa yang tampak tenang memandang ke depan. Dan ia baru menyadari bahwa pemuda di sampingnya itu sangat tinggi. Tinggi badan Zara berhenti di angka 155 cm. Dan tinggi badannya tidak melebihi bahu Dafa yang tegap.

Kemudian, keduanya sudah tiba di lobi kampus. Dafa segera menutup payungnya dan memberikannya pada security yang berjaga di sana.

“Pak, nitip ya. Nanti sore saya ambil.” pesan Dafa pada pak Manto, seorang security yang sangat ramah dan bersahabat dengan para mahasiswa di sana.

Pak Manto pun menganggukkan kepala. Ia tersenyum kepada Dafa. Dafa pun tersenyum sekadarnya dan berlalu. Untuk pertama kalinya Zara melihat laki-laki itu tersenyum. Ya, aneh memang. Cemooh Zara dalam hati.

“Kak, terima kasih.” Ucap Zara sebelum laki-laki itu benar-benar pergi meninggalkan lobi.

Dafa hanya mengangkat sebelah tangan tanpa menoleh ke belakang. Seolah pemuda itu malas menanggapi.

Melihat respon itu, “Cih,” Zara mendesis dengan nada mencela.

Indah melalui Mimpi

Pembahasan kali ini mengacu pada sebuah pantai. Ya, pantai. Apa yang pertama kali terlintas dalam benak kalian tentang pantai? Ombak? Air laut yang asin? atau pasir yang putih berkilau? Suatu pagi saya bermimpi. Saya berdiri di atas bebatuan di bibir pantai. Airnya biru jernih dan hangat. Saking jernihnya, sampai saya bisa melihat bayangan diri saya sendiri di sana. Hangatnya air bersumber dari kilau matahari yang menjaga suhu air tersebut agar tetap hangat. Pasir yang menempel di kaki saya pun berwarna putih berkilau. Karena takjub, saya menggapainya dan merasakan kelembutan menyentuh permukaan jemari saya. Indah. Bahkan kata indah pun tak cukup untuk mendiskripsikannya. Pantai dalam mimpi saya itu begitu sunyi. Air lautnya pun sangat tenang, tak ada ombak sama sekali. Dan ketika itu, mata saya disilaukan oleh cahaya matahari yang sebentar lagi akan kehilangan sinarnya karena berangsur tenggelam. 

Beautiful-Beach-Sunset-Wallpaper-1600x1200

Jujur saya tidak mengerti arti mimpi tersebut. Saya terlalu takjub untuk mendefinisikannya dalam sebuah kalimat. Juga saya bukanlah seseorang yang cukup sering diperlihatkan mimpi-mimpi indah seperti itu. Oleh karena itulah mengapa mimpi ini begitu berkesan. Kau tak akan pernah menemukan pantai yang indah dan sunyi seperti itu di belahan dunia manapun. Dan itulah yang membedakan dunia dengan mimpi. Dunia ini terbatas, sementara mimpi tidak. Kau bisa terbang meski tanpa sayap di dalam mimpi. Sedangkan untuk mewujudkannya di dunia, kau membutuhkan seperangkat teknologi canggih untuk membuat itu terjadi.